Penerbangan Semarang-Karimunjawa Sukses, Gubernur Luthfi Berencana Buka Penerbangan di Daerah Lain

Kompas.com - 04/07/2025, 16:35 WIB
I Jalaludin S,
DWN

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Gubernur Jawa Tengah ( Jateng) Ahmad Luthfi menyatakan, penerbangan perdana rute Kota Semarang- Karimunjawa, Kabupaten Jepara, menjadi momentum untuk menumbuhkan perekonomian baru.

"Ini bukti komitmen untuk menumbuhkan ekonomi wilayah kami agar merata. Pulau-pulau terluar daerah kami akan dikoneksikan dengan adanya suatu penerbangan," katanya dalam siaran pers.

Luthfi mengatakan itu dalam acara Inaugural Flight Susi Air Rute Semarang-Karimunjawa di Terminal Keberangkatan Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang, Jumat (4/7/2025).

Oleh karena itu, Luthfi akan mengkaji peluang pembukaan penerbangan perintis di sejumlah wilayah di Jateng.

Apalagi, beberapa daerah telah memiliki bandara kecil, seperti di Blora, Purbalingga, dan Cilacap.

Baca juga: Susi Air Layani Rute Semarang-Karimunjawa Tiga Kali Seminggu, Ini Jadwal dan Harga Tiketnya

Penerbangan perintis tersebut diproyeksikan untuk mendukung status Bandara Internasional Ahmad Yani sebagai bandara penumpang dan logistik, serta mendukung Bandara Internasional Khusus Haji Adi Soemarmo yang izinnya telah disetujui pemerintah pusat.

Luthfi menjelaskan, untuk mengembangkan bandara-bandara tersebut, Pemperov Jateng akan menggandeng semua pihak, di antaranya badan usaha milik daerah (BUMD) dan badan usaha milik negara (BUMN).

Ia juga mengajak pelaku usaha, seperti Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) dan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin).

Menurut Luthfi, kunci bergeraknya investasi dan pertumbuhan ekonomi adalah kecepatan dan kemudahan transportasi.

Mantan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jateng itu menambahkan, penerbangan perintis akan mendukung kerja sama dengan provinsi lain yang telah terjalin.

Baca juga: Tambak Udang Dilarang di Karimunjawa, Pengusaha Diminta Beralih Kembangkan Pariwisata

Dia mencontohkan kerja sama dengan Kepulauan Riau, Maluku Utara, dan Lampung, terutama terkait pengembangan pariwisata.

"Di Kepulauan Riau itu ada event organizer (EO) untuk kegiatan internasional, kami akan bawa ke sini. Tugas gubernur, bupati, dan wali kota adalah manajer marketing, dan Jateng itu menarik," ujarnya.

Adapun upaya memperbanyak rute penerbangan perintis itu juga menjadi jawaban atas kesiapan Maskapai Susi Air untuk menyediakan penerbangan ke sejumlah daerah di Jateng.

"Secara tidak langsung, ini menegaskan kehadiran negara dalam mempercepat investasi," jelas Luthfi.

Membuka wilayah terisolasi

Acara Inaugural Flight Susi Air Rute Semarang-Karimunjawa di Terminal Keberangkatan Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang, Jumat (4/7/2025).
DOK. Humas Pemprov Jateng Acara Inaugural Flight Susi Air Rute Semarang-Karimunjawa di Terminal Keberangkatan Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang, Jumat (4/7/2025).

Pemilik Maskapai Susi Air, Susi Pudjiastuti mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk terus membuka isolasi wilayah-wilayah pulau terluar, tidak hanya di luar Pulau Jawa, tetapi juga di dalam Pulau Jawa. 

Baca juga: Ahmad Luthfi Titip Aspirasi ke DPD, Minta Giant Sea Wall Pantura Jateng Jadi Prioritas

Sebab, koneksi antardaerah di Jawa masih memerlukan penguatan karena waktu tempuh darat bisa mencapai delapan jam.

"Dengan adanya breakthrough transportation ini, perjalanan udara akan mempercepat waktu tempuh, seperti ke Karimunjawa yang hanya satu jam (dari Semarang). (Kalau) menggunakan kapal laut bisa memakan waktu delapan jam dan terhambat jika ada ombak besar," ujar Susi.

Susi mencontohkan, jarak tempuh Semarang-Cilacap memakan waktu sekitar 4-5 jam jika menggunakan transportasi darat.

Di sisi lain, penerbangan langsung dapat mempersingkat waktu tempuh dan mempermudah akses bagi investor untuk datang karena lebih mudah dijangkau.

"Kebanyakan orang-orang penting itu yang tidak banyak dimiliki adalah waktu. Uang banyak untuk mereka investasikan. Modal besar, tetapi waktunya tidak banyak. Breakthrough flight ini juga dapat menghidupkan ekonomi dan pariwisata," kata Susi.

Susi menambahkan bahwa Bandara Internasional Ahmad Yani dapat menjadi bandara internasional yang optimal apabila memiliki banyak feeder untuk rute-rute kecil.

Baca juga: Trans Jateng Tambah Koridor, Dishub Minta Pemda Sediakan Feeder Lokal

Keberlanjutan penerbangan juga dapat terjaga. Terkait hal ini, Susi Air siap jika Pemprov Jateng membutuhkan lebih banyak penerbangan perintis.

"Kalau Karimunjawa-Semarang butuh empat sampai lima penerbangan per hari kami siap. Mau Semarang-Cilacap kami siap. Tentu dengan dukungan seluruh jajaran Pemprov Jateng dan Ahmad Yani Airport," jelas Susi.

Susi menyebutkan, pihaknya merencanakan penerbangan rute Jogja-Semarang yang hanya memakan waktu 30 menit, dibandingkan 2-3 jam menggunakan mobil.

“Kami siap menerbangi semua kota/kabupaten di Jateng ke Ibu Kota Jateng," kata mantan Menteri Kelautan dan Perikanan itu. 

Baca juga: Trans Jateng Targetkan 10 Koridor Beroperasi Sebelum 2027, Armada Lama Siap Diremajakan

Terkini Lainnya
Gerak Cepat, Gubernur Ahmad Luthfi Pastikan Penanganan

Gerak Cepat, Gubernur Ahmad Luthfi Pastikan Penanganan "Paripurna" bagi Korban Bencana Pemalang

Jateng Gayeng
Antisipasi Banjir dan Longsor, Pemprov Jateng Dorong Rehabilitasi Hutan dan Lahan

Antisipasi Banjir dan Longsor, Pemprov Jateng Dorong Rehabilitasi Hutan dan Lahan

Jateng Gayeng
Pemprov Jateng Pulangkan 100 Warga Terdampak Banjir Sumatera, Dapat Bantuan Modal Usaha

Pemprov Jateng Pulangkan 100 Warga Terdampak Banjir Sumatera, Dapat Bantuan Modal Usaha

Jateng Gayeng
Polemik Tambang Gunung Slamet, Gubernur Luthfi Utamakan Keselamatan Lingkungan dan Warga

Polemik Tambang Gunung Slamet, Gubernur Luthfi Utamakan Keselamatan Lingkungan dan Warga

Jateng Gayeng
Gubernur Ahmad Luthfi Ajak Perantau Asal Jateng Bangun Kampung Halaman

Gubernur Ahmad Luthfi Ajak Perantau Asal Jateng Bangun Kampung Halaman

Jateng Gayeng
Peringati Hari Antikorupsi Sedunia, Gubernur Ahmad Luthfi Ajak Jajaran Perkuat Budaya Integritas

Peringati Hari Antikorupsi Sedunia, Gubernur Ahmad Luthfi Ajak Jajaran Perkuat Budaya Integritas

Jateng Gayeng
Survei Litbang Kompas: 95,8 Persen Warga Jateng Nilai Program Kesehatan Perlu Dilanjutkan, Bukti Kesadaran Kesehatan Meningkat

Survei Litbang Kompas: 95,8 Persen Warga Jateng Nilai Program Kesehatan Perlu Dilanjutkan, Bukti Kesadaran Kesehatan Meningkat

Jateng Gayeng
Pemprov Jateng Raih Penghargaan Layanan Kesehatan Terbaik, Hasil Kolaborasi Program Speling

Pemprov Jateng Raih Penghargaan Layanan Kesehatan Terbaik, Hasil Kolaborasi Program Speling

Jateng Gayeng
Litbang Kompas: 73,2 Persen Warga Jateng Optimistis dengan Kepemimpinan Ahmad Luthfi, Jadi Modal Akselerasi Pembangunan

Litbang Kompas: 73,2 Persen Warga Jateng Optimistis dengan Kepemimpinan Ahmad Luthfi, Jadi Modal Akselerasi Pembangunan

Jateng Gayeng
Operasi Kemanusiaan di Sumbar, Pemprov Jateng Kirim Bantuan Rp 1,3 Miliar dan 40 Relawan

Operasi Kemanusiaan di Sumbar, Pemprov Jateng Kirim Bantuan Rp 1,3 Miliar dan 40 Relawan

Jateng Gayeng
Jateng Surplus Padi, Gubernur Ahmad Luthfi Dinobatkan Sebagai Kepala Daerah Swasembada Pangan

Jateng Surplus Padi, Gubernur Ahmad Luthfi Dinobatkan Sebagai Kepala Daerah Swasembada Pangan

Jateng Gayeng
Gubernur Jateng: Malaysia dan China Bakal Investasi Rp 62,3 Triliun di Jawa Tengah

Gubernur Jateng: Malaysia dan China Bakal Investasi Rp 62,3 Triliun di Jawa Tengah

Jateng Gayeng
Pemprov Jateng Pertahankan Capaian TPID Terbaik Tingkat Provinsi

Pemprov Jateng Pertahankan Capaian TPID Terbaik Tingkat Provinsi

Jateng Gayeng
Kebijakan Sarung Batik ASN Jateng Dongkrak UMKM, Menuai Apresiasi Publik

Kebijakan Sarung Batik ASN Jateng Dongkrak UMKM, Menuai Apresiasi Publik

Jateng Gayeng
Kualitas Data Diakui Nasional, Pemprov Jateng Raih Penghargaan dari Kemendukbangga

Kualitas Data Diakui Nasional, Pemprov Jateng Raih Penghargaan dari Kemendukbangga

Jateng Gayeng
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com