Bupati Dedi Mulyadi dan Hari Raya Idul Adha...

Kompas.com - 04/09/2017, 18:12 WIB

Bupati Purwakarta Rayakan Idul Adha di Wilayah Terpencil


PURWAKARTA
, KOMPAS.com – Bupati Puwakarta Dedi Mulyadi punya cara berbeda untuk merayakan Hari Raya Idul Adha. Dia biasanya shalat Id menyembelih hewan qurban di kampung-kampung terpencil di wilayahnya.

Tahun ini, Kampung Sodong, Desa Sukamukti, Kecamatan Maniis, Kabupaten Purwakarta yang berada dekat Waduk Cirata, jadi target dia. Adapun lokasinya berjarak sekitar puluhan kilometer dari wilayah perkotaan.

Didampingi istri dan kedua anaknya, Dedi pun melakukan pemotongan hewan qurban, yakni sapi limosin Jumat (1/9/2017). Hari itu, perayaan semakin meriah karea warga sekitar dijamu dengan berbagai makanan gratis yang disediakan oleh Pemerintah Kabupaten Purwakarta

"Saya merasa sangat bahagia karena Pak Bupati sejak dulu sangat perhatian kepada warga terpencil. Dia enggak hanya ngomong doang, tetapi membuktikan dengan hasil kerja,” ujar Juha, ketua RW 03 Kampung Sodong, Desa Sukamukti, Kecamatan Maniis, Kabupaten Purwakarta, di lokasi acara.

Ia menuturkan kondisi kampung itu dahulu. Katanya, untuk sampai kota, ia butuh waktu 5 jam. “Sekarang sudah dibangun jalan beton luas yang membelah gunung. Sekarang ke kota hanya butuh waktu 45 menit saja," kata Juha lagi.
 
Juha melanjutkan bahwa perhatian kepala daerahnya di akhir jabatan kerap direspons oleh masyarakat setempat. Bagaimana tidak, 2.800 kepala keluarga di sana yang dulu terisolir, kini sudah difasilitasi akses jalan yang dapat memudahkan keseharian mereka.

"Kami sedih mengetahui jabatan Pak Bupati akan segera berakhir. Belum tahu kalau sama penggantinya (nanti) akan bagaimana lagi jadinya. Mudah-mudahan bisa meneruskan pembangunan Pak Dedi," tambahnya.

Kata Dedi, pembukaan akses jalan ke kampung terpencil ini merupakan cita-cita awal saat pembangun infrastruktur. Awalnya, wilayah itu hanya bisa ditembus dengan motor trail. Itu pun orang harus mulai perjalanan pakai perahu melintasi Waduk Cirata dulu.

Atas kegiatan qurban yang dilakukan, Dedi memberi alasan soal pilihannya ke kampung tersebut. "Kalau di kota kan kebanyakan warganya sudah mapan. Kalau di wilayah terpencil kan rasa bahagianya sangat terasa sekali," kata dia. (KONTRIBUTOR PURWAKARTA/ IRWAN NUGRAHA)

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com