JAKARTA, KOMPAS.com– Kehadiran ruang terbuka hijau (RTH) tidak hanya memperindah kota, tetapi juga punya fungsi ekologis di tengah padatnya Ibu Kota. Untuk itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta menargetkan penataan dan pembangunan 93 RTH yang tersebar di lima wilayah.
Salah satunya Taman Bugar di Duri Kelapa, Jakarta Barat. Pada Selasa (30/9/2025), Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung meresmikan taman yang dibangun di atas lahan seluas 2.156 meter persegi itu. Pembangunan ini hasil reses salah satu anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta, Kenneth Herdiyanto.
“Taman Bugar merupakan contoh bagi daerah lain bahwa kolaborasi antara eksekutif dan legislatif mampu mewujudkan fasilitas umum yang bermanfaat bagi masyarakat,” kata Pramono, seperti dikutip dari Jakarta.go.id.
Taman Bugar memiliki fungsi utama sebagai sarana olahraga dengan berbagai fasilitas penunjang, seperti lapangan multifungsi, jogging track, outdoor fitnes, dan playground. Terdapat pula area parkir, bangunan serbaguna, dan tempat duduk yang dapat dipergunakan oleh masyarakat.
“Saya berharap, masyarakat yang ada di sini bisa memanfaatkan fasilitas yang ada secara bebas dan menjaganya bersama,” ucap Pramono.
Kenneth menyampaikan apresiasi kepada Pemprov DKI Jakarta serta Dinas Pertamanan dan Kehutanan (Distamhut) yang telah memberikan dukungan. Ia menilai, Jakarta butuh lebih banyak taman untuk memperkuat fungsi paru-paru kota sekaligus wadah interaksi bagi warga.
Baca juga: Melihat Upaya Konservasi Tanaman dan Fauna Endemik Sulawesi di Taman Kehati Sawerigading Wallacea
“Taman yang kami bangun semua dasarnya dari hasil serap aspirasi. Ada warga yang minta, kami cek. Kalau memang tanahnya adalah aset pemerintah, bisa dikerjakan (jadi taman). DPRD berencana mendorong pembangunan taman baru hasil aspirasi masyarakat tahun depan. Mungkin kami tunggu pembahasan anggaran dulu,” jelas Kenneth.
Pembangunan Taman Bugar menelan biaya hingga Rp 2,7 miliar dengan waktu pengerjaan empat bulan, yaitu sejak Juni 2025. Selain fasilitas olahraga, Taman Bugar dilengkapi sistem resapan air untuk mengurangi risiko banjir ketika curah hujan tinggi.
Pemprov DKI Jakarta bersama Distamhut berencana membangun dan menata RTH di 93 lokasi dengan luas total mencapai 40 hektar. Sebanyak 21 taman akan dibangun baru, sementara 72 lainnya ditata sesuai fungsinya.
Sebagai informasi, pembangunan dan penataan taman telah dilakukan di Jakarta Utara sebanyak 10 lokasi, Jakarta Timur 20 lokasi, dan Jakarta Barat sebanyak 10 lokasi taman. Sedangkan, 11 lokasi taman di Jakarta Pusat telah dikerjakan dan 33 lokasi lainnya di Jakarta Selatan.
Pengamat tata kota, Yayat Supriatna, mendukung penuh upaya Pemprov DKI Jakarta memperbanyak RTH. Menurutnya, pembangunan ataupun penataan taman harus memenuhi standar yang ditetapkan undang-undang serta kebutuhan ekologi bagi Jakarta.
“Memang perlu dilakukan penambahan RTH serta penataan dari yang sudah ada untuk memenuhi standar yang berlaku. Jakarta butuh pengembangan ruang-ruang terbuka yang juga mempertimbangkan fungsi ekologis maupun ekonomi sehingga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Yayat kepada Kompas.com, Senin (6/10/2025).
Baca juga: Saat Habitat Rusak, Monyet Liar Serbu Permukiman Kota
Menurut Yayat, Pemprov DKI Jakarta kemungkinan mengalami masalah keterbatasan “bentang alam” karena kepadatan kota. Hal ini bisa disiasati dengan memanfaatkan aset pemerintah atau bekerja sama dengan pihak swasta.
“Bisa dengan memanfaatkan lahan yang berada di bawah jembatan atau jalan tol untuk membangun RTH. Semantara untuk penataan, seperti yang dilakukan di kawasan Barito, juga bisa dilakukan sebagai pengembangan destinasi wisata serta peningkatan fungsi taman dari sisi ekonomi,” jelasnya.
Terkait penggunaan lahan resesi, seperti di Taman Bugar, Yayat menilai cara itu dapat dilakukan untuk menambah jumlah RTH. Bisa juga dengan memanfaatkan lahan terbatas dengan fungsi maksimal.
“RTH vertikal bisa menjadi alternatif. Ada banyak contohnya, seperti resapan air, roof garden, vertical garden, atau kolam retensi,” ucap Yayat.
Agar RTH bisa berkelanjutan, Yayat menyarankan ada peningkatan pengawasan yang melibatkan komunitas dan masyarakat. Pembangunan dan penataan taman juga harus mempertimbangkan lokasi dan fungsinya.
Ia juga menyarankan pemerintah memperhatikan akses menuju ke taman. Selain itu, untuk menarik perhatian masyarakat, Pemprov DKI Jakarta dapat menggelar aneka kegiatan menarik bekerja sama dengan berbagai pihak.
Baca juga: Waduk Giri Kencana Direvitalisasi, Bakal Dijadikan RTH
Yayat menyebut keterlibatan masyarakat diperlukan untuk mendukung keberlanjutan RTH. Hal ini agar maintenance taman tetap terjaga, termasuk fasilitas serta kehidupan tanaman yang ada di dalamnya.
“Keberlangsungan taman juga penting. Jadi dua arah. Pemerintah menyediakan, sementara masyarakat menjaga,” tuturnya. (Rindu Pradipta Hestya)