KOMPAS.com - Perekonomian Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta sepanjang 2025 mencatatkan kinerja positif berkat menguatnya sektor berbasis mobilitas, pariwisata, dan konsumsi masyarakat.
Tiga sektor dengan pertumbuhan tertinggi pada 2025 adalah penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh 9,33 persen, diikuti transportasi dan pergudangan sebesar 8,69 persen, serta jasa lainnya yang meningkat 8,46 persen.
Ketiga sektor tersebut menjadi penopang utama laju ekonomi DKI Jakarta di tengah dinamika ekonomi global.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada 5 Februari 2026 mencatat ekonomi DKI Jakarta tumbuh 5,21 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan 2024. Capaian ini melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,11 persen. Kontribusi Jakarta terhadap perekonomian nasional pun tetap terjaga di angka 16,61 persen.
Baca juga: Indef: Pertumbuhan Ekonomi RI 2025 Masih Ditopang Bantuan dan Stimulus
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menilai capaian tersebut mencerminkan kerja sama seluruh elemen kota, mulai dari pemerintah, dunia usaha, hingga masyarakat.
“ Pertumbuhan ekonomi Jakarta yang melampaui rata-rata nasional adalah buah dari kolaborasi. Pemerintah hadir menjaga iklim usaha, dunia usaha bergerak menciptakan nilai tambah, dan warga tetap percaya serta aktif berpartisipasi dalam perekonomian kota,” ujarnya, dilansir dari laman jakarta.go.id, Kamis (5/2/2026).
Dari sisi pengeluaran, perekonomian Jakarta masih didominasi konsumsi rumah tangga dengan kontribusi 62,80 persen.
Sementara itu, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) menyumbang 33,79 persen dan konsumsi pemerintah sebesar 13,20 persen.
Struktur tersebut menegaskan pentingnya menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendorong investasi berkelanjutan.
Baca juga: Hadapi Tantangan Global, Pemerintah Perkuat Daya Beli dan Penyerapan Tenaga Kerja
Pada akhir 2025, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta merancang sejumlah kebijakan untuk menggerakkan aktivitas ekonomi sekaligus memberi ruang bernapas bagi pelaku usaha.
Hasilnya, pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta pada triwulan IV-2025 menguat dengan laju 5,71 persen yoy.
Pada periode tersebut, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 8,40 persen, jasa lainnya meningkat 8,32 persen, dan jasa perusahaan naik 8,11 persen.
“Kami sengaja mendorong stimulus di periode akhir tahun, bukan hanya untuk mengejar angka pertumbuhan, tetapi untuk memastikan roda ekonomi berputar dan lapangan kerja tetap terjaga,” jelas Pramono.
Baca juga: Lebih Prioritas Mana: MBG atau Penciptaan Lapangan Kerja?
Salah satu kebijakan yang diterapkan pada triwulan IV-2025 adalah pemberian insentif pajak untuk memperkuat iklim investasi dan usaha.
Pemprov DKI Jakarta memberikan keringanan pajak barang dan jasa tertentu (PBJT) bagi sektor makanan dan minuman serta jasa perhotelan.
Melalui Keputusan Gubernur Nomor 722 Tahun 2025, Pemprov DKI Jakarta memberikan keringanan pajak sebesar 50 persen pada Agustus–September dan 20 persen pada Oktober–Desember 2025. Kebijakan ini ditempuh sebagai respons atas kenaikan biaya produksi sekaligus untuk mencegah pemutusan hubungan kerja (PHK).
Total nilai keringanan pajak tersebut mencapai Rp 495 miliar dan dinikmati oleh 45.248 objek pajak.
Baca juga: Ketahui Cara Bayar PBB yang Terintegrasi Nomor Objek Pajak dan NIK
Tak hanya itu, Pemprov DKI Jakarta juga memberikan insentif berupa pembebasan pajak reklame di pusat perbelanjaan dan hotel dalam acara Jakarta Festive Wonders.
Strategi tersebut berhasil menumbuhkan realisasi pajak reklame sebesar 8,85 persen dibandingkan bulan sebelumnya, sekaligus meningkatkan realisasi PBJT makanan dan minuman hingga 7,73 persen, serta PBJT jasa perhotelan 9,18 persen dibandingkan November 2025.
Sebagai informasi, Jakarta Festive Wonders merupakan ajang lomba digitalisasi transaksi dan dekorasi pusat perbelanjaan serta hotel di Jakarta. Program ini menargetkan nilai transaksi sekitar Rp 15,25 triliun atau meningkat sekitar 15 persen dibandingkan periode normal.
Berdasarkan proses kurasi bersama asosiasi pusat perbelanjaan dan perhotelan, sebanyak 81 peserta tercatat berpartisipasi.
Baca juga: Resta Pendopo, Rest Area Terbaik yang Dilengkapi Pusat Perbelanjaan
Pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta pada triwulan IV-2025 juga didorong dari meningkatnya kunjungan ke pusat perbelanjaan yang naik 20 persen selama periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru 2025/2026).
Pada periode yang sama, tingkat okupansi hotel meningkat 5 persen, dari 85 persen menjadi 90 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pramono menegaskan, Pemprov DKI Jakarta akan terus menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
“Ke depan, kami terus memastikan kebijakan fiskal dan program pembangunan berpihak pada penguatan daya beli warga, penciptaan lapangan kerja, dan keberlanjutan usaha. Pertumbuhan ekonomi harus dirasakan manfaatnya oleh seluruh warga Jakarta,” pungkasnya.
Baca juga: Purbaya dan DPD Bahas Arah Kebijakan Fiskal dan Penguatan Daerah