JAKARTA, KOMPAS.com – Mencapai predikat Kota Global menjadi cita-cita besar yang tengah diupayakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan peningkatan di berbagai sektor, mulai dari ekonomi, pembangunan, hingga kebudayaan.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menargetkan posisi Jakarta bisa melesat ke peringkat 58 dalam jajaran kota global dunia pada 2029.
“Saat ini Jakarta masih berada di urutan ke-74 dari 156 kota global. Target kami masuk ke Top 50 pada 2029. Apakah bisa? Saya yakin bisa, asal semua pihak mau bekerja sama,” ujar Pramono, dikutip dari Kompas.com.
Tema Hari Ulang Tahun (HUT) ke-498 Jakarta tahun ini, “Jakarta Kota Global dan Berbudaya”, menjadi cerminan komitmen Pemprov untuk menjadikan Jakarta sebagai kota berdaya saing dan berkelas dunia tanpa kehilangan jati diri budayanya.
Pramono menegaskan, ambisi menjadi kota global tidak berarti menghapus identitas lokal, khususnya budaya Betawi sebagai akar utama Jakarta. “Kami akan membangun Jakarta yang naik peringkat, tapi tidak kehilangan budayanya. Budaya tetap menjadi penanda kekhasan sekaligus daya tarik Jakarta di mata dunia,” katanya.
Baca juga: Cuaca Jakarta Panas Ekstrem, Pramono: Yang penting Bahagia, Hatinya Tak Panas
Budaya Betawi sendiri lahir dari asimilasi berbagai unsur — Melayu, Tionghoa, Arab, India, dan Eropa, yang memberi warna khas pada wajah Jakarta. Budaya ini bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi fondasi yang memperkuat jati diri kota di tengah perubahan zaman.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di acara Sarasehan III Kaukus Muda Betawi: Menyongsong 498 Tahun Kota Jakarta Dan Lembaga Adat Masyarakat Betawi Tahun 2025 di Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara, Senin (2/6).
Pengamat tata kota Yayat Supriatna menilai, budaya dapat menjadi kekuatan besar dalam membangun citra kota.
“Budaya, dalam bentuk seni dan kreativitas, mampu memperkuat nilai-nilai kehidupan masyarakat. Yang penting, pemerintah perlu menyediakan ruang budaya agar tumbuh di tengah hiruk-pikuk Jakarta,” ujarnya.
Yayat mencontohkan Seoul, Korea Selatan, sebagai kota yang sukses memanfaatkan budaya untuk mengangkat citra dan ekonomi kreatifnya. “Kita punya potensi serupa. Pemerintah perlu memperbanyak agenda budaya yang melibatkan komunitas agar menjadi magnet wisata dan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif,” katanya.
Ia menyarankan agar pertunjukan budaya lebih sering hadir di ruang publik, seperti saat car free day atau festival musik kekinian. “Kuncinya inovasi. Gelaran budaya harus menarik dan tidak monoton. Infrastruktur pendukung juga penting agar acara terasa layak dan berkelas,” tambahnya.
Baca juga: Kriteria Ponpes yang Akan Dibantu Pemerintah untuk Bangun Infrastruktur
Terkait perkembangan budaya di Jakarta sebagai salah satu pilar Kota Global, Yayat menilai hal ini memerlukan analisis yang komprehensif. Mulai dari aspek kesiapan sumber daya manusia (SDM) sebagai penggerak dan infrastruktur yang menjadi wadah agar budaya terus tumbuh.
“Budaya mencakup aspek tangible dan intangible, khususnya nilai-nilai yang ditanamkan pada masyarakat. Kota budaya berarti kota yang menanamkan nilai-nilai kebersamaan, membangun kultur menjadi struktur,” jelas Yayat.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Mochamad Miftahullah, menyebut Pemprov DKI tengah mengupayakan acara budaya yang digelar rutin sebagai bagian dari pembangunan ekosistem kebudayaan.
“Kami ingin ekosistem budaya tidak hanya tumbuh dari atas, tetapi juga dari masyarakat. Karena itu kami membuka ruang bagi budaya Betawi agar terus hidup,” ujar Miftah.
Revitalisasi kawasan budaya seperti Kota Tua, Taman Ismail Marzuki, dan Setu Babakan juga dilakukan agar menjadi pusat seni dan budaya. Festival Betawi, pameran, hingga pertunjukan seni di ruang publik akan diperbanyak agar budaya hadir lebih dekat dengan warga.
Baca juga: Pemprov DKI Jakarta Hadirkan Sentra Fauna dan Kuliner Lenteng Agung, Ruang Publik Baru Ikon Jaksel
Pemprov DKI Jakarta juga akan melibatkan sanggar dan komunitas budaya yang menjadi “jantung pewarisan budaya”. Mereka akan difasilitasi untuk tampil di ruang publik serta diberikan insentif agar terus berkembang.
Sejumlah agenda budaya telah berjalan, seperti Lebaran Betawi di Monas pada April 2025, Jakarta dalam Warna pada Juli 2025, serta program Lima Abad Jakarta yang digelar di 500 lokasi mulai tahun ini.
Upaya memperkenalkan budaya Jakarta juga merambah panggung internasional. Jakarta menjadi salah satu dari 19 kota yang berpartisipasi dalam Leadership Exchange Programme (LEP) yang digelar World Cities Culture Forum (WCCF) pada Oktober 2025.
“Jakarta berkolaborasi dengan Milan melalui tema Public Art and Co-Creation. Kami ingin menghadirkan seni publik yang bukan hanya indah, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya Jakarta,” ujar Miftah.
Dalam LEP 2025, Jakarta mengusung program Titik Temu (The Meeting Point) yang mengintegrasikan kegiatan ekonomi, sosial, dan budaya di tingkat komunitas. Program ini diharapkan memperkuat jejaring antarwarga sekaligus mempertegas karakter Jakarta sebagai kota yang berbudaya.
Baca juga: Festival Sains dan Budaya 2026 Resmi Dibuka, Ajak Siswa Bangga Berbudaya dan Bijak Berinovasi
Partisipasi Jakarta di LEP menjadi bukti komitmen Pemprov DKI menjadikan kebudayaan sebagai pilar utama pembangunan kota. Hal ini sejalan dengan visi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029: mewujudkan Jakarta sebagai Kota Global dan Berbudaya. (Rindu Pradipta Hestya)