Gubernur Jateng Dorong Perusahaan Swasta dan BUMD Beri Ruang untuk Pekerja Disabilitas

Kompas.com - 02/06/2026, 18:12 WIB
Tsabita Naja,
DWN

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ahmad Luthfi mendorong perusahaan swasta dan badan usaha milik daerah (BUMD) untuk memberikan ruang yang lebih luas bagi pekerja disabilitas.

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons atas aspirasi perwakilan penyandang disabilitas yang meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng untuk mendorong perusahaan agar lebih terbuka dalam merekrut pekerja difabel.

Menurut mereka, masih ada perusahaan yang membatasi penerimaan pekerja disabilitas dan cenderung hanya menerima penyandang disabilitas ringan.

Oleh karena itu, Luthfi menegaskan bahwa perusahaan swasta wajib mengalokasikan kuota minimal 1 persen bagi tenaga kerja disabilitas.

Sementara itu, BUMD milik Pemprov Jateng wajib menyerap sedikitnya 2 persen penyandang disabilitas dari total pekerja.

Menurut Luthfi, ketentuan afirmasi ketenagakerjaan bagi penyandang disabilitas tersebut sudah diatur secara jelas dan harus dijalankan oleh seluruh pihak terkait.

Baca juga: Sulitnya Akses Kerja Penyandang Disabilitas di Jember, Stigma Jadi Tantangan

Ia menegaskan, penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk berkembang dan memperoleh pekerjaan yang layak.

“Tidak ada namanya kelompok disabilitas tersisihkan, baik dari akses kerja, pelatihan, maupun kegiatan ekonomi,” ujar Luthfi dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Selasa (2/6/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Luthfi dalam acara Rembug Pembangunan Jateng 2026 Wilayah Solo Raya di Pendopo Kabupaten Boyolali, Jateng, Selasa.

Selain itu, ia juga menyoroti program Kecamatan Berdaya yang diarahkan menjadi wadah pelatihan bagi penyandang disabilitas dan perempuan rentan.

Luthfi meminta agar pemberdayaan kelompok tersebut tidak berhenti pada pelatihan semata, tetapi juga ditindaklanjuti dengan penyediaan kesempatan kerja, dukungan ekonomi, serta pendampingan yang berkelanjutan.

Baca juga: Sosok Ahmad, Penyandang Disabilitas yang Lulus UMM dengan Segudang Prestasi

Difabel minta dukungan pendataan dan akses ekonomi

Pada kesempatan yang sama, Ketua Forum Komunikasi Difabel Boyolali Sri Setyaningsih menyampaikan bahwa kelompok difabel membutuhkan afirmasi khusus dalam pendataan sosial.

Menurut Sri, tidak semua penyandang disabilitas berasal dari keluarga berpenghasilan rendah. Namun, mereka tetap termasuk kelompok rentan dari sisi kesehatan maupun ekonomi.

Ia menilai indikator penentu kesejahteraan antara masyarakat umum dan penyandang disabilitas perlu dibedakan. Pasalnya, sejumlah fasilitas yang kerap dianggap sebagai aset bagi masyarakat umum justru merupakan kebutuhan dasar bagi difabel.

Sri mencontohkan rumah berlantai keramik, sepeda motor roda tiga, dan sanggar pelatihan yang berfungsi sebagai sarana mobilitas serta pemberdayaan.

Baca juga: Petani Disabilitas di Bulukumba Raup Puluhan Juta dari Selada Hidroponik

“Kalau rumah kami tidak dikeramik, kami tidak akan bisa berjalan. Kami punya sepeda motor roda tiga, itu kaki kami, karena tanpa motor itu kami tidak bisa ke mana-mana,” ungkapnya.

Difabel Boyolali sampaikan sejumlah aspirasi

Selain kesempatan kerja, Sri juga memohon dukungan permodalan bagi pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) disabilitas.

Ia mengatakan, penyandang disabilitas di Boyolali telah menghasilkan berbagai produk, mulai dari jasa jahit, kuliner, hingga pertukangan. Namun, pengembangan usaha mereka masih terkendala keterbatasan modal.

Sri juga mengusulkan agar penyandang disabilitas dilibatkan dalam program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).

Menurutnya, difabel tidak hanya berperan sebagai penerima manfaat, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai pelaku ekonomi produktif.

Dari sektor pariwisata, Sri mengusulkan agar destinasi wisata di Jateng lebih ramah terhadap penyandang disabilitas melalui penyediaan jalur kursi roda, toilet yang aksesibel, serta sumber daya manusia (SDM) yang memahami etika pelayanan bagi difabel.

Baca juga: Indonesia Arena Jadi Venue Konser F4, Ada Akses Ramah Difabel

“Kami para penyandang disabilitas dan keluarga juga berhak untuk berpariwisata,” tegasnya.

Sri juga meminta dukungan mobil siaga untuk membantu mobilitas penyandang disabilitas. Menurutnya, keterbatasan transportasi masih menjadi salah satu hambatan utama bagi difabel untuk mengikuti pelatihan maupun menjalankan aktivitas produktif.

Terakhir, Sri mengusulkan pengembangan Sanggar Krisnapatra di Boyolali menjadi Balai Latihan Kerja (BLK) Komunitas.

Ia mengungkapkan bahwa sanggar tersebut telah melatih sekitar 600 penyandang disabilitas dan membantu menyalurkan 180 orang menjadi tenaga kerja tetap di berbagai perusahaan sejak 2021.

Namun, fasilitas tersebut belum memenuhi standar sebagai lembaga pelatihan kerja.

“Kami tidak minta dikasihi, kami minta diberi akses dan kesempatan,” tutur Sri. 

Baca juga: Gigih demi Keluarga: Alim, Marbut Difabel Jualan Hewan Kurban Hingga Tidur di Lapak

Terkini Lainnya
Gubernur Jateng Dorong Perusahaan Swasta dan BUMD Beri Ruang untuk Pekerja Disabilitas

Gubernur Jateng Dorong Perusahaan Swasta dan BUMD Beri Ruang untuk Pekerja Disabilitas

Jateng Gayeng
Jalan Randublatung-Cepu yang Rusak Berat Segera Diperbaiki, Pemprov Jateng Siapkan Rp 5,2 Miliar

Jalan Randublatung-Cepu yang Rusak Berat Segera Diperbaiki, Pemprov Jateng Siapkan Rp 5,2 Miliar

Jateng Gayeng
Gubernur Jateng Serahkan Sapi Kurban Seberat 906 Kg untuk Warga Huntara Tegal

Gubernur Jateng Serahkan Sapi Kurban Seberat 906 Kg untuk Warga Huntara Tegal

Jateng Gayeng
Pemprov Jateng Borong Penghargaan Kemendikdasmen Berkat Berbagai Terobosan Pendidikan

Pemprov Jateng Borong Penghargaan Kemendikdasmen Berkat Berbagai Terobosan Pendidikan

Jateng Gayeng
Tumbuh 5,89 Persen dan Lampaui Nasional, Kinerja Ekonomi dan Swasembada Pangan Jateng Panen Pujian

Tumbuh 5,89 Persen dan Lampaui Nasional, Kinerja Ekonomi dan Swasembada Pangan Jateng Panen Pujian

Jateng Gayeng
Gubernur Ahmad Luthfi Ajak Pengusaha China Garap Proyek EBT di Jawa Tengah

Gubernur Ahmad Luthfi Ajak Pengusaha China Garap Proyek EBT di Jawa Tengah

Jateng Gayeng
Tak Lagi Belajar di Rumah Warga, Anak-anak Lereng Merapi Kini Punya SMAN 1 Kemalang

Tak Lagi Belajar di Rumah Warga, Anak-anak Lereng Merapi Kini Punya SMAN 1 Kemalang

Jateng Gayeng
Resmikan Daycare di Ungaran, Gubernur Luthfi: Agar Buruh Kita Maksimal Bekerja

Resmikan Daycare di Ungaran, Gubernur Luthfi: Agar Buruh Kita Maksimal Bekerja

Jateng Gayeng
TPST BLE Banyumas Dipuji Prabowo, Jateng Siap Jadi

TPST BLE Banyumas Dipuji Prabowo, Jateng Siap Jadi "Role Model" Nasional Zero Sampah pada 2028

Jateng Gayeng
Jaga Kondusivitas Wilayah, Gubernur Luthfi Ajak Buruh Rayakan May Day dengan Kegiatan Konstruktif

Jaga Kondusivitas Wilayah, Gubernur Luthfi Ajak Buruh Rayakan May Day dengan Kegiatan Konstruktif

Jateng Gayeng
Lantik 27 Pejabat di Lingkungan Pemprov Jateng, Gubernur Luthfi Tegaskan Tidak Ada Praktik Titipan

Lantik 27 Pejabat di Lingkungan Pemprov Jateng, Gubernur Luthfi Tegaskan Tidak Ada Praktik Titipan

Jateng Gayeng
Turunkan Stunting ke 17,1 Persen, Gubernur Ahmad Luthfi Raih National Governance Award 2026

Turunkan Stunting ke 17,1 Persen, Gubernur Ahmad Luthfi Raih National Governance Award 2026

Jateng Gayeng
Jateng–Aceh Teken Kerja Sama Senilai Rp 1,06 Triliun, Dorong Kolaborasi OPD hingga BUMD

Jateng–Aceh Teken Kerja Sama Senilai Rp 1,06 Triliun, Dorong Kolaborasi OPD hingga BUMD

Jateng Gayeng
Bawa Resep Kepemimpinan Jateng ke Sumatera, Ahmad Luthfi: Kepala Daerah adalah “Manajer Marketing”

Bawa Resep Kepemimpinan Jateng ke Sumatera, Ahmad Luthfi: Kepala Daerah adalah “Manajer Marketing”

Jateng Gayeng
Pemprov Jateng Realisasikan 5.382 Jamban, Taj Yasin Sebut Kebutuhan Masih Tinggi

Pemprov Jateng Realisasikan 5.382 Jamban, Taj Yasin Sebut Kebutuhan Masih Tinggi

Jateng Gayeng
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com