Aktivasi Taman 24 Jam, Ruang Interaksi Sosial di Tengah Hiruk Pikuk Jakarta

Kompas.com - 01/08/2025, 09:00 WIB
DWN

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com – Tak seperti biasanya, saat tengah malam, lampu penerangan Taman Lapangan Banteng, Jakarta Pusat tetap terang benderang. Beberapa kelompok masyarakat dan komunitas larut menikmati suasana malam di ruang terbuka hijau (RTH). Fungsi taman kini berkembang, selain tempat interaksi sosial, juga ruang segar untuk melepas penat di tengah hiruk pikuk Kota Jakarta.

Itulah wajah baru Jakarta masa kini, di mana lima RTH telah dibuka 24 jam, yaitu Taman Lapangan Banteng, Taman Menteng, Taman Ayodya, Taman Langsat, dan Taman Literasi Marta Christina Tiahahu. 

Kebijakan ini merupakan inisiatif dari Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang disahkan pada Jumat (16/5/2025). Ia berharap kebijakan ini bisa mendukung fungsi RTH sebagai taman yang inklusif bagi seluruh warga Jakarta. Menurutnya, taman kota tak hanya soal ruang hijau dan estetika, tapi juga bisa digunakan warga untuk menggelar berbagai kegiatan positif hingga malam hari. 

“Saya gembira melihat animo masyarakat yang luar biasa dalam menyambut aktivasi taman 24 jam. Jakarta tak lagi hanya memiliki pusat perbelanjaan, tapi juga taman sebagai tempat warga berinteraksi, bersilaturahmi, dan berbagi ruang,” kata Pramono, seperti dikutip dari Jakarta.go.id, Jumat (16/5/2025)

Ia berharap, seluruh wilayah Jakarta nantinya memiliki akses taman 24 jam jika memenuhi standar kesiapan fasilitas. Pemerintah Provisi (Pemprov) DKI Jakarta siap menjalin kolaborasi inovatif dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk sektor swasta dan komunitas.

Baca juga: Kecamatan Ciledug Libatkan Komunitas Lingkungan untuk Tangani Masalah Sampah di Jalan

"Selain taman, ada juga perpustakaan dan nantinya museum yang kami rencanakan (buka 24 jam). Nanti juga akan ada aktivitas yang kami siapkan agar semakin banyak ruang bagi warga Jakarta untuk mengekspresikan diri,” jelasnya.  

Terkait keamanan, Pramono mengatakan, di kawasan taman 24 jam telah dipasang CCTV yang bisa dipantau oleh petugas keamanan. Ia juga berjanji akan meningkatkan keamanan taman.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung secara resmi membuka aktivasi lima taman selama 24 jam. Foto: Malik Maulana Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung secara resmi membuka aktivasi lima taman selama 24 jam.

Sementara itu, Kepala Pusat Data dan Informasi Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Ivan Murcahyo mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk meningkatkan pengawasan taman dengan melakukan pendataan sesuai zona dan jadwal kegiatan.

“Masyarakat yang ingin berkegiatan atau aktivitas di taman akan didata dan disesuaikan jadwal sesuai zona areanya. Hal ini untuk mempermudah pemantauan dan pengaturan. Kami juga akan melibatkan berbagai unsur wilayah, seperti wali kota, RT, RW, dan warga sekitar untuk pengawasan,” papar Ivan.

Respons positif langsung datang dari masyarakat, salah satunya komunitas Ayo ke Taman. Co-founder Ayo ke Taman, Niken Prawestiti, menyebut kebijakan taman 24 jam sebagai terobosan penting. “Taman terbuka untuk semua dan beragam kegiatan positif. Ini penting, termasuk untuk para pekerja yang ingin bersantai setelah jam kantor. Mereka kini punya pilihan lain selain mal,” urainya seperti diwartakan Kompas.id beberapa waktu lalu.

Niken berharap, dengan dibukanya taman 24 jam, pemerintah juga memperhatikan RTH sebagai kombinasi ruang sosial dan pelestarian alam. Sebab, taman tidak melulu untuk kebutuhan manusia, tapi juga ruang penyegaran bagi kota yang dapat mengurangi polusi udara.

Baca juga: Polusi Udara Ancam Kesehatan Anak, Kemenkes Ingatkan Orang Tua Lebih Waspada

“Masyarakat perlu didorong agar lebih banyak berkegiatan di taman agar kebutuhan terhadap alam meningkat dan pada akhirnya lebih banyak taman yang dibangun,” ujarnya.

Niken menambahkan, aksesibilitas juga harus menjadi perhatian. Ia berharap pemerintah memperbaiki jalur pejalan kaki yang menghubungkan taman dengan transportasi publik, juga menambah fasilitas dasar, seperti toilet, tempat sampah, hingga petugas yang berjaga aktif.

Respons positif juga datang dari akademisi dan dosen perencanaan wilayah dan kota dari Universitas Indonesia (UI), Hendricus Andi Simarmata. Ia menilai taman 24 jam cocok dengan wajah Jakarta sebagai kota metropolitan yang tak pernah tidur.

“Pembukaan taman 24 jam akan memberikan ruang bagi pekerja yang ingin istirahat dari hiruk pikuk aktivitas hariannya,” kata Hendricus saat diwawancarai Kompas TV.

Terlebih, lanjut Hendricus, aktivitas ekonomi di Jakarta juga tak pernah berhenti, sejak pagi hingga malam hari. Jadi, taman bisa jadi opsi untuk istirahat.

Baca juga: Alasan Pedagang Tetap Bertahan di Pasar Taman Puring Meski Sepi Pengunjung

“Jakarta adalah kota dengan aktivitas sosial dan ekonomi yang berjalan 24 jam. Taman bisa jadi pilihan sebagai ruang untuk berkumpul yang dapat menurunkan tensi sosial di sekitarnya,” jelas Hendricus.

Meski demikian, menurutnya, ada hal yang perlu diperhatikan dari aktivasi taman 24 jam, terutama sisi keamanan. Perlu pengawasan ketat dari petugas agar taman tetap kondusif. (Rindu Pradipta Hestya)

Terkini Lainnya
Menuju Kota Global, Pemprov DKI Perkuat Infrastruktur dan Daya Saing Jakarta

Menuju Kota Global, Pemprov DKI Perkuat Infrastruktur dan Daya Saing Jakarta

Jakarta Maju Bersama
Ringankan Biaya Hidup Warga, Pemprov DKI Perluas Manfaat Kartu Pekerja

Ringankan Biaya Hidup Warga, Pemprov DKI Perluas Manfaat Kartu Pekerja

Jakarta Maju Bersama
Layanan Kesehatan Kini Hadir Lebih Dekat ke Warga Jakarta 

Layanan Kesehatan Kini Hadir Lebih Dekat ke Warga Jakarta 

Jakarta Maju Bersama
Jawab Kebutuhan Industri, Pemprov DKI Perkuat Pelatihan Kerja Warga

Jawab Kebutuhan Industri, Pemprov DKI Perkuat Pelatihan Kerja Warga

Jakarta Maju Bersama
Sekolah Swasta Gratis Dobrak Sekat Pendidikan di Jakarta

Sekolah Swasta Gratis Dobrak Sekat Pendidikan di Jakarta

Jakarta Maju Bersama
DLH Jakarta Ajak Warga Bergerak Bersama Lewat #SatuLangkahDulu demi Udara Ibu Kota Lebih Bersih

DLH Jakarta Ajak Warga Bergerak Bersama Lewat #SatuLangkahDulu demi Udara Ibu Kota Lebih Bersih

Jakarta Maju Bersama
Antisipasi Curah Hujan Ekstrem, Pemprov DKI Perkuat Infrastruktur Pengendali Banjir

Antisipasi Curah Hujan Ekstrem, Pemprov DKI Perkuat Infrastruktur Pengendali Banjir

Jakarta Maju Bersama
Dari Hulu ke Hilir, Pemprov DKI Perkuat Sistem Pengelolaan Sampah Terintegrasi

Dari Hulu ke Hilir, Pemprov DKI Perkuat Sistem Pengelolaan Sampah Terintegrasi

Jakarta Maju Bersama
Jumlah RW Kumuh Turun 52 Persen, Pemprov DKI Gelontorkan Rp 1,9 Triliun untuk Penataan

Jumlah RW Kumuh Turun 52 Persen, Pemprov DKI Gelontorkan Rp 1,9 Triliun untuk Penataan

Jakarta Maju Bersama
KJP dan KJMU Diperkuat, Anak Jakarta Bisa Sekolah hingga Kuliah

KJP dan KJMU Diperkuat, Anak Jakarta Bisa Sekolah hingga Kuliah

Jakarta Maju Bersama
Dari Seni Jalanan, Ketahanan Pangan, hingga Pengelolaan Stadion, Ini Hasil Kunjungan Kerja Rano Karno di Milan

Dari Seni Jalanan, Ketahanan Pangan, hingga Pengelolaan Stadion, Ini Hasil Kunjungan Kerja Rano Karno di Milan

Jakarta Maju Bersama
Pilah dari Sumber, Cara Jakarta Keluar dari Darurat Sampah 

Pilah dari Sumber, Cara Jakarta Keluar dari Darurat Sampah 

Jakarta Maju Bersama
Ringankan Beban TPST Bantargebang, DLH Jakarta Optimalisasi RDF Plant Rorotan

Ringankan Beban TPST Bantargebang, DLH Jakarta Optimalisasi RDF Plant Rorotan

Jakarta Maju Bersama
RDF Plant Dinilai Tepat Atasi Sampah Jakarta, Residu Diolah Jadi Bahan Bakar Industri

RDF Plant Dinilai Tepat Atasi Sampah Jakarta, Residu Diolah Jadi Bahan Bakar Industri

Jakarta Maju Bersama
Ahli Lingkungan ITB: RDF Plant Solusi Paling Sesuai untuk Atasi Sampah Jakarta

Ahli Lingkungan ITB: RDF Plant Solusi Paling Sesuai untuk Atasi Sampah Jakarta

Jakarta Maju Bersama
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com