KOMPAS.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) menandatangani nota kesepahaman kerja sama dengan Provinsi Fujian, China, untuk memperkuat kolaborasi di berbagai sektor strategis.
Penandatanganan dilakukan oleh Gubernur Jateng Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Provinsi Fujian, Lin Ruiliang, di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Selasa (24/6/2025).
Kerja sama tersebut mencakup bidang perekonomian, kelautan, pariwisata, serta mitigasi bencana kemaritiman, mengingat kedua provinsi memiliki potensi besar di sektor kemaritiman.
“Hari ini kami menerima kunjungan Wakil Gubernur Fujian bersama Wakil Wali Kota Zhangzhou untuk melanjutkan kerja sama sister province yang telah terjalin sejak 2003,” ujar Ahmad Luthfi melalui siaran persnya, Selasa.
Nota kesepahaman untuk sektor kelautan dan perikanan ditandatangani Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Tengah Endi Faiz Effendi dan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Fujian Yan Zhihuang.
Baca juga: BNNP Jateng Bongkar Jaringan Narkoba Tegal, Barang Datang dari Jakarta via Kereta
Endi menyampaikan, ruang lingkup kerja sama dengan Fujian mencakup teknologi budi daya dan pengolahan hasil laut, pengembangan sumber daya manusia (SDM) perikanan, serta mitigasi bencana maritim.
"Ada juga kegiatan yang sifatnya untuk mengundang investasi di Jateng terkait dengan industri kelautan dan perikanan," jelasnya.
Endi menyebutkan, produksi hasil kelautan dan perikanan di Jateng terus mengalami pertumbuhan positif, terutama dalam lima tahun terakhir.
China juga menjadi salah satu tujuan ekspor utama untuk komoditas kelautan Jateng, seperti ikan olahan dan ikan segar.
“Selama ini, China merupakan negara tujuan ekspor terbesar Indonesia untuk produk olahan hasil laut,” ujar Endi.
Baca juga: 110 Rumah Terendam Rob di Demak, Ini 2 Solusi dari Pemprov Jateng
Sementara itu, Wakil Gubernur Fujian Lin Ruiliang mengatakan, Provinsi Fujian memiliki wilayah laut yang luas dan kaya hasil maritim. Hasil produksi dari sektor ini menjadi penopang kebutuhan pangan di China.
Menurutnya, kesamaan potensi yang dimiliki Fujian dan Jateng menjadi dasar kuat untuk memperdalam kolaborasi.
“Saya berharap kedua provinsi dapat mengembangkan kerja sama di berbagai aspek khususnya bidang kelautan perikanan," kata Lin.
Ia juga menyebutkan bahwa Fujian memiliki industri manufaktur kelautan yang cukup maju, termasuk kapal perikanan berbasis tenaga listrik yang saat ini telah dipasarkan ke Indonesia.
Baca juga: Atasi Rob di Demak, Pemprov Jateng Gunakan Pompanisasi dan Kapal Fiber untuk Pelajar
"Kami sangat berharap perjanjian yang ditandatangani hari ini segera terealisasi," jelas Lin.
Produksi perikanan tangkap di Jateng terus menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun.
Pada 2018 tercatat sebanyak 309.759 ton, meningkat menjadi 331.493 ton pada 2019, lalu 343.587 ton pada 2020, dan 351.238 ton pada 2021.
Pada 2022 angkanya mencapai 366.912 ton, kemudian naik menjadi 372.517 ton pada 2023, dan diperkirakan sekitar 379.124 ton pada 2024.
Sementara itu, produksi perikanan budi daya juga mengalami perkembangan signifikan.
Pada 2018 tercatat sebanyak 623.945 ton, lalu meningkat menjadi 656.738 ton pada 2019, 668.402 ton pada 2020, 693.116 ton pada 2021, dan 707.225 ton pada 2022.
Angka tersebut terus naik menjadi 718.909 ton pada 2023 dan diperkirakan mencapai 732.480 ton pada 2024.
Komoditas unggulan sektor perikanan di Jateng meliputi ikan nila, lele, bandeng, udang vaname, dan gurame.
Dalam lima tahun terakhir, ekspor hasil kelautan Jateng terus meningkat dengan negara tujuan utama, seperti China, Amerika Serikat, Jepang, Vietnam, dan Malaysia.
Baca juga: Pemprov Jateng Hibahkan Rp 125,2 MIliar APBD 2025 untuk 1.248 Ormas
Komoditas ekspor utama meliputi cumi-cumi, rajungan, udang, dan ikan ayam-ayam. Jateng juga memiliki potensi besar dalam produksi garam.
Pada 2024, ekspor perikanan Jateng ke China tercatat sebesar 63.196,11 ton. Komoditas yang diekspor mencakup ikan kaca piring, ikan kurisi, cumi-cumi, sotong, ikan tenggiri, ikan kakap, tiram, udang, ikan makarel, dan gurita.
Permintaan khusus dari China terhadap cumi sirip panjang (Loligo pealei) dari Jateng bahkan mencapai sekitar 95 ton dengan nilai sekitar Rp 18 miliar.