Investor Serbu Jateng, Nilai Investasi Masuk Capai Rp 211,19 Triliun

Kompas.com - 22/11/2019, 20:08 WIB
Mikhael Gewati

Penulis

KOMPAS.com - Hingga kini total nilai investasi di Jawa Tengah ( Jateng) telah mencapai Rp 211,19 triliun. Angka itu merupakan nilai kumulatif investasi yang masuk dari periode 2015 hingga triwulan II 2019,

Dalam keterangan tertulisnya, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menjelaskan nilai investasi tersebut terdiri dari investasi Penanaman Modal Asing (PMA) Rp 110,85 triliun dengan 4.964 proyek dan menyerap 335.735 tenaga kerja,

Kemudian Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Rp 100,34 triliun dengan 7.121 proyek yang menyerap 221.071 tenaga kerja.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng menjelaskan ada beberapa hal yang membuat investor berbondong-bondong masuk ke daerah ini.

Pertama karena ketersediaan tenaga kerja dan upah yang relatif murah. Kedua yakni akibat tingginya etos kerja warga Jateng. 

Baca juga: Pabrik Sepatu Hengkang ke Jateng, Pengangguran Berpotensi Naik hingga Gubernur Banten Janjikan Investasi Baru

Terkait etos kerja, hal ini dibernarkan Philip D Kaligis dari PT Anugrah Cipta Mould. Ia mengatakan kinerja warga Jateng menjadi magnet bagi investor untuk berinvestasi di provinsi tersebut.

Bukan tanpa sebab ia menilai seperti itu, ini karena beberapa pabrik yang dia buka di Jawa Barat maupun Banten telah banyak menampung pekerja dari Jawa Tengah.

"Setelah mengamati, mereka menilai pekerja-pekerja dari Jawa Tengah rata-rata etosnya lebih tinggi dan mudah diajak berkomunikasi," katanya, Jumat (22/11/2019).

Berangkat dari itu, pada 2017 perusahaannya membuka pabrik baru di Jepara. Tak hanya itu, pihaknya tengah siap-siap membuka pabrik di Kabupaten Pati dengan total investasi Rp 2 triliun,

Hal lain yang paling membuatnya terkesan dengan Jateng adalah kondusivitas wilayah dan pekerjanya.

Baca juga: 10 Pabrik Sepatu Pilih Hengkang ke Jateng, Ini Kata Gubernur Banten

"Jateng sangat kondusif. Kami sudah membuka usaha pabrik komponen sepatu di Jepara. Sudah dua tahun dan akan mengembangkan di Pati," katanya.

Kompetitifnya Jawa Tengah juga diakui Absori yang bekerja di bagian Umum PT Parkland World Indonesia.

Menurutnya karena ketersediaan SDM dan upah yang kompetitif di Jateng, PT Parkland World Indonesia langsung mengucurkan investasi Rp 2,1 triliun ke Jawa Tengah pada 2015 silam.

Absori mengaku perusahaannya telah mempekerjakan 15.000 warga Jateng dan bakal menambah investasi sebesar 50 juta dollar AS.

"Saat ini untuk investasi yang paling menarik adalah Jawa Tengah. SDM-nya memadai dan upahnya juga kompetitif. Karena di Jabodetabek sudah sangat tinggi," katanya.

Baca juga: Bantah Asosiasi, Disnaker Tangerang Sebut Tak Ada Pabrik Sepatu Pindah ke Jateng

Bahkan saat ini banyak rekanannya mengutarakan ketertarikan untuk turut berinvestasi di Jawa Tengah.

Karena kabar kondusivitas Jateng yang telah tersebar, dia berharap hal ini akan bertahan lama agar tidak mengecewakan para pengusaha atau investor.

"Secara otomatis, kalau kami tertarik (berinvestasi di suatu daerah) pasti mengundang investor lain," kata dia.

"Kami selalu ada komunikasi terutama di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), pasti mengabarkan kepada kawan-kawan bahwa di sana (Jateng) menarik," tambahnya. 

Bonus demografi

Secara garis besar, saat ini Jawa Tengah sedang menikmati bonus demografi. Bonus demografi merupakan situasi di mana ketersediaan usia produktif suatu daerah lebih tinggi kuantitasnya.

Perlu diketahui, saat ini jumlah usia produktif atau tenaga kerja di Jawa Tengah separuh lebih dari total penduduknya.

Kepala Pelaksana (Plt) Kepala Dinas Ketenagakerjaan, Transmigrasi dan Kependudukan Jateng Susi Handayani mengatakan jumlah usia kerja di provinsinya sekarang mencapai 18.059.895.

Dari jumlah tersebut yang sudah bekerja sebanyak 17.245.548.

"Artinya secara SDM ketenagakerjaan kami masih mencukupi untuk masuknya investor baru. Karena masih tersedia tenaga kerja sekitar 814.347," kata Susi.

Baca juga: UMK Jateng 2019 Ditetapkan, Semarang Jadi Kota dengan UMK Tertinggi

Selain ketersediaan tenaga kerja, kondusivitas yang tinggi selama ini jadi ciri utama keberlangsungan dunia usaha di Jawa Tengah.

Susi menjelaskan, bahkan ketika menjelang penetapan Upah Minimal Kota (UMK), dunia kerja di Jateng tetap stabil. Selain itu, upah tenaga kerja di sini juga sangat kompetitif.

Sebagaimana yang telah diumumkan Gubernur Ganjar Pranowo, upah kerja di Jawa Tengah rata-rata Rp 1,9 juta.

Nilai itu jelas membuat daya tarik untuk investor, dibanding Jawa Barat, Jawa Timur, Banten apalagi DKI Jakarta.

"Situasi seperti ini yang terus kami jaga. Jadi relasi antara pemerintah, pengusaha dengan buruh benar-benar kami jaga," katanya.

Terkini Lainnya
Tumbuh 5,89 Persen dan Lampaui Nasional, Kinerja Ekonomi dan Swasembada Pangan Jateng Panen Pujian

Tumbuh 5,89 Persen dan Lampaui Nasional, Kinerja Ekonomi dan Swasembada Pangan Jateng Panen Pujian

Jateng Gayeng
Gubernur Ahmad Luthfi Ajak Pengusaha China Garap Proyek EBT di Jawa Tengah

Gubernur Ahmad Luthfi Ajak Pengusaha China Garap Proyek EBT di Jawa Tengah

Jateng Gayeng
Tak Lagi Belajar di Rumah Warga, Anak-anak Lereng Merapi Kini Punya SMAN 1 Kemalang

Tak Lagi Belajar di Rumah Warga, Anak-anak Lereng Merapi Kini Punya SMAN 1 Kemalang

Jateng Gayeng
Resmikan Daycare di Ungaran, Gubernur Luthfi: Agar Buruh Kita Maksimal Bekerja

Resmikan Daycare di Ungaran, Gubernur Luthfi: Agar Buruh Kita Maksimal Bekerja

Jateng Gayeng
TPST BLE Banyumas Dipuji Prabowo, Jateng Siap Jadi

TPST BLE Banyumas Dipuji Prabowo, Jateng Siap Jadi "Role Model" Nasional Zero Sampah pada 2028

Jateng Gayeng
Jaga Kondusivitas Wilayah, Gubernur Luthfi Ajak Buruh Rayakan May Day dengan Kegiatan Konstruktif

Jaga Kondusivitas Wilayah, Gubernur Luthfi Ajak Buruh Rayakan May Day dengan Kegiatan Konstruktif

Jateng Gayeng
Lantik 27 Pejabat di Lingkungan Pemprov Jateng, Gubernur Luthfi Tegaskan Tidak Ada Praktik Titipan

Lantik 27 Pejabat di Lingkungan Pemprov Jateng, Gubernur Luthfi Tegaskan Tidak Ada Praktik Titipan

Jateng Gayeng
Turunkan Stunting ke 17,1 Persen, Gubernur Ahmad Luthfi Raih National Governance Award 2026

Turunkan Stunting ke 17,1 Persen, Gubernur Ahmad Luthfi Raih National Governance Award 2026

Jateng Gayeng
Jateng–Aceh Teken Kerja Sama Senilai Rp 1,06 Triliun, Dorong Kolaborasi OPD hingga BUMD

Jateng–Aceh Teken Kerja Sama Senilai Rp 1,06 Triliun, Dorong Kolaborasi OPD hingga BUMD

Jateng Gayeng
Bawa Resep Kepemimpinan Jateng ke Sumatera, Ahmad Luthfi: Kepala Daerah adalah “Manajer Marketing”

Bawa Resep Kepemimpinan Jateng ke Sumatera, Ahmad Luthfi: Kepala Daerah adalah “Manajer Marketing”

Jateng Gayeng
Pemprov Jateng Realisasikan 5.382 Jamban, Taj Yasin Sebut Kebutuhan Masih Tinggi

Pemprov Jateng Realisasikan 5.382 Jamban, Taj Yasin Sebut Kebutuhan Masih Tinggi

Jateng Gayeng
Program Desa Mandiri Sampah Antarkan Gubernur Luthfi Raih Penghargaan CSR dan PDB Awards 2026

Program Desa Mandiri Sampah Antarkan Gubernur Luthfi Raih Penghargaan CSR dan PDB Awards 2026

Jateng Gayeng
MTQ Nasional 2026, Pemprov Jateng Siap Sambut 8.000 Kafilah dari Penjuru Tanah Air

MTQ Nasional 2026, Pemprov Jateng Siap Sambut 8.000 Kafilah dari Penjuru Tanah Air

Jateng Gayeng
Satu-satunya di Indonesia, Jateng Kini Punya Gedung Asrama Mandiri untuk Atlet Paralimpiade

Satu-satunya di Indonesia, Jateng Kini Punya Gedung Asrama Mandiri untuk Atlet Paralimpiade

Jateng Gayeng
Infrastruktur Jalan Prima Selama Lebaran 2026, Pemprov Jateng Tuai Apresiasi Pemudik

Infrastruktur Jalan Prima Selama Lebaran 2026, Pemprov Jateng Tuai Apresiasi Pemudik

Jateng Gayeng
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com