JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta serius mengatasi masalah pengangguran. Salah satunya dengan rutin menggelar Jakarta Job Fair di tingkat kecamatan. Kegiatan ini membuka seluas-luasnya akses bagi para pencari kerja yang jumlahnya terus bertambah.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menegaskan, menurunkan angka pengangguran adalah salah satu program 100 hari pertamanya bersama Gubernur Pramono Anung. Ia menyebut Jakarta Job Fair merupakan langkah nyata Pemprov DKI dalam membuka akses lapangan kerja yang layak, produktif, dan berkelanjutan bagi warga.
“Alasan job fair digelar di setiap kecamatan cukup sederhana, karena wilayah industri berada di sekitar kecamatan. Program ini berfokus pada penciptaan lapangan kerja, penguatan program padat karya, serta memastikan tidak ada warga yang tertinggal dalam proses pembangunan,” kata Rano, seperti dikutip dari jakarta.go.id, Selasa (15/4/2025).
Jakarta Job Fair diadakan di beberapa lokasi, seperti gelanggang olahraga (GOR), sekolah, kampus, hingga pusat perbelanjaan. Dalam satu event, setidaknya ada 40 perusahaan dengan ribuan lowongan pekerjaan.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno membuka secara seremoni acara Job Fair Jakarta Goes to Campus Universitas Trisakti pada 15-16 April 2025.Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi (DTKE) DKI Jakarta, Syaripudin mengatakan, Jakarta Job Fair diadakan untuk memfasilitasi para pencari kerja, termasuk lulusan baru, agar mendapat pekerjaan sesuai minat dan kompetensi. Tak hanya lowongan kerja di dalam negeri, tapi juga akses berkarya di luar negeri.
“Kami menggabungkan beberapa kecamatan menjadi satu klaster untuk menggelar job fair berskala besar. Dengan adanya job fair di tingkat kecamatan, diharapkan banyak warga mengakses peluang kerja tanpa harus mengeluarkan biaya transportasi tinggi,” jelas Syaripudin.
Baca juga: 17 Jurusan Kuliah dengan Peluang Kerja Tinggi di Indonesia
Sebagai informasi, Jakarta Job Fair telah diadakan beberapa kali sejak awal 2025. Pertama, di Tamini Square pada 26-27 Februari 2025 yang diikuti 40 perusahaan dengan kurang lebih 2.000 posisi atau lowongan. Lokasi ini mewakili wilayah klaster Jakarta Timur.
Selanjutnya, pada 29-30 April 2025, job fair diadakan di GOR Cilandak Barat dan GOR Pancoran untuk wilayah Jakarta Selatan. Sementara GOR Kemayoran dan GOR Johar Baru menjadi lokasi job fair klaster Jakarta Pusat yang diadakan pada 6-7 Mei 2025.
Untuk wilayah Jakarta Utara, job fair diadakan di Gedung Judo dan GOR Remaja pada 17-18 Juni 2025. Sedangkan di Kepulauan Seribu, diadakan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 61 Tidung pada 15-16 Mei 2025 dan diikuti oleh 15 perusahaan. Terkini, job fair diadakan di GOR Pasar Minggu dan Gelanggang Mahasiswa Soemantri Brodjonegoro pada 16-17 Juli 2025 untuk klaster kecamatan Jakarta Selatan.
Diapresiasi pengamat ketenagakerjaan
Pelaksanaan job fair dalam skala kecamatan disambut baik oleh pengamat ketenagakerjaan, Timboel Siregar. Ia mengapresiasi upaya pemerintah dalam menurunkan angka pengangguran di Ibu Kota. Menurutnya, job fair di tingkat kecamatan memudahkan masyarakat mengakses peluang kerja tanpa harus terkendala masalah transportasi.
“Upaya ini patut diapresiasi. Momen ini memudahkan pertemuan antara para pencari kerja dengan perusahaan yang membutuhkan. Ini adalah bentuk keterbukaan informasi pasar kerja yang dibutuhkan masyarakat,” kata Timboel kepada Kompas.com, Kamis (17/7/2025).
Baca juga: Guide dan Porter di Gunung Rinjani Ikut Pelatihan Rescue Vertical Evacuation
Ia menyarankan agar job fair dibarengi dengan pemberian pelatihan kepada para pencari kerja. Tujuannya, untuk meningkatkan kapasitas para pelamar agar mampu bersaing dan memenuhi kebutuhan perusahaan. Ia menilai sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas akan menjadi magnet besar bagi perusahaan.
“Ada baiknya jika Pemprov DKI Jakarta juga menyediakan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Di Jakarta, bidang jasa dan finansial paling banyak dibutuhkan. Jadi, mungkin pelatihannya bisa fokus pada layanan itu,” ujar Timboel. “Dengan SDM yang sudah matang, akan semakin banyak perusahaan atau investor yang tertarik untuk membuka lowongan kerja. Jadi, lingkarannya tetap berjalan. SDM ada, lowongan kerja ada.”
Ia memprediksi dari job fair, setidaknya bisa menyerap paling tidak 2,5 juta tenaga kerja per tahun. Ia berharap job fair tidak hanya menjadi event rutin saja, tetapi juga memberi solusi nyata bagi masyarakat dan dunia kerja
“Jakarta job fair harus difasilitasi dengan baik serta diadakan dengan akses dan lokasi yang mudah. Infrastruktur pekerjaannya juga harus siap, baik dari segi SDM maupun regulasi yang memudahkan perusahaan atau investor agar nyaman membuka lapangan kerja,” tutur Timboel. (Rindu Pradipta Hestya)