Lima Investor Bakal Bangun Kampung Wisata di Purwakarta

Kompas.com - 07/12/2016, 18:09 WIB

PURWAKARTA, KOMPAS.com – Memasuki semester II/2016, Kabupaten Purwakarta menggenjot sektor pariwisata. Hal itu ditandai dengan konsep pembangunan berbagai kampung wisata di Purwakarta.

Bak gayung bersambut, konsep tersebut mendatangkan banyak investor. Sedikitnya, lima investor dari perusahaan multinasional mendapatkan izin lokasi mengembangkan kampung wisata di beberapa kawasan.

"Yang sudah dapat izin lokasi itu ada lima. Katanya akan ada beberapa perusahaan lagi yang akan datang kesini," ujar Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi kepada Kompas.com, Selasa (7/12/2016).

Dedi menjelaskan, para investor itu akan membangun kampung wisata seluas 1.000 hektare di lima lokasi. Kelima kampung itu meliputi Kahuripan-Cirangkong, dua lokasi di Kutamanah, Ciririp, dan Wanayasa.

"Paling luas di Ciririp, luasnya 300 hektare. Paling kecil di Cirangkong, sekitar 6 hektare,” ucapnya.

Konsep pembangunannya sendiri tidak akan mengeksploitasi alam. Yang boleh dieksploitasi, lanjut Dedi, hanya keindahan alamnya sehingga tidak boleh ada bentuka kegiatan perusakkan hutan.

"Pembangunannya semacam rumah panggung sehingga tidak merusak lahan yang ada di bawahnya," terangnya.

Dok Humas Pemkab Purwakarta Memasuki semester II/2016, Kabupaten Purwakarta menggenjot sektor pariwisata. Hal itu ditandai dengan konsep pembangunan berbagai kampung wisata di Purwakarta.
Untuk Ciririp, rencananya akan dibangun rumah sakit berbasis alam. Ketenangan dan keindahan alam dinilai akan membantu mempercepat proses penyembuhan pasien.

"Saya tidak tahu jenis pengobatannya seperti apa. Yang pasti, pembangunan rumah sakit dan kampung wisata ini tidak boleh mengeksploitasi alam. Itu yang saya tekankan," kata Dedi.

Selain kelima kampung tersebut, pihaknya sudah menyiapkan berbagai konsep pariwisata dengan konsep pembangunan kampung. Nantinya, di Purwakarta akan ada Kampung Senyap di Wanayasa, lalu Kampung Bambu di Sukasari.

"Sukasari itu penghasil bambu terbesar di Purwakarta. Setiap hari, truk lalu-lalang mengambil bambu Sukasari untuk dijual ke berbagai daerah. Nah, nanti kampung ini akan dijadikan kampung bambu," ucapnya.

Dedi mengatakan masih ada beberapa kampung wisata lainnya. Seperti Kampung Peuyeum, Kampung Gula, Kampung Keramik, dan lainnya. Kampung wisata ini melengkapi kampung wisata yang sudah ada sebelumnya. Seperti Kampung Tajur Purwakarta yang berbasis pertanian.

RENI SUSANTI/KONTRIBUTOR PURWAKARTA

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com