Inovasi Hilirisasi Bawang Merah Brebes Tembus Pasar Global, Titiek Soeharto Beri Apresiasi

Kompas.com - 24/02/2026, 17:38 WIB
Tsabita Naja,
Mikhael Gewati

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Inovasi hilirisasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Brebes yang mengubah bawang merah mentah menjadi bawang goreng dan pasta bawang merah telah berhasil membawa nama Brebes menembus pasar internasional.

Keberhasilan tersebut mendapat apresiasi dari Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) Siti Hediati Hariyadi yang akrab disapa Titiek Soeharto.

“Ternyata bawang merah kita hasilnya sudah melimpah dan sudah bisa ekspor ke Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Singapura. Alhamdulillah kita bisa ekspor,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (24/2/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Titiek saat mengunjungi PT Sinergi Brebes Inovatif di Desa Sidamulya, Kecamatan Winasari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Senin (23/2/2026), yang disambut langsung oleh Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma dan Wakil Bupati Wurja.

Baca juga: Cabai Rawit Merah di Pasar Legi Solo Tembus Rp 80.000 Per Kg, Titiek Soeharto: Musim Hujan...

Pada kesempatan itu, Pemkab Brebes menunjukkan bahwa bawang merah Brebes kini tidak lagi hanya dijual sebagai komoditas mentah, tetapi juga menjadi produk bernilai tambah.

Dengan mengolah bawang merah menjadi pasta, daya simpan produk menjadi lebih lama dan jangkauan pasar semakin luas, termasuk memenuhi kebutuhan industri bumbu di Arab Saudi bagi jemaah Indonesia.

Titiek pun mengaku kagum dengan prospek ekonomi yang dihasilkan. Ia mencatat bahwa dari modal tanam sekitar Rp 40 juta per hektar (ha), petani di Brebes mampu meraup hasil hingga Rp 350 juta.

Menurutnya, stabilitas harga bawang merah saat ini cukup terjaga karena permintaan pasar yang terus ada. Bahkan, jika terjadi surplus produksi, kelebihan pasokan dapat diserap oleh pasar ekspor.

Baca juga: Harga Bawang Merah dan Cabai Rawit Naik hingga 75 Persen di Pasar Legi Blitar

“Ini menunjukkan prospek bawang merah Indonesia sangat bagus. Pasarnya selalu ada, baik di dalam negeri maupun luar negeri,” kata Titik.

Oleh karena itu, Titek berharap, keberhasilan Brebes sebagai sentra bawang merah dapat menjadi model pengembangan bagi daerah lain di Indonesia. Dengan perluasan sentra produksi, ia optimistis nilai ekspor komoditas hortikultura nasional bisa semakin meningkat.

Dukungan Komisi IV

Dalam kunjungan tersebut, Komisi IV DPR RI sempat berdialog dengan petani Brebes untuk menyerap aspirasi terkait kebutuhan yang masih mendesak, seperti pembangunan cold storage, ketersediaan pupuk, serta penyediaan bibit bawang merah berkualitas.

“Kami datang ke sini ingin menanyakan langsung kepada petani apa saja yang masih dibutuhkan. Mereka masih memerlukan cold storage, pupuk, serta bibit. Ini menjadi perhatian kami,” ucap Titiek.

Baca juga: Cerita Petani Sawit, Boncos Panen gara-gara Tertipu Bibit Abal-abal

Melalui sinergi antara pemerintah pusat dan Pemkab Brebes, diharapkan Brebes mampu memperkuat posisinya sebagai lumbung bawang merah nasional serta mendorong Indonesia menjadi pemain utama ekspor bawang merah olahan di kawasan regional dan global.

Sebagai informasi, dalam kunjungan kerja tersebut, Titiek juga didampingi oleh jajaran forum koordinasi pimpinan daerah (forkopimda), Sekretaris Daerah (Sekda) Brebes Tahroni, serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Brebes.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com