KOMPAS.com – Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana memasang target tinggi untuk sektor peternakan di wilayahnya, salah satunya melalui penyelenggaraan kontes ternak.
Kontes ternak, khususnya sapi, dinilai menjadi sarana memperkuat jaringan peternak sekaligus ajang untuk menampilkan kualitas hasil ternak mereka.
Saat meninjau kontes sapi di Lapangan Desa Wonorejo, Kecamatan Wates, Rabu (6/5/2026), bupati yang akrab disapa Mas Dhito itu mendorong kegiatan tersebut menjadi agenda rutin tahunan dengan skala yang lebih besar.
"Tahun depan harus bisa diselenggarakan lagi dengan euforia yang lebih besar. Harapan saya ini bisa jadi kontes ternak terbaik di Jawa Timur (Jatim)," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com.
Mas Dhito menyebut, populasi sapi di Kabupaten Kediri menunjukkan tren positif. Pada 2025, jumlah populasi sapi mencapai 216.886 ekor, naik dari 214.715 ekor pada 2024.
Dengan populasi yang mencapai ratusan ribu ekor, sektor peternakan dinilai memiliki peran penting dalam menopang program ketahanan pangan.
Baca juga: Kisah Haru Wanita Kediri Nekat ke Pati Tanpa Helm Demi Jemput Suami Sakit, Dibantu Polisi Nganjuk
Selain itu, Mas Dhito berharap potensi peternakan sapi di Kabupaten Kediri dan adanya kontes tahunan dapat menarik minat masyarakat serta melahirkan peternak-peternak baru.
“Sektor peternakan ini tidak melulu orang yang bergerak di bidang peternakan, tetapi bisa dilakukan secara otodidak atau yang punya kemampuan sungguh-sungguh. Ulet dan telaten kata kuncinya,” terangnya.
Adapun kontes sapi Kabupaten Kediri kembali digelar pada 2026 setelah sempat vakum selama tujuh tahun. Terakhir, ajang tersebut berlangsung pada 2019.
Salah satu penyebab vakumnya kegiatan itu adalah wabah penyakit mulut dan kuku (PMK), sehingga pemerintah daerah (pemda) harus menutup pasar hewan.
Untuk itu, ketersediaan vaksin perlu terus dijaga untuk mencegah wabah penyakit pada hewan ternak.
Acara yang digelar selama dua hari sejak Selasa (5/5/2026) itu terbagi dalam tiga kategori utama, yakni sapi peranakan ongole (PO), sapi hasil persilangan inseminasi buatan (IB), serta kategori kereman ekstrem.
Baca juga: Wabup Kediri: Konflik Perguruan Silat Mengancam Toleransi Bermasyarakat
Dari 134 peserta yang berasal dari 26 kecamatan, kelas ekstrem mencatat bobot sapi terberat mencapai 1 ton 214 kilogram (kg).