KOMPAS.com – Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana mengancam mencabut izin operasional penyedia layanan program Makan Bergizi Gratis ( MBG) menyusul dugaan keracunan yang menimpa sejumlah siswa di Kabupaten Kediri.
Langkah tegas itu disampaikan setelah enam siswa mendapatkan perawatan medis usai mengonsumsi makanan dari program MBG. Satu siswa telah diperbolehkan pulang dan menjalani rawat jalan, sedangkan lima lainnya masih dirawat karena kadar leukosit masih tinggi.
Bupati yang akrab disapa Mas Dhito itu mengatakan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri telah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) serta menghentikan sementara layanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem.
Selain itu, sampel sisa makanan juga telah dikirim ke laboratorium untuk mengetahui penyebab dugaan keracunan.
“Kalau dari hasil lab ternyata masih ada kandungan yang tidak baik, SPPG-nya belum boleh beroperasi,” kata Mas Dhito dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu (29/4/2026).
Hal itu disampaikan Mas Dhito seusai membesuk para siswa yang menjalani perawatan di RSUD Simpang Lima Gumul, Selasa (28/4/2026).
Baca juga: 12 Siswa SD di Deli Serdang Keracunan Usai Santap MBG, BGN: SPPG Kami Pastikan Tak Beroperasi
Dia menegaskan, Pemkab Kediri tetap akan melakukan evaluasi menyeluruh atas kejadian tersebut.
Khusus bagi SPPG yang tidak memenuhi persyaratan atau standar operasional prosedur (SOP), Pemkab Kediri akan mencabut Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
“Kalau tidak memenuhi itu (SLHS), ya kami cabut. Ini kasus pertama di kabupaten dan harapannya tidak ada lagi,” tegas Mas Dhito.
Untuk mencegah kejadian serupa terulang, Pemkab Kediri melalui Dinas Pendidikan meminta sekolah melakukan pengecekan makanan dari SPPG sebelum dikonsumsi siswa.
Baca juga: Belajar dari Kasus Balita Tewas di Kediri, Tidak Bolehkah Menitipkan Anak ke Neneknya?
Pengecekan diharapkan dilakukan di seluruh sekolah, baik negeri, swasta, maupun yang berada di bawah naungan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kediri.
Mas Dhito menilai langkah tersebut penting karena makanan diproduksi pada pagi hari, tetapi baru dikonsumsi saat siang hari.
Dengan kondisi wadah makanan tertutup rapat, bukan tidak mungkin terjadi hal yang tidak diinginkan dan membahayakan saat makanan disantap.
“Kemarin gurunya sebenarnya sudah mencicipi, cuma sudah ada beberapa makanan yang telanjur didistribusikan ke anak-anak,” ujar Mas Dhito.
Baca juga: Eksperimen Petasan dari Internet Meledak, Siswa SD di Kediri Terluka Parah