Mendorong Ekonomi Rakyat Lewat Kultur Sunda

Kompas.com - Senin, 15 Mei 2017
Dok. Humas Pemkab Purwakarta Presiden RI Joko Widodo bersama Bupati Purwakarta saat akan makan Sate Maranggi di Warung Sate Hj Yeti, Cibungur, Kabupaten Purwakarta, Selasa (25/4/2017).

PURWAKARTA, KOMPAS.com - Rakyat Indonesia belum memanfaatkan secara maksimal alam Indonesya yang dikenal sebagai Negara "Gemah Ripah Loh Jinawi" atau negara dengan kekayaan alam melimpah ruah.

Generasi muda cenderung memburu pekerjaan kekinian sesuai era modernisasi ketimbang mengembangkan ekonomi berbasis alam dan kerakyatan di tiap daerahnya.

Sebutlah di daerah Provinsi Jawa Barat dengan suku adat Sunda, contohnya. Generasi muda pedesaan di Jaw Barat umumnya lebih banyak mencari pekerjaan daripada memilih mengembangkan potensi alam kampungnya yang kaya.

Pilihan itu dinilai karena tak cocoknya sistem pendidikan selama ini yang disamaratakan antara warga pedesaan dan perkotaan. Padahal, Jawa Barat merupakan wilayah paling besar yang masyarakatnya tinggal di pedesaan. Hal itu juga kemudian menjadi salah satu faktor munculnya kesenjangan sosial antara masyarakat desa dan kota.

"Gagasan tata ruang dan lingkungan sekarang ini tak dibuat berdasarkan pertimbangan kultur. Kondisi ini akan saling merugikan. Faktor ekonomi, salah satunya biaya hidup kita sekarang yang tinggi, salah satunya karena sistemnya tak sesuai dengan lingkungan," ujar Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, Kamis (11/5/2017) lalu.

Dedi mengaku, sebagai kepala daerah dirinya bangga melakukan sistem pembagunan yang disesuaikan dengan kultur. Sejatinya, tambah Dedi, daerah Jawa Barat begitu kaya, apalagi Indonesia sendiri sebagai Negara yang memang sangat kaya.

"Jika sistem pembangunan dan perekonomian disesuaikan dengan kultur, tiap daerah akan mampu menciptakan kesejahteraan masyarakatnya," kata Dedi.

Dedi mencontohkan, di daerahnya terdapat warung makan Sate Maranggi Hj Yeti di Jalan Cibungur, Purwakarta. Sate Maranggi sendiri adalah salah satu makanan khas Purwakarta yang ditinggalkan oleh para pendahulunya.

Warung sate tersebut sangat terkenal dan telah dikunjungi oleh orang dari berbagai kalangan. Selain karena harganya terjangkau, sate ini adalah ciri khas Purwakarta. Tak heran, beberapa pekan lalu Presiden Republik Indonesia Joko Widodo makan di warung ini.

Baca: Joko Widodo: Sate Maranggi Sangat Enak

"Misalkan di Purwakarta ada warung sate maranggi yang terkenal seperti Hj Yeti, warga di sekitarnya akan mendapatkan manfaat pengembangan ekonomi sesuai kultur daerahnya. Para warga di daerah itu bisa menyuplai kebutuhan warung sate tersebut dengan cara penataan regulasi yang dilakukan oleh pemerintahan desa setempat," kata Dedi.

Pemerintah desa, lanjut Dedi, seharusnya membuat perencanaan untuk regulasi kebutuhan warung makan tersebut dan itu bisa dilakukan oleh masyarakat sekitar. Misalkan, ada warga yang menyediakan bahan baku sate, yakni daging domba atau sapi, gula merah, cabai, dan lainnya.

Dengan cara itu, lanjut Dedi, masyarakat sendiri yang akan mengembangkan ekonomi kerakyatan, karena tiap harinya terjadi perputaran uang dalam satu jenis warung makan tersebut.

"Kalau itu dilaksanakan, peningkatan kesejahteraan terjadi. Minimal tak ada warga yang kekurangan atau tak bisa makan di wilayah,karena mereka memiliki pekerjaan dan penghasilan dari regulasi rumah makan. Yang penting, kualitasnya yang harus diutamakan," ujarnya.

Penerapan kultur

Konsep pengembangan ekonomi sesuai kultur Sunda sering disebut "Ngagoreng Lauk ku Gajihna" atau menggoreng ikan dengan lemak ikan itu sendiri tanpa harus pakai minyak goreng. Artinya, siapapun tak perlu memakai dan mencari sesuatu di luar daerah, melainkan bisa memanfaatkan potensi daerah itu sendiri.

"Ini baru contoh hal kecil dari kekayaan alam dan budaya di Indonesia, bagaimana kalau semua potensi bisa termanfaatkan dan diseriuskan melalui sistem pemerintahan," tambah Dedi.

Salah satu kendala selama adalah sistem pendidikan yang tak aplikatif sesuai dengan budaya tiap daerah. Selama ini anak tak mendapatkan pendidikan keterampilan sejak dini. Hal itu terjadi, lantaran selama ini murid di sekolah lebih diutamakan mendapatkan pendidikan materi daripada aplikasi.

"Sistem pendidikan yang tidak sesuai. Anak lebih diutamakan dapat materi daripada aplikasi. Misalnya di Jepang, sekolah sudah menerapkan pendidikan aplikatif, anak suka masak dididik melalui sistem pendidikan sampai menjadi koki profesional," uajrnya.

IRWAN NUGRAHA/KONTRIBUTOR PURWAKARTA

EditorLatief
Terkini Lainnya
Pelajar Purwakarta Bagikan Beras pada Warga Miskin
Pelajar Purwakarta Bagikan Beras pada Warga Miskin
purwakarta
Purwakarta Menetapkan Setiap Kamis adalah Hari Kasih Sayang
Purwakarta Menetapkan Setiap Kamis adalah Hari Kasih Sayang
purwakarta
Saat Mereka
Saat Mereka "Patungan" Bantu Korban Rohingya...
purwakarta
"Lebih Baik Kami ke Purwakarta Daripada Harus ke Cianjur..."
purwakarta
Dedi Mulyadi Berpamitan pada Warga Purwakarta
Dedi Mulyadi Berpamitan pada Warga Purwakarta
purwakarta
Purwakarta Gandeng Kejaksaan Awasi Dana Desa
Purwakarta Gandeng Kejaksaan Awasi Dana Desa
purwakarta
Purwakarta Lestarikan Permainan Tradisional Egrang
Purwakarta Lestarikan Permainan Tradisional Egrang
purwakarta
Bak Artis Sinetron, Dedi Mulyadi
Bak Artis Sinetron, Dedi Mulyadi "Diserbu" TKI di Hongkong
purwakarta
Masyarakat Purwakarta Gelar Kirab Bendera Merah Putih
Masyarakat Purwakarta Gelar Kirab Bendera Merah Putih
purwakarta
Kebiasaan Unik Dedi Mulyadi dalam Menyambut Hari Kemerdekaan RI
Kebiasaan Unik Dedi Mulyadi dalam Menyambut Hari Kemerdekaan RI
purwakarta
Pendidikan Berbasis Madrasah di Purwakarta Layak Ditiru
Pendidikan Berbasis Madrasah di Purwakarta Layak Ditiru
purwakarta
Ritual Tradisional untuk Menyambut Upacara Kemerdekaan di Purwakarta
Ritual Tradisional untuk Menyambut Upacara Kemerdekaan di Purwakarta
purwakarta
Purwakarta Terapkan Full Day School Berbasis Madrasah dan Pesantren
Purwakarta Terapkan Full Day School Berbasis Madrasah dan Pesantren
purwakarta
Warga Purwakarta Mampu Terapkan Nilai-nilai Pancasila dalam Kehidupan
Warga Purwakarta Mampu Terapkan Nilai-nilai Pancasila dalam Kehidupan
purwakarta
Sedekah Lewat Kebijakan, Dedi Mulyadi Diapresiasi Kiai Cipasung
Sedekah Lewat Kebijakan, Dedi Mulyadi Diapresiasi Kiai Cipasung
purwakarta