Dua Pemain Sepak Bola Asal Purwakarta Ikut Berlatih di Inggris

Kompas.com - Minggu, 5 Maret 2017
Dua Pemain Sepak Bola Asal Purwakarta Ikut Berlatih di InggrisDok Humas Pemkab PurwakartaAhlul Dzikri dan Hamzah Lestaluhu di Inggris.

PURWAKARTA, KOMPAS.com – Dua anak didik Sekolah Sepakbola ASAD Jaya Perkasa, Purwakarta, Ahlul Dzikri dan Hamzah Lestaluhu, bersiap mengikuti latihan bersama salah satu klub Liga Inggris, Queens Park Ranger, Maret ini.

Mereka berhasil berada di sana melalui seleksi ketat. Sebelumnya, bersama timnya kedua pemain itu tercatat pernah menorehkan prestasi untuk Purwakarta dan Indonesia.

Berdasarkan catatan Kompas.com, SSB ASAD 313 Jaya Perkasa berhasil menahan imbang PSSI U-15. Tahun ini ASAD memastikan diri lolos ke babak 32 besar Mediteranian International Cup (MIC) 2016. Tiga personel ASAD pun dilirik klub Eropa, namun tawaran itu tidak diterima.

Nama ASAD 313 Jaya Perkasa Purwakarta dikenal dunia saat masuk ke perempat final dunia Danone Nation Cup (DNC) 2014 di Brasil. Dalam turnamen tersebut, ASAD berhasil menyingkirkan juara bertahan saat itu.

Selain kemampuannya, ASAD memukau seluruh peserta DNC dengan keramahannya. Kebiasaannya di desa, mereka lakukan juga di kancah dunia. Misalnya, cium tangan kepada seluruh wasit dan pelatih sebelum bertanding. Bahkan, pada siapapun orang lebih tua yang mereka temui di jalanan.

Dok Humas Pemkab Purwakarta Ahlul Dzikri dan Hamzah Lestaluhu bersama Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, di Pendopo Purwakarta.
Tiga pelajaran

Di balik kemampuan mereka memainkan sepakbola dan keramahannya itu tidak lepas dari kerja keras beberapa sosok. Beberapa di antaranya adalah sang manajer Alwi Hasan dan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi.

Dedi misalnya, nekad membuat kebijakan ekstrem untuk kemajuan ASAD. Beberapa upayanya, mulai merancang kurikulum pendidikan formal, pembiayaan, asrama, hingga memfasilitasi pertandingan dan lokasi pertandingan.

Kebijakan paling ekstrem adalah pemangkasan kurikulum pendidikan formal menjadi tiga mata pelajaran. Jika siswa lain mengikuti banyak pelajaran, maka anak-anak ASAD hanya belajar bahasa Inggris, agama, dan sepakbola.

"Kenapa tiga pelajaran itu, bahasa Inggris misalnya, karena mereka sering ke luar negeri sehingga harus memiliki bahasa yang mumpuni. Kedua, agama, agar mereka tetapi berada di relnya. Ketiga sepakbola, karena memang itu kerjaan mereka," ujar Dedi kepada Kompas.com, belum lama ini.

Dedi mengatakan, Purwakarta memang tengah fokus mengembangkan konsep mencetak bibit sepak bola profesional. Bahkan, kabupaten tersebut menargetkan bisa melebihi Diklat Salatiga.

Seperti diketahui, Diklat Salatiga pernah mencetak banyak pemain profesional di Indonesia. Sebut saja, Bambang Pamungkas, Kurniawan Dwi Yulianto, Bayu Pradana, dan Ravi Murdianto. Mereka dibesarkan Diklat Salatiga yang kini dilebur menjadi PPLP Jawa Tengah.

"(Kami) Tidak ingin menyaingi Salatiga, tetapi melebihi Salatiga," kata Dedi.

Selain kurikulum dan pembinaan, Purwakarta pun tengah menyiapkan stadion sepak bola berkapasitas 35.000 penonton untuk pengembangan ASAD dan penciptaan bibit pesepakbola nasional maupun internasional.

Namun, di balik mimpinya, Dedi memiliki kecemasan, anak-anak tersebut tidak pulang ketika mereka berlatih ataupun bertanding di luar negeri. Karena beberapa anak ASAD memiliki kualifikasi terbaik dari pemain terbaik.

"Tapi kita mengikhlaskan jika itu menjadi pilihan anak-anak. Yang penting, mereka tetap berjuang untuk Indonesia, apapun klub mereka kelak," ucapnya.

Untuk menjaga kestabilan pelatihan, saat ini Dedi tengah menyiapkan beberapa hal. Di antaranya meminta Dinas Pendidikan Jabar untuk mengurangi mata pelajaran mereka di SMA.

"Sebentar lagi anak-anak ini masuk SMA, dan SMA kewenangan provinsi, berbeda dengan SMP sehingga saya bisa memutuskan menjadi tiga mata pelajaran. Karenanya saya akan segera menghubungi Disdik Jabar untuk membicarakan ini," terangnya.

Hal ini penting. Sebab, untuk menjadi profesional, pemain sepakbola akan lebih optimal jika tidak dibebani banyak pelajaran.

RENI SUSANTI/KONTRIBUTOR PURWAKARTA

EditorLatief
Terkini Lainnya
Pelajar Purwakarta Bagikan Beras pada Warga Miskin
Pelajar Purwakarta Bagikan Beras pada Warga Miskin
purwakarta
Purwakarta Menetapkan Setiap Kamis adalah Hari Kasih Sayang
Purwakarta Menetapkan Setiap Kamis adalah Hari Kasih Sayang
purwakarta
Saat Mereka
Saat Mereka "Patungan" Bantu Korban Rohingya...
purwakarta
"Lebih Baik Kami ke Purwakarta Daripada Harus ke Cianjur..."
purwakarta
Dedi Mulyadi Berpamitan pada Warga Purwakarta
Dedi Mulyadi Berpamitan pada Warga Purwakarta
purwakarta
Purwakarta Gandeng Kejaksaan Awasi Dana Desa
Purwakarta Gandeng Kejaksaan Awasi Dana Desa
purwakarta
Purwakarta Lestarikan Permainan Tradisional Egrang
Purwakarta Lestarikan Permainan Tradisional Egrang
purwakarta
Bak Artis Sinetron, Dedi Mulyadi
Bak Artis Sinetron, Dedi Mulyadi "Diserbu" TKI di Hongkong
purwakarta
Masyarakat Purwakarta Gelar Kirab Bendera Merah Putih
Masyarakat Purwakarta Gelar Kirab Bendera Merah Putih
purwakarta
Kebiasaan Unik Dedi Mulyadi dalam Menyambut Hari Kemerdekaan RI
Kebiasaan Unik Dedi Mulyadi dalam Menyambut Hari Kemerdekaan RI
purwakarta
Pendidikan Berbasis Madrasah di Purwakarta Layak Ditiru
Pendidikan Berbasis Madrasah di Purwakarta Layak Ditiru
purwakarta
Ritual Tradisional untuk Menyambut Upacara Kemerdekaan di Purwakarta
Ritual Tradisional untuk Menyambut Upacara Kemerdekaan di Purwakarta
purwakarta
Purwakarta Terapkan Full Day School Berbasis Madrasah dan Pesantren
Purwakarta Terapkan Full Day School Berbasis Madrasah dan Pesantren
purwakarta
Warga Purwakarta Mampu Terapkan Nilai-nilai Pancasila dalam Kehidupan
Warga Purwakarta Mampu Terapkan Nilai-nilai Pancasila dalam Kehidupan
purwakarta
Sedekah Lewat Kebijakan, Dedi Mulyadi Diapresiasi Kiai Cipasung
Sedekah Lewat Kebijakan, Dedi Mulyadi Diapresiasi Kiai Cipasung
purwakarta