Makin Hijau, Purwakarta Siap Jadi "Surga" Wisatawan Dunia

Kompas.com - 06/03/2017, 19:36 WIB

PURWAKARTA, KOMPAS.com - Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, terus mempercantik daerahnya dengan membangun beberapa taman baru yang luasnya hampir satu hektar. Dua taman baru tahun itu adalah Taman Baca Ciganea dan Taman Tangga Cinta di pinggir Jalan Ateri Purwakarta-Padalarang, tepatnya di pinggir Gerbang Perbatasan Ciganea.

"Ini memanfaatkan aset pemerintah yang tak terpakai dan akan dibangun ruang publik. Dua taman sekaligus akan dibangun yang luasnya hampir satu hektar ini," jelas Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi kepada Kompas.com, Senin (6/3/2017).

Dedi menambahkan, taman tersebut nantinya akan sama fungsinya dengan taman-taman lain yang dibangun sebelumnya, yakni sebagai sarana publik dan ruang bermain anak. Apalagi, lanjut dia, luas Taman Baca Ciganea nantinya akan sama dengan lapangan bola.

"Selain dijadikan kawasan hijau Purwakarta, taman ini nantinya bisa juga jadi sarana bermain. Lokasinya berada tepat di gerbang masuk arah perkotaan Purwakarta, jadi wisatawan yang datang lebih dulu disuguhi keindahan taman ini," kata dia.

Pembangunan ruang publik sebagai kawasan hijau ini pun bertujuan menyelamatkan kondisi alam sekitar dari kerusakan. Saat ini, terutama di kawasan perkotaan, ruang publik sudah semakin sempit akibat masifnya pembangunan untuk permukiman dan kepentingan perekonomian.

"Kalau tak dikelola dan bukan milik pemda, tanah kosong ini pasti sudah habis dibangun perumahan," tambah Dedi.

Dok Humas Pemkab Purwakarta Taman Baca Ciganea dan Taman Tangga Cinta mulai dibangun mulai Maret 2017 ini dan ditargetkan selesai secepatnya. Pembangunan kedua taman itu juga merupakan penyempurnaan tata kota untuk lebih dikenal wisatawan.
Beli lahan hijau

Untuk menambah kawasan hijau di daerahnya, Pemkab Purwakarta telah membangun ruang publik di hampir tiap kecamatan. Pihak pemkab juga sudah membeli lahan seluas satu hektar milik masyarakat di daerah Pasir Salam, Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta.

"Kalau bukan pemerintah, siapa lagi yang akan berperan besar menyelamatkan alam. Apakah nanti kawasan hijau akan punah menjadi kawasan perkotaan semua," ujar Dedi.

Dirinya mengakui selama ini kawasan hijau, khususnya di Provinsi Jawa Barat, diselamatkan oleh Perum Perhutani. Dengan dimilikinya lahan negara, kawasan itu tak bisa berubah menjadi lahan pemukiman dan sampai sekarang masih ditanami oleh tumbuh-tumbuhan kuat, terutama untuk mencegah munculnya bencana alam akibat perubahan alih fungsi lahan.

"Jadi, sudah seharusnya kebun-kebun di pegunungan-pegunungan dibeli oleh pemerintah dan dikelola sebagai kawasan hijau," katanya.

Dikenal dunia

Purwakarta selama ini sudah dikenal oleh wisatawan di seluruh dunia. Bahkan, beberapa waktu lalu beberapa perwakilan dari puluhan negara sengaja mendatangi daerah ini untuk melihat langsung daerah wisata di Purwakarta, terutama kawasan Taman Situ Buleud yang memiliki air mancur terbesar se-Asia Tenggara.

"Sekarang Purwakarta sudah mulai dikenal dengan berbagai ciri khasnya, khusus infrastruktur paking dikenal adalah tata kota dan kawasan wisata sarana publiknya. Ini sesuai dengan target Pak Bupati agar Purwakarta hijau menjadi surganya wisatawan dunia," tambah Kepala Dinas Tata Ruang dan Pemukiman Kabupaten Purwakarta, Aep Durohman.

Mulai Maret ini, lanjut Aep, Taman Baca Ciganea dan Taman Tangga Cinta mulai dibangun dan ditargetkan selesai secepatnya. Pembangunan kedua taman itu juga merupakan penyempurnaan tata kota untuk lebih dikenal wisatawan.

"Setiap pojok dan belokan Purwakarta akan dibangun taman. Seperti yang sudah terbangun salah satunya Taman Prapatan Comro, Taman Surawesa. Selain itu Situ Buleud juga akan diperbagus. Kulinernya juga sudah pun bervariasi ala khas Purwakarta. Jadi, nantinya bisa terintegrasi ke semua aspek," ucap Aep.

IRWAN NUGRAHA/KONTRIBUTOR PURWAKARTA

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com