Pemkot Semarang Cegah Kenakalan Remaja Lewat RDRM, Mbak Ita; Kami Sediakan Banyak Psikolog

Kompas.com - 28/11/2024, 20:53 WIB
Dwi NH,
Mikhael Gewati

Tim Redaksi

Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu saat mendampingi pertemuan remaja dengan orangtua pelajar untuk penyampaian komitmen di Mapolrestabes Semarang, Kamis (28/11/2024).DOK. Humas Pemkot Semarang Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu saat mendampingi pertemuan remaja dengan orangtua pelajar untuk penyampaian komitmen di Mapolrestabes Semarang, Kamis (28/11/2024).

KOMPAS.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menunjukkan komitmennya untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan generasi muda.

Salah satu langkah yang diambil adalah fokus pada pembinaan pelajar guna mencegah kenakalan remaja dan perilaku tawuran yang kerap meresahkan masyarakat.

Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu menegaskan pentingnya pendekatan yang menyeluruh dalam menangani masalah tersebut.

Pernyataan tersebut disampaikan Mbak Ita, sapaan akrabnya, dalam sebuah pertemuan dengan Markas Polisi Resor Kota Besar (Mapolrestabes) Semarang, Kamis (28/1/20241).

Baca juga: Polisi Tangkap 3 Pelaku Tawuran yang Tewaskan Remaja di Pontianak

Ia mengungkapkan bahwa Pemkot Semarang berkomitmen untuk tidak hanya menanggapi peristiwa tawuran, tetapi juga memahami akar penyebab kenakalan remaja yang terjadi.

"Kami percaya, anak-anak kita pada dasarnya baik. Namun, mungkin ada salah pergaulan atau kurang perhatian, baik dari lingkungan rumah maupun sekitarnya,” ujar Mbak Ita dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (28/11/2024).

Oleh karena itu, lanjut dia, Pemkot Semarang berupaya hadir untuk memberikan perhatian khusus dan mendampingi anak-anak yang terlibat dalam aksi tawuran untuk mengurai penyebab permasalahan mereka.

Salah satu program unggulan yang dihadirkan Pemkot Semarang adalah Rumah Duta Revolusi Mental (RDRM), yang berfungsi sebagai ruang konsultasi bagi anak-anak dan orangtua. Program ini menyediakan layanan psikologis dan dukungan dari berbagai dinas terkait.

Baca juga: Puan Maharani Minta Prioritaskan Pemulihan Psikologis Anak Pengungsi Lewotobi

Dinas terkait yang dimaksud, yaitu Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A).

“Di RDRM, kami menyediakan banyak psikolog yang siap membantu dan privasi Anda tetap terjaga. Tidak perlu takut untuk datang dan berkonsultasi. Kami ingin memastikan bahwa anak-anak, yang merupakan harapan bangsa, dapat kembali meraih masa depan yang cerah,” tutur Mbak Ita.

Ia mengatakan bahwa Pemkot Semarang juga ingin memastikan bahwa anak-anak, yang merupakan harapan bangsa, dapat kembali meraih masa depan yang cerah.

Kolaborasi lintas sektor

Selain pembinaan langsung kepada pelajar, Mbak Ita menekankan pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak dalam menyelesaikan masalah kenakalan remaja.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Polisi Resor Kota Besar (Kapolrestabes) Semarang Komisaris Besar (Kombes) Irwan Anwar menyoroti perlunya sinergi antara pihak kepolisian, Pemkot Semarang, sekolah, dan keluarga.

"Mungkin perlu adanya kolaborasi menyeluruh antara kami (Polrestabes) dan Pemkot Semarang, bukan hanya untuk melihat sebuah peristiwa, tetapi untuk memahami penyebab di balik terjadinya peristiwa tersebut," ujarnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Kesbangpol Kota Semarang Joko Hartono mengatakan bahwa analisis individual sangat diperlukan untuk memahami penyebab permasalahan yang mendalam.

Baca juga: Polisi Tangkap 3 Pelaku Tawuran yang Tewaskan Remaja di Pontianak

Kenakalan remaja, terutama di kalangan usia 13-17 tahun, sering kali berhubungan dengan masalah seperti putus sekolah, kurang perhatian orangtua, dan latar belakang keluarga yang tidak harmonis.

Pemkot Semarang berkomitmen untuk menggali setiap kasus secara lebih dalam dan memberikan solusi yang tepat sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Semarang Joko Hartono menegaskan pentingnya pemahaman mendalam terhadap kondisi setiap anak yang terlibat dalam aksi tawuran.

“Mayoritas anak-anak yang terlibat ini berusia 13-17 tahun. Penyebab umumnya adalah putus sekolah, kurang perhatian orangtua, atau berasal dari keluarga yang tidak harmonis. Kami akan menggali lebih dalam setiap kasus untuk menentukan langkah pembinaan yang tepat,” jelasnya.

Baca juga: Mendikdasmen Akan Koordinasi dengan Menag, Bahas Pembinaan Guru Agama

Dengan pendekatan tersebut, lanjut dia, Pemkot Semarang berharap dapat menurunkan angka kenakalan remaja dan menciptakan generasi yang lebih berprestasi dan berkarakter.

Bagi lulusan yang belum memiliki kesibukan, Pemkot Semarang juga berkoordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja untuk memberikan pelatihan keterampilan kerja, sebagai salah satu solusi untuk mengurangi potensi masalah sosial di masa depan.

Dukungan dari Dinas Pendidikan

Dinas Pendidikan Kota Semarang pun menunjukkan dukungannya melalui program pendidikan formal dan non-formal.

Anak-anak yang putus sekolah akan difasilitasi untuk mengikuti program Kejar Paket A dan B, serta mendukung siswa yang ingin menyelesaikan pendidikan mereka meskipun menghadapi kesulitan.

Sebagai bagian dari langkah preventif, Pemkot Semarang juga menekankan pentingnya pendidikan karakter di semua jenjang pendidikan, dari pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga pendidikan menengah, untuk menanamkan pondasi yang kuat bagi generasi muda.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Semarang Bambang Pramusinto menegaskan bahwa usia 0-6 tahun adalah periode emas untuk membangun karakter positif pada anak.

“Kami terus mengarahkan pembinaan guru agar pendidikan karakter menjadi bagian integral dalam pembelajaran. Ini bertujuan agar siswa memiliki fondasi yang kokoh untuk menghadapi jenjang pendidikan berikutnya,” ucapnya.

Baca juga: Bagaimana Metode Pengajaran Matematika di PAUD? Ini Jawabannya

Selain itu, Pemkot Semarang juga menggandeng berbagai pihak terkait, seperti DP3A, Kesbangpol, dan Dinas Sosial, untuk menangani masalah seperti bullying, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga anak yang putus sekolah.

Dukungan lintas sektor tersebut diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak-anak serta membentuk generasi muda yang siap menghadapi tantangan masa depan.

Terkini Lainnya
Apresiasi Pegiat Pendidikan Nonformal, Wali Kota Semarang Salurkan Bisyaroh kepada 6.572 Penerima
Apresiasi Pegiat Pendidikan Nonformal, Wali Kota Semarang Salurkan Bisyaroh kepada 6.572 Penerima
Semarang
Pastikan Ketersediaan Bahan Pokok dan Arus Mudik Lancar, Walkot Semarang Tinjau Sejumlah Titik
Pastikan Ketersediaan Bahan Pokok dan Arus Mudik Lancar, Walkot Semarang Tinjau Sejumlah Titik
Semarang
Sesuai Janji Kampanye, Dana Operasional Rp 25 Juta untuk RT di Kota Semarang Dicairkan Juli 2025
Sesuai Janji Kampanye, Dana Operasional Rp 25 Juta untuk RT di Kota Semarang Dicairkan Juli 2025
Semarang
Antisipasi Longsor saat Libur Lebaran, Pemkot Semarang Instruksikan Lurah Tingkatkan Kewaspadaan
Antisipasi Longsor saat Libur Lebaran, Pemkot Semarang Instruksikan Lurah Tingkatkan Kewaspadaan
Semarang
Walkot Semarang Tegaskan Alokasi APBD di Kecamatan Tak Disunat, tapi Dialihkan untuk Hal Lebih Penting
Walkot Semarang Tegaskan Alokasi APBD di Kecamatan Tak Disunat, tapi Dialihkan untuk Hal Lebih Penting
Semarang
Pemkot Semarang Alihkan Anggaran untuk Beasiswa, Walkot Agustina: Pendidikan Harus Merata
Pemkot Semarang Alihkan Anggaran untuk Beasiswa, Walkot Agustina: Pendidikan Harus Merata
Semarang
Semarang Inklusif Kian Nyata, BRT Trans Semarang Tambah Fasilitas Disabilitas
Semarang Inklusif Kian Nyata, BRT Trans Semarang Tambah Fasilitas Disabilitas
Semarang
Kota Semarang Raih Penghargaan dari Setara Institute, Walkot Agustina: Jadi Penyemangat Wujudkan Kota Inklusif
Kota Semarang Raih Penghargaan dari Setara Institute, Walkot Agustina: Jadi Penyemangat Wujudkan Kota Inklusif
Semarang
Peduli Hak Penyandang Disabilitas, Pemkot Semarang Mulai Pembangunan Rumah Inspirasi
Peduli Hak Penyandang Disabilitas, Pemkot Semarang Mulai Pembangunan Rumah Inspirasi
Semarang
Walkot Semarang Bebaskan Retribusi Ruang Publik, Warga Bisa Gunakan Kantor Kecamatan dan Kelurahan Gratis
Walkot Semarang Bebaskan Retribusi Ruang Publik, Warga Bisa Gunakan Kantor Kecamatan dan Kelurahan Gratis
Semarang
Walkot Semarang Agustina Segera Cairkan Bantuan Rp 25 Juta per RT dan Dana PKK
Walkot Semarang Agustina Segera Cairkan Bantuan Rp 25 Juta per RT dan Dana PKK
Semarang
Cek Kondisi Banjir Genuk, Walkot Agustina: Penanganan Banjir Akan Jadi Prioritas Nomor Satu
Cek Kondisi Banjir Genuk, Walkot Agustina: Penanganan Banjir Akan Jadi Prioritas Nomor Satu
Semarang
Jelang Idul Fitri, Walkot Semarang Agustina Jamin Stok Pangan Cukup dan Harga Stabil
Jelang Idul Fitri, Walkot Semarang Agustina Jamin Stok Pangan Cukup dan Harga Stabil
Semarang
100 Hari Kerja, Wali Kota Semarang Agustina Gandeng Sekolah Swasta Berikan Beasiswa di SPMB 2025
100 Hari Kerja, Wali Kota Semarang Agustina Gandeng Sekolah Swasta Berikan Beasiswa di SPMB 2025
Semarang
Agustina-Iswar Luncurkan Program 100 Hari Pertama, Ini Tiga Prioritasnya
Agustina-Iswar Luncurkan Program 100 Hari Pertama, Ini Tiga Prioritasnya
Semarang
Bagikan artikel ini melalui
Oke