JAKARTA, KOMPAS.COM – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta terus mengupayakan peningkatan kesehatan warga. Salah satunya melalui program Kampung Siaga TBC untuk mengentaskan penyakit Tuberkulosis (TBC).
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menyebut Kampung Siaga TBC sebagai wilayah percontohan dalam upaya pencegahan, penemuan kasus, pendampingan pengobatan, hingga edukasi masyarakat terkait tuberkulosis (TBC). Ia menekankan pentingnya peran aktif perangkat warga seperti RW di tingkat kelurahan dalam menekan penyebaran penyakit ini.
“Pemprov DKI Jakarta terus memperkuat gerakan Kampung Siaga TBC sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam menemukan dan mendampingi pasien hingga sembuh. Kami berkomitmen menyediakan layanan TBC yang terpadu, mudah diakses, dan gratis,” ujar Rano, dikutip dari Jakarta.go.id, Kamis (23/10/2025).
Melalui program ini, masyarakat diharapkan terlibat langsung dalam penanganan TBC. Relawan, kader, perangkat wilayah, hingga keluarga pasien didorong untuk aktif berperan.
“Peran warga sangat penting. TBC bisa disembuhkan asal pasien mendapat dukungan penuh dari lingkungannya. Ini praktik baik yang harus ditularkan ke seluruh Jakarta,” tegas Rano.
Baca juga: Tekan Kasus Tuberkulosis, Pemkot Jakut Bentuk Kampung Siaga TBC di 31 Kelurahan
Ia juga menyoroti masih adanya stigma negatif terhadap penderita TBC yang membuat banyak pasien enggan berobat.
“Padahal, TBC bisa sembuh. Justru mereka yang sedang berobat butuh semangat dan dukungan agar lekas pulih. Gerakan ini dimulai dari kampung, demi mewujudkan Jakarta Bebas TBC 2030,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menyampaikan, penemuan kasus TBC di Jakarta meningkat signifikan. Pada 2022 tercatat 45.861 kasus, naik 102 persen dari tahun sebelumnya. Tahun 2023 jumlahnya mencapai 60.420 kasus, dan pada 2024 sebanyak 66.072 kasus. Hingga Oktober 2025, ditemukan 45.468 kasus.
“Kami terus memperkuat kolaborasi agar program Kampung Siaga TBC semakin efektif dalam meningkatkan deteksi kasus dan mempercepat eliminasi TBC,” ujar Ani.
Selain penguatan Pencarian Kasus Aktif (Active Case Finding), Dinkes juga melakukan skrining berbasis masyarakat dan memanfaatkan Aplikasi JakScan untuk mempercepat deteksi dini.
Baca juga: Menkes Beberkan Capaian 1 Tahun Prabowo-Gibran: Cek Kesehatan Gratis hingga Eliminasi TBC
Dukungan juga datang dari pengamat tata kota Nirwono Joga. Ia menilai pendekatan komunitas seperti Kampung Siaga TBC sangat tepat.
“RT dan RW lebih memahami kondisi warganya, termasuk lingkungan dan kebiasaan yang bisa memicu penularan. Penanganan TBC bukan hanya soal pengobatan, tapi juga perbaikan lingkungan,” ujarnya.
Menurut Nirwono, DPRD DKI juga tengah membahas penganggaran untuk menata kawasan padat dan kumuh agar lebih sehat. Anggaran itu diharapkan disetujui dalam RAPBD 2026, sehingga program penataan kawasan dan pemberantasan TBC dapat dimulai tahun depan.
“Kawasan kumuh yang rawan TBC akan menjadi prioritas. Targetnya, dalam lima tahun seluruh wilayah tertata dan bebas TBC,” tuturnya.
Ia menambahkan, sosialisasi juga perlu digencarkan untuk membangun pemahaman warga mengenai penyebab dan pencegahan TBC.
“Gerakan ini harus dijalankan dengan prinsip 3M. Mudah karena melibatkan komunitas, Murah tanpa biaya tinggi, dan Meriah dengan partisipasi masyarakat luas. Hasilnya bisa dilihat dari penurunan jumlah penderita dan kawasan rawan TBC tiap tahun,” ujar Nirwono. (Rindu Pradipta Hestya)