Ganjar Pranowo dan Kisah Orang-orang Jujur

Kompas.com - 09/12/2020, 20:19 WIB
A P Sari,
Mikhael Gewati

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Hari itu sedikit berbeda bagi Ganjar Pranowo. Dengan mengenakan sarung dan duduk lesean di rumah dinasnya, Senin (7/12/2020), ia asik bercengkrama dengan beberapa warga.

Dari raut wajahnya, nampak antusiasme yang menggelembung mendengar kompilasi cerita kejujuran heroik yang dilontarkan masing-masing pencerita.

Perkumpulan kecil yang sederhana itu dilakukan Ganjar dalam rangka peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) yang jatuh pada tanggal 9 Desember 2020.

Beberapa pencerita yang datang ke rumah orang nomor satu di Jawa Tengah itu beraneka-ragam rupa dan jenis pekerjaannya. Ada pemulung, pedagang sayur, tukang ojek online, sampai penghulu.

Baca juga: Naik Sepeda ke TPS, Ganjar Ikut Nyoblos Pilwakot Semarang

Kepada Gubernur Jawa Tengah itu, para warga menceritakan aksi-aksi bahaduri mereka yang membuat Ganjar terleka.

Cerita pertama datang dari Mulyadi (45), pengumpul rosok yang biasa menjelajah di daerah Kartasura, Sukoharjo. Ia sungguh tidak menyangka jika kejujurannya mengembalikan dompet cokelat yang ia pungut di jalan 2018 lalu dapat membawanya bertemu Ganjar.

Kepada Ganjar, ia berkisah mengenai pertemuan pertamanya dengan si dompet cokelat. Kala itu ia sedang sibuk mengais rosok sambil menambal jalan di Jalan Raya Solo-Semarang. Betapa kagetnya ia saat menemukan dompet gemuk berisi uang Rp 15 juta di dalamnya.

“Ketika saya buka, isinya merah-merah semua. Saya tunggu pemiliknya datang sampai maghrib,” celoteh Mulyadi. Ganjar mendengarkan dengan saksama.

Baca juga: Pilkada 2020, Ganjar Bakal Mencoblos di TPS 02 Gajahmungkur Semarang

Tak lama selepas itu si empu dompet kembali mencari barangnya yang hilang. Saat itulah Mulyadi mengembalikan harta karun tersebut.

“Banyak yang bilang saya bodoh, kenapa tidak diambil saja? Saya berpikir itu salah. Saya takut sama Gusti Allah. Mungkin orang yang punya juga sedang kesusahan dan sedang dalam keadaan mendesak. Selama ini juga saya tidak kekurangan rezeki, banyak orang yang membantu saya,” tutup Mulyadi.

Cerita kedua juga datang dari seorang pemulung. Tan Lek Hok Fuk (50) namanya. Orang-orang sering memanggilnya Kakek Afuk.

Kisah Kakek Afuk lebih mengharukan karena perjuangannya bersepeda dari Solo sampai Pasuruan untuk mengembalikan dompet seseorang.

Awal cerita Kakek Afuk dimulai saat ia sedang repot mengais rongsok di jalanan. Ia dikejutkan dengan adanya dompet tergeletak yang berisi Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). Dari detil KTP, Kakek Afuk tahu si empu dompet tinggal di Pasuruan.

Baca juga: Ganjar: Kalau Ada Korupsi Bansos di Jateng, Laporkan ke Saya Langsung

Dengan tekat kuat, ia menjual handphone miliknya untuk jadi modal biaya perbaikan sepeda. Niat kuat dari dalam hati Kakek Afuk-lah yang kemudian mengantarkannya ke rumah si empu untuk mengembalikan barang hilang tersebut.

Kemudian ada cerita ketiga, datang dari seorang pedagang sayur dan gorengan keliling bernama Widiyanti (33). Wanita asal Kebumen ini menemukan keresek hitam berisi segepok uang yang jatuh saat si empu mengendari sepeda motor.

Dengan sekuat tenaga, Widiyanti mengayuh sepedanya untuk menyusul si pemilik uang. Namun dirinya yang hanya bersepeda tak sanggup menyusul motor yang mengebut.

Ia pun tak kehabisan akal. Selepas tertinggal, Widyanti pergi ke kantor polisi untuk menyerahkan barang temuannya. Uang itu pun disebarkan lewat media sosial. Si pemilik datang dan mengambil uang tersebut.

Baca juga: Bupati Banjarnegara Terjun Langsung Perbaiki Jalan Rusak, Ganjar: Terima Kasih Sudah Peduli

“Sebenarnya saya ingin sekali membeli handphone dengan uang itu. Tapi ada rasa lega tersendiri ketika si pemilik menemukan kembali uangnya. Saya tidak mau macam-macam, takut sama Allah,” ungkap Widyanti.

Kisah-kisah andal lainnya pun beragam. Ada Dian Ramadhan, driver ojek online asal Purwokerto yang mengembalikan uang kelebihan sebesar Rp 100.000.

Lalu cerita dari penghulu asal Klaten bernama Abdurrahman Bakri yang tidak pernah menerima amplop.

Kemudian ada kisah Ernita Sihono yang lupa membayar pesanan ojek online dan kelimpungan ke sana-kemari mencari pengemudinya, serta kisah Muhsono dan Nur Azizah asal Wonosobo yang mengembalikan handphone serta dompet kepada pemiliknya.

Ganjar menyerap dengan khidmat semua cerita jujur dari orang-orang hebat tersebut.

Kepada mereka, Ganjar menyematkan piagam penghargaan dan gelar ‘Tokoh Teladan Kejujuran Jawa Tengah’.

Dalam piagam tersebut, terpatri tulisan ‘Balekke Yen Dudu Duweke’ (Kembalikan Jika Memang Bukan Milikmu), dibubuhi tanda-tangan Ganjar secara langsung.

Baca juga: 1,2 Juta Vaksin Tiba di Indonesia, Jateng Dapat 421.000, Ganjar: Prioritas Tenaga Kesehatan

Ganjar berseloroh, dirinya banyak mendengar kisah-kisah hebat dari masyarakat kecil. Ia mengaku ingin mendengar secara langsung dan mengundang mereka.

Menurutnya, banyak sekali cerita tentang kejujuran dan integritas yang bisa diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kepada orang-orang baik di luar sana, saya memberikan hormat setinggi-tingginya. Mari kita meniru!” tutupnya.

Terkini Lainnya
Tumbuh 5,89 Persen dan Lampaui Nasional, Kinerja Ekonomi dan Swasembada Pangan Jateng Panen Pujian

Tumbuh 5,89 Persen dan Lampaui Nasional, Kinerja Ekonomi dan Swasembada Pangan Jateng Panen Pujian

Jateng Gayeng
Gubernur Ahmad Luthfi Ajak Pengusaha China Garap Proyek EBT di Jawa Tengah

Gubernur Ahmad Luthfi Ajak Pengusaha China Garap Proyek EBT di Jawa Tengah

Jateng Gayeng
Tak Lagi Belajar di Rumah Warga, Anak-anak Lereng Merapi Kini Punya SMAN 1 Kemalang

Tak Lagi Belajar di Rumah Warga, Anak-anak Lereng Merapi Kini Punya SMAN 1 Kemalang

Jateng Gayeng
Resmikan Daycare di Ungaran, Gubernur Luthfi: Agar Buruh Kita Maksimal Bekerja

Resmikan Daycare di Ungaran, Gubernur Luthfi: Agar Buruh Kita Maksimal Bekerja

Jateng Gayeng
TPST BLE Banyumas Dipuji Prabowo, Jateng Siap Jadi

TPST BLE Banyumas Dipuji Prabowo, Jateng Siap Jadi "Role Model" Nasional Zero Sampah pada 2028

Jateng Gayeng
Jaga Kondusivitas Wilayah, Gubernur Luthfi Ajak Buruh Rayakan May Day dengan Kegiatan Konstruktif

Jaga Kondusivitas Wilayah, Gubernur Luthfi Ajak Buruh Rayakan May Day dengan Kegiatan Konstruktif

Jateng Gayeng
Lantik 27 Pejabat di Lingkungan Pemprov Jateng, Gubernur Luthfi Tegaskan Tidak Ada Praktik Titipan

Lantik 27 Pejabat di Lingkungan Pemprov Jateng, Gubernur Luthfi Tegaskan Tidak Ada Praktik Titipan

Jateng Gayeng
Turunkan Stunting ke 17,1 Persen, Gubernur Ahmad Luthfi Raih National Governance Award 2026

Turunkan Stunting ke 17,1 Persen, Gubernur Ahmad Luthfi Raih National Governance Award 2026

Jateng Gayeng
Jateng–Aceh Teken Kerja Sama Senilai Rp 1,06 Triliun, Dorong Kolaborasi OPD hingga BUMD

Jateng–Aceh Teken Kerja Sama Senilai Rp 1,06 Triliun, Dorong Kolaborasi OPD hingga BUMD

Jateng Gayeng
Bawa Resep Kepemimpinan Jateng ke Sumatera, Ahmad Luthfi: Kepala Daerah adalah “Manajer Marketing”

Bawa Resep Kepemimpinan Jateng ke Sumatera, Ahmad Luthfi: Kepala Daerah adalah “Manajer Marketing”

Jateng Gayeng
Pemprov Jateng Realisasikan 5.382 Jamban, Taj Yasin Sebut Kebutuhan Masih Tinggi

Pemprov Jateng Realisasikan 5.382 Jamban, Taj Yasin Sebut Kebutuhan Masih Tinggi

Jateng Gayeng
Program Desa Mandiri Sampah Antarkan Gubernur Luthfi Raih Penghargaan CSR dan PDB Awards 2026

Program Desa Mandiri Sampah Antarkan Gubernur Luthfi Raih Penghargaan CSR dan PDB Awards 2026

Jateng Gayeng
MTQ Nasional 2026, Pemprov Jateng Siap Sambut 8.000 Kafilah dari Penjuru Tanah Air

MTQ Nasional 2026, Pemprov Jateng Siap Sambut 8.000 Kafilah dari Penjuru Tanah Air

Jateng Gayeng
Satu-satunya di Indonesia, Jateng Kini Punya Gedung Asrama Mandiri untuk Atlet Paralimpiade

Satu-satunya di Indonesia, Jateng Kini Punya Gedung Asrama Mandiri untuk Atlet Paralimpiade

Jateng Gayeng
Infrastruktur Jalan Prima Selama Lebaran 2026, Pemprov Jateng Tuai Apresiasi Pemudik

Infrastruktur Jalan Prima Selama Lebaran 2026, Pemprov Jateng Tuai Apresiasi Pemudik

Jateng Gayeng
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com