JAKARTA, KOMPAS.com – Dukungan terhadap keberlanjutan operasional fasilitas pengolahan sampah terpadu (TPST) untuk diubah menjadi bahan bakar alternatif, di Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Rorotan, Jakarta Utara, terus mengalir.
Setelah dilakukan berbagai perbaikan dan evaluasi menyusul masukan warga, pengolahan sampah berbasis teknologi tersebut mulai mendapatkan penerimaan yang lebih luas dari masyarakat sekitar.
Sebanyak 30 anggota Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK) se-Kecamatan Cakung mendatangi RDF Plant Rorotan untuk menyampaikan deklarasi dukungan agar fasilitas pengolahan sampah tersebut dapat terus beroperasi. Dukungan itu disampaikan usai para perwakilan LMK melihat langsung proses pengolahan sampah di lokasi, Selasa (10/2/2026).
Deklarasi dukungan disampaikan langsung oleh Ketua Forum Komunikasi LMK se-Kecamatan Cakung Muhammad Syahril, yang hadir bersama perwakilan LMK dari wilayahnya masing-masing.
Baca juga: RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
Ia menyatakan dukungan penuh terhadap pengoperasian RDF Plant Rorotan sebagai solusi pengelolaan sampah yang lebih baik.
“Setelah mendapatkan penjelasan dan mengunjungi langsung RDF Plant Rorotan, kami sudah tercerahkan. Kami melihat, mendengar, dan menyaksikan sendiri prosesnya. Untuk itu, kami mendeklarasikan dukungan terhadap keberadaan RDF Plant Rorotan,” kata Syahril.
Menurutnya, penolakan yang selama ini muncul di masyarakat sebagian besar disebabkan oleh kurangnya pemahaman mengenai dampak positif RDF plant.
Apalagi, lanjut Syahril, sampah merupakan persoalan sehari-hari di tingkat kelurahan. Oleh karenanya, ia menilai bahwa RDF Plant Rorotan merupakan kebutuhan Jakarta, bukan sekadar proyek.
“Sikap ini hadir dari aspirasi warga yang selama ini bersentuhan langsung dengan persoalan sampah di lingkungan tempat tinggal mereka. Sebenarnya, warga membutuhkan kepastian. Dari penjelasan yang kami terima, RDF Plant Rorotan dirancang dengan standar teknis dan lingkungan yang jelas serta ketat,” ucap Syahril.
Baca juga: RDF Rorotan Dinilai Efektif Kurangi Beban Sampah Jakarta
Oleh karena itu, Syahril meminta agar DLH DKI Jakarta melalui UPST Rorotan terus meningkatkan sosialisasi secara jelas dan terbuka.
Ia juga memahami bahwa kehadiran RDF Plant Rorotan tidak hanya berfungsi mengurangi timbunan sampah di tempat pembuangan akhir, tetapi juga mengubah cara pandang terhadap sampah, yaitu dari masalah menjadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan.
“RDF Plant Rorotan memberi harapan baru bagi pengelolaan sampah yang lebih tertib dan berdampak langsung pada kualitas hidup warga. Kami percaya bahwa RDF Rorotan merupakan salah satu solusi yang baik. Sebagai masyarakat, kami juga perlu memberikan dukungan karena persoalan sampah berasal dari kita semua,” tutur Syahril.
Dukungan juga datang dari Trisna Dewa dari LMK RW 14 Jakarta Garden City. Dalam kesempatan itu, Dewa menyadari bahwa sejak adanya komplain dari warga, RDF Plant Rorotan terus melakukan evaluasi.
“Dari diskusi bersama warga, keluhan soal bau sudah menurun. Secara keseluruhan, kondisi operasional sudah lebih baik. Kami akan terus memantau agar manfaat dari RDF Plant Rorotan benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ucap Dewa.
Kepala Unit Pengolahan Sampah Terpadu (UPST) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta Agung Pujo Winarko menyambut baik langkah LMK Kecamatan Cakung yang datang langsung ke RDF Plant Rorotan.
Menurut Agung, dukungan tersebut menjadi kemajuan sekaligus prioritas bagi UPST Rorotan dalam pengoperasian RDF plant ke depan.
“Kami tentunya senang dan berbahagia setelah mendapatkan dukungan dari LMK Kecamatan Cakung, yang wilayahnya juga sangat dekat dengan RDF Plant Rorotan. Dukungan ini tentu menjadi penyemangat bagi kami untuk terus memperbaiki pengoperasian RDF Rorotan,” ujar Agung kepada Kompas.com, Selasa.
Baca juga: Di Tengah Penolakan, Warga Terdekat Justru Dukung RDF Rorotan
Ia menambahkan, deklarasi tersebut menandakan semakin meningkatnya pemahaman warga, khususnya di wilayah Cakung, Cilincing, dan Rorotan, terhadap manfaat RDF plant dalam mengatasi persoalan sampah.
“Ada 16 kecamatan yang sampahnya dikelola oleh RDF Rorotan. Dengan adanya dukungan ini, kami bisa melanjutkan upaya penyelesaian masalah sampah di Jakarta yang semakin serius,” kata Agung.
Ke depan, lanjut dia, DLH DKI Jakarta melalui UPST Rorotan berencana terus menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat, terutama terkait dampak positif RDF plant bagi kebersihan lingkungan.
Upaya pengelolaan sampah juga akan diperkuat mulai dari lingkup paling kecil, yakni rumah tangga hingga tingkat yang lebih tinggi secara bertahap.
Sebagai informasi, RDF Plant Rorotan diresmikan pada November 2025 sebagai langkah konkret Pemprov DKI Jakarta dalam menghadapi tantangan pengolahan sampah ibu kota.
Dalam pelaksanaannya, Pemprov DKI Jakarta terus melakukan evaluasi agar pengoperasian RDF Plant Rorotan berjalan optimal.
Kapasitas pengolahan sampah sempat dikurangi dari 1.000 ton per hari menjadi 750 ton per hari sementara untuk menekan potensi bau, dengan tetap mengacu pada standar teknis RDF plant.
Selain itu, armada pengangkut sampah kini menggunakan truk bak tertutup dengan sistem kompak guna mencegah kebocoran air lindi dan penyebaran bau selama perjalanan menuju RDF Rorotan.
DLH DKI Jakarta juga menambah alat pengendali bau (deodorizer) serta memasang dua stasiun pemantau kualitas udara (SPKU) di kawasan permukiman warga yang berjarak sekitar 4-5 kilometer (km) dari lokasi RDF plant.
Seiring evaluasi dan penyesuaian sistem tersebut, DLH DKI Jakarta terus membuka ruang dialog dan menerima masukan dari masyarakat agar layanan pengolahan sampah semakin ideal serta tidak mengganggu keamanan dan kesehatan warga. (Rindu Pradipta Hestya)