Warga Miskin Ekstrem Bertahan di Sekitar Aset BUMN, Pakar Soroti Mandeknya Reforma Agraria

Kompas.com - 22/12/2025, 12:25 WIB
DWN

Penulis

KOMPAS.com - Keberadaan kebun dan kawasan hutan milik negara yang dikelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Kabupaten Jember, Jawa Timur (Jatim), belum berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan warga di sekitarnya. Kondisi ini mencerminkan belum efektifnya pelaksanaan reforma agraria.

Pakar Kebijakan Publik Universitas Jember (Unej) Hermanto Rohman mengatakan masyarakat yang hidup di sekitar aset BUMN, seperti PT Perkebunan Nusantara III (Persero) atau PTPN dan Perum Perhutani masih lebih banyak diposisikan sebagai tenaga kerja, bukan sebagai subjek yang memiliki akses dan kendali atas lahan.

“Kalau pendekatannya hanya kemitraan atau bagi hasil, sangat sulit mengangkat masyarakat dari kemiskinan ekstrem,” ujar Hermanto kepada Kompas.com, Minggu (30/11/2025).

Mengutip Kompas.com, Jumat (19/12/2025), banyak warga di kawasan kebun dan hutan Jember menggantungkan hidup dari pekerjaan tidak tetap tanpa kepastian penghasilan maupun lahan garapan. Kondisi ini telah berlangsung secara turun-temurun.

Baca juga: Kasus Korupsi Jual Beli Aset PTPN 1, Jaksa Periksa Eks Bupati Deli Serdang

Salah satunya dialami Buniman (65), buruh harian lepas di PTPN I Regional 5 Kebun Silosanen, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo. Ia hanya memperoleh penghasilan ketika pekerjaan tersedia. Di luar itu, ia tidak memiliki sumber penghidupan lain.

Hal serupa dialami Saniman (65) yang bekerja serabutan sebagai pencari rumput atau buruh kebun. Keduanya tidak memiliki lahan sendiri, berbeda dengan sebagian warga lain di wilayah tersebut.

Menurut Hermanto, situasi ini menunjukkan bahwa pengelolaan lahan negara belum diarahkan untuk menyentuh akar persoalan kemiskinan. Padahal, dalam konsep reforma agraria, lahan negara seharusnya dimanfaatkan untuk mendukung kesejahteraan masyarakat sekitar.

Ia menilai, kemiskinan ekstrem di kawasan BUMN merupakan bentuk kemiskinan struktural, karena warga hidup berdampingan dengan aset negara, tetapi tidak memiliki akses ekonomi yang memadai.

Baca juga: Kejati Bengkulu Amankan Aset Negara Rp 1,4 Triliun Sepanjang 2025

“Negara harus hadir memastikan pengelolaan lahan juga berpihak pada warga miskin ekstrem, bukan hanya pada kepentingan produksi,” kata Hermanto.

Ia mendorong agar skema seperti perhutanan sosial diperluas, terutama di kawasan hutan. Melalui skema tersebut, masyarakat bisa memperoleh hak kelola yang lebih adil dan berkelanjutan.

Selain itu, Hermanto menyoroti belum optimalnya peran Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) di daerah. Padahal, GTRA memiliki mandat untuk mendata dan mengoordinasikan Tanah Objek Reforma Agraria (TORA), termasuk di kawasan permukiman kebun dan hutan.

"GTRA itu kan harapannya bisa memberikan aspek keadilan dan mencegah terjadinya yang namanya konflik agraria," katanya.

Baca juga: Status Kawasan Hutan Bikin Ribuan Desa Tertinggal, Bisa Picu Konflik Agraria

Menurut Hermanto, tanpa pendampingan dan peran aktif negara, masyarakat miskin akan kesulitan memahami prosedur maupun mengakses program yang tersedia.

“Kalau reforma agraria hanya berhenti di atas kertas, kemiskinan ekstrem akan terus tumbuh di atas tanah negara,” katanya.

Hermanto menilai kondisi tersebut mencerminkan paradoks agraria, ketika aset negara berdiri berdampingan dengan kemiskinan akut.

Tanpa perubahan pendekatan kebijakan, warga miskin ekstrem di kawasan kebun dan hutan Jember akan terus hidup dalam keterbatasan ekonomi serta kerentanan konflik agraria.

Terkini Lainnya
Pemkab Jember Serahkan Sertifikat Redistribusi Tanah bagi Warga Pinggir Hutan

Pemkab Jember Serahkan Sertifikat Redistribusi Tanah bagi Warga Pinggir Hutan

Jember Baru
Perkuat Sektor Pertanian, Pemkab Jember Fokus Perbaiki Infrastruktur dan Lindungi Petani

Perkuat Sektor Pertanian, Pemkab Jember Fokus Perbaiki Infrastruktur dan Lindungi Petani

Jember Baru
Bantu Warga Miskin Ekstrem, Reforma Agraria Jember Fokus Legalisasi Permukiman

Bantu Warga Miskin Ekstrem, Reforma Agraria Jember Fokus Legalisasi Permukiman

Jember Baru
Banyak Warga Miskin Ekstrem di Jember Tinggal di Lahan BUMN, Begini Kata Pakar Kebijakan Publik

Banyak Warga Miskin Ekstrem di Jember Tinggal di Lahan BUMN, Begini Kata Pakar Kebijakan Publik

Jember Baru
Kemiskinan Ekstrem di Jember, Akses Bantuan Terkendala Administrasi

Kemiskinan Ekstrem di Jember, Akses Bantuan Terkendala Administrasi

Jember Baru
Warga Miskin Ekstrem Bertahan di Sekitar Aset BUMN, Pakar Soroti Mandeknya Reforma Agraria

Warga Miskin Ekstrem Bertahan di Sekitar Aset BUMN, Pakar Soroti Mandeknya Reforma Agraria

Jember Baru
DPRD Jember Usulkan Kolaborasi Lintas Sektor untuk Pengentasan Kemiskinan Ekstrem di Lahan BUMN

DPRD Jember Usulkan Kolaborasi Lintas Sektor untuk Pengentasan Kemiskinan Ekstrem di Lahan BUMN

Jember Baru
Tiket Masuk Watu Ulo–Papuma Resmi Satu Pintu Mulai Januari 2026

Tiket Masuk Watu Ulo–Papuma Resmi Satu Pintu Mulai Januari 2026

Jember Baru
Penerbangan Jember–Bali Resmi Dibuka, Jember Mantapkan Diri sebagai Gerbang Ekonomi Tapal Kuda

Penerbangan Jember–Bali Resmi Dibuka, Jember Mantapkan Diri sebagai Gerbang Ekonomi Tapal Kuda

Jember Baru
Kementerian P2MI dan Pemkab Jember Kawal Pemulangan PMI dari Malaysia

Kementerian P2MI dan Pemkab Jember Kawal Pemulangan PMI dari Malaysia

Jember Baru
Program OPLAH 2025 Siap Jadikan Jember Lumbung Pangan Utama Jatim

Program OPLAH 2025 Siap Jadikan Jember Lumbung Pangan Utama Jatim

Jember Baru
Pemkab Jember Siapkan Pengiriman 20 Calon PMI ke Jepang dan Korea Selatan

Pemkab Jember Siapkan Pengiriman 20 Calon PMI ke Jepang dan Korea Selatan

Jember Baru
JFC 2025 Terbesar Sepanjang Sejarah, Bupati Jember: Tahun Depan Harus Lebih Megah

JFC 2025 Terbesar Sepanjang Sejarah, Bupati Jember: Tahun Depan Harus Lebih Megah

Jember Baru
Berkat Program Wadul Gus'e, Pemkab Jember Raih Penghargaan di Beritajatim Award 2025

Berkat Program Wadul Gus'e, Pemkab Jember Raih Penghargaan di Beritajatim Award 2025

Jember Baru
Terima Anugerah Puspa Bangsa, Ning Gyta: Saya Dedikasikan untuk Perempuan Tangguh di Jember

Terima Anugerah Puspa Bangsa, Ning Gyta: Saya Dedikasikan untuk Perempuan Tangguh di Jember

Jember Baru
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com