Amankan Masa Depan Pangan dan Energi, Pemkot Semarang Luncurkan Inovasi Berbasis Lahan Salin

Kompas.com - 13/01/2025, 19:03 WIB
DWN,
Mikhael Gewati

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang kembali menunjukkan komitmen kuat dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dengan meluncurkan inovasi berbasis lahan salin. Inovasi ini diharapkan dapat mengamankan masa depan pangan dan energi. 

Dipicu oleh masalah rob, abrasi, dan salinisasi di kawasan pesisir, Pemkot Semarang bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional ( BRIN) serta PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk untuk menciptakan solusi berkelanjutan.

Penelitian yang dipimpin oleh Peneliti Ahli Utama BRIN Doktor Tri Martini Patria, mengintegrasikan metode life cycle assessment (LCA) guna memastikan bahwa setiap tahap pengelolaan lahan dilakukan dengan dampak lingkungan yang minimal.

Baca juga: Investasi Berdampak Bisa Wujudkan Praktik Bisnis Ramah Lingkungan

Pemkot Semarang memegang peran kunci dalam memanfaatkan lahan salin di pesisir untuk meningkatkan produksi pangan dan energi. Program ini melibatkan penanaman padi biosalin, budi daya rumput laut, serta pengolahan biomassa menjadi energi terbarukan

Di bawah kepemimpinan Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu, yang akrab disapa Mbak Ita, Pemkot Semarang telah memulai program penanaman padi biosalin di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, sejak 2024. 

Program tersebut ditargetkan memperluas area penanaman hingga 400 hektar (ha) lahan tidur, dengan harapan meningkatkan ketahanan pangan lokal dan memanfaatkan lahan yang sebelumnya tidak produktif.

Baca juga: Peringatan Banjir Rob di Pantura Jateng Malam Ini, Mulai 19.00 WIB

"Kami mengubah tantangan rob menjadi peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ucap Mbak Ita dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (13/1/2025).

Pemanfaatan biomassa dan energi bersih

Selain padi biosalin, Pemkot Semarang juga berperan dalam mendorong riset pemanfaatan biomassa dari lahan salin. 

Pemkot Semarang mendukung pengembangan energi bersih yang berasal dari residu pertanian dan rumput laut sebagai bagian dari transisi menuju energi berkelanjutan. Proyek ini selaras dengan target pemerintah pusat untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Baca juga: Di Negara Minyak, Sekjen PBB Minta Subsidi Bahan Bakar Fosil Dipangkas

Komitmen Pemkot Semarang terhadap keberlanjutan juga ditunjukkan melalui dukungan penuh pada proyek Petasol, yaitu pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) alternatif. 

Teknologi Pirolisis Multikondensor ini telah diterapkan di Kecamatan Tambaklorok dan memiliki potensi besar untuk menyediakan energi murah serta ramah lingkungan bagi petani. 

Mbak Ita menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, riset, dan sektor swasta dalam inovasi lahan salin ini. 

Baca juga: Ducati Pantah 500L, Inovasi Ducati di Awal 1980

"Kolaborasi adalah kunci keberhasilan dalam melawan rob dan memaksimalkan potensi lahan salin untuk keberlanjutan," katanya. 

Dukungan semua pihak dalam menciptakan ekosistem kolaboratif ini menjadi fondasi penting bagi masa depan berkelanjutan kota dan wilayah sekitarnya.

Terkini Lainnya
DLH Semarang Minta Maaf, Tumpahan Sampah di Jalan Sultan Agung Cepat Dibersihkan

DLH Semarang Minta Maaf, Tumpahan Sampah di Jalan Sultan Agung Cepat Dibersihkan

Semarang
Arus Mudik dan Balik Lebaran di Semarang Terpantau Lancar dan Kondusif

Arus Mudik dan Balik Lebaran di Semarang Terpantau Lancar dan Kondusif

Semarang
Perayaan Idul Fitri di Balai Kota Semarang Jadi Momentum Perkuat Toleransi dan Pererat Kebersamaan

Perayaan Idul Fitri di Balai Kota Semarang Jadi Momentum Perkuat Toleransi dan Pererat Kebersamaan

Semarang
Shalat Idul Fitri di Balai Kota Semarang, Ini Jadwal dan Rangkaian Acaranya

Shalat Idul Fitri di Balai Kota Semarang, Ini Jadwal dan Rangkaian Acaranya

Semarang
Mobil Pelat Merah Masih Beroperasi Saat Lebaran, Ini Penjelasan Wali Kota Semarang

Mobil Pelat Merah Masih Beroperasi Saat Lebaran, Ini Penjelasan Wali Kota Semarang

Semarang
Sinergi Pemuda Semarang Dirikan Posko Mudik Lebaran, Walkot Agustina: Semangat Gotong Royong Masih Kuat

Sinergi Pemuda Semarang Dirikan Posko Mudik Lebaran, Walkot Agustina: Semangat Gotong Royong Masih Kuat

Semarang
Dukung Kelancaran Arus Mudik, Pemkot Semarang Dirikan Posko Kemanusiaan Lebaran di 2 Titik

Dukung Kelancaran Arus Mudik, Pemkot Semarang Dirikan Posko Kemanusiaan Lebaran di 2 Titik

Semarang
Program Mudik Gratis 2026, Pemkot Semarang Pulangkan 350 Perantau dari Jakarta

Program Mudik Gratis 2026, Pemkot Semarang Pulangkan 350 Perantau dari Jakarta

Semarang
Respons Laporan Warga, Wali Kota Semarang Siapkan Betonisasi Masif dan Perbaikan Rutin di Jalan Citarum

Respons Laporan Warga, Wali Kota Semarang Siapkan Betonisasi Masif dan Perbaikan Rutin di Jalan Citarum

Semarang
Perkuat Tanggul Dinar Indah, Wali Kota Semarang Instruksikan Penanganan Banjir Serentak di Berbagai Titik

Perkuat Tanggul Dinar Indah, Wali Kota Semarang Instruksikan Penanganan Banjir Serentak di Berbagai Titik

Semarang
Wali Kota Semarang Pastikan 97 Persen Jalan Kota Siap Sambut Pemudik Lebaran

Wali Kota Semarang Pastikan 97 Persen Jalan Kota Siap Sambut Pemudik Lebaran

Semarang
Jelang Lebaran, Walkot Semarang Apresiasi Sinergi Polri-TNI Jaga Kondusivitas Kota

Jelang Lebaran, Walkot Semarang Apresiasi Sinergi Polri-TNI Jaga Kondusivitas Kota

Semarang
Siaga Jelang Lebaran, Walkot Semarang Pastikan Sinergi Lintas Sektor Amankan Mudik dan Harga Pangan

Siaga Jelang Lebaran, Walkot Semarang Pastikan Sinergi Lintas Sektor Amankan Mudik dan Harga Pangan

Semarang
Mudik Lewat Semarang? Cek Kondisi Jalan Real Time di Portal Info Mudik 2026

Mudik Lewat Semarang? Cek Kondisi Jalan Real Time di Portal Info Mudik 2026

Semarang
Mudik Gratis Semarang Dimulai, Walkot Agustina Lepas Bus Penjemput Pemudik di Jakarta

Mudik Gratis Semarang Dimulai, Walkot Agustina Lepas Bus Penjemput Pemudik di Jakarta

Semarang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com