Peduli Spesies Endemik Merapi, Pria Ini Buka Kelas Adopsi Anggrek di Hutan

Kompas.com - 22/02/2021, 11:28 WIB
DWN,
A P Sari

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Berburu anggrek merupakan profesi yang tidak bisa ditinggalkan Musimin. Untuk menyelamatkan satu persatu jenis anggrek, ia pun rela berkeliling hutan-hutan di Gunung Merapi.

Hingga saat ini, Musimin telah berhasil mengumpulkan 110 spesies anggrek endemik Merapi dari total 173 spesies.

"Dari kekhawatiran akan punahnya anggrek endemik ini, saya akhirnya berburu anggrek-anggrek yang selamat dari sapuan wedus gembel," katanyan dalam keterangan tertulis yang Kompas.com terima, Senin (22/2/2021).

Profesi berburu Anggrek dilakoni Musimin sejak meletusnya Gunung Merapi pada 1994. Tragedi ini telah meluluhlantakkan kawasan hutan setempat.

Baca juga: Menengok Budidaya Anggrek di Eks Lokalisasi Sememi

Termasuk kawasan Hutan Bingungan, yang oleh Musimin disebut sebagai kotanya Anggrek.

Dari bekal pengalaman menghafal dan memahami seluk beluk anggrek secara mandiri, Musimin pun bertekad membuka kelas adopsi anggrek di hutan.

Dibukanya kelas adopsi anggrek bertujuan untuk memberi pemahaman dan pengalaman terhadap masyarakat.

Adapun tata cara yang diterapkan Musimin adalah mengajak masyarakat untuk "memiliki" anggrek dengan menanam langsung di alam bebas.

Baca juga: Tips Sirami Anggrek agar Tumbuh Subur

Sejak diusulkan Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo sekitar tiga bulan lalu, saat ini sekitar 74 orang telah mengikuti program itu. Bahkan, satu di antaranya adalah jurnalis asal Prancis.

Pecinta anggrek dan tanaman hias asal Sleman Ongky Fradana mengungkapkan, cara-cara yang diterapkan Musimin dalam merawat anggrek terbilang langka.

Ia sangat mengapresiasi Musimin dalam menyalurkan kecintaannya terhadap tanaman dan alam.

"Saya dan beberapa teman juga ketularan mencintai anggrek dari Pak Musimin. Sekarang, kami membuat komunitas yang diisi pemuda pecinta tanaman dan alam," ucap Ongky.

Baca juga: Ketahui, Bahan Pot Terbaik untuk Menanam Anggrek

Memperbaiki tata kelola Anggrek Merapi

Senada dengan para pecinta anggrek, bagi mahasiswa biologi dan pecinta alam di Yogyakarta, Musimin layaknya perpustakaan berjalan. Terlebih ketika membicarakan anggrek.

Bahkan, kekaguman juga dilontarkan Ganjar saat bertandang ke kediaman Musimin di Turgo, Sleman, Yogyakarta.

Musimin mengatakan, obrolannya dengan Ganjar jadi pemantik pemikirannya untuk memperbaiki tata kelola anggrek Merapi yang ia miliki.

“Saya ingin membuat media sosial (medsos) dan website yang berisi seluruh data yang selama ini hanya disimpan dalam pikiran,” imbuhnya.

Baca juga: Empat Kunci Merawat Anggrek Tumbuh Indah

Website itu, lanjut Musimin, sudah bisa mengunggah beberapa konten. Selanjutnya, tinggal proses teknis memasukkan data dan penjelasan yang membutuhkan cukup banyak waktu.

Musimin mengungkapkan, dalam membuka website ia seringkali menemukan kendala. Salah satu kendala yang ia hadapi adalah ketidakstabilan jaringan internet.

Namun, setelah Ganjar membantu pemasangan WiFi dan pemancar, Musimin pun merasa lega.

Sementara itu, untuk pengelolaan website anggrekmerapi.com, ia dibantu anaknya, yakni Dwi Musimin.

Baca juga: Lindungi Anggrek Unik Paling Langka, Peneliti Rahasiakan Lokasinya

Pada kesempatan yang sama, Ganjar menjelaskan, Musimin memang layak mendapatkan penghormatan yang tinggi

Penghormatan itu diberikan Ganjar dalam rangka mengapresiasi kontribusi Musimin dalam merawat tanaman dari ordo asparagales tersebut.

“Daya juang beliau luar biasa. Karena upaya beliau, banyak anggrek yang masuk kategori langka akhirnya terselamatkan,” ujar Ganjar ketika kembali mengunjungi kediaman Musimin, Minggu (21/2/2021).

Ganjar berharap, program digitalisasi dapat membantu perjuangan Musimin dalam membudidayakan anggrek.

Baca juga: Menikmati Sejuknya Hutan Anggrek di Era New Normal

“Semoga adanya hal ini, bisa semakin banyak dimanfaatkan orang yang membutuhkan," kata Ganjar.

Terkini Lainnya
Gerak Cepat, Gubernur Ahmad Luthfi Pastikan Penanganan

Gerak Cepat, Gubernur Ahmad Luthfi Pastikan Penanganan "Paripurna" bagi Korban Bencana Pemalang

Jateng Gayeng
Antisipasi Banjir dan Longsor, Pemprov Jateng Dorong Rehabilitasi Hutan dan Lahan

Antisipasi Banjir dan Longsor, Pemprov Jateng Dorong Rehabilitasi Hutan dan Lahan

Jateng Gayeng
Pemprov Jateng Pulangkan 100 Warga Terdampak Banjir Sumatera, Dapat Bantuan Modal Usaha

Pemprov Jateng Pulangkan 100 Warga Terdampak Banjir Sumatera, Dapat Bantuan Modal Usaha

Jateng Gayeng
Polemik Tambang Gunung Slamet, Gubernur Luthfi Utamakan Keselamatan Lingkungan dan Warga

Polemik Tambang Gunung Slamet, Gubernur Luthfi Utamakan Keselamatan Lingkungan dan Warga

Jateng Gayeng
Gubernur Ahmad Luthfi Ajak Perantau Asal Jateng Bangun Kampung Halaman

Gubernur Ahmad Luthfi Ajak Perantau Asal Jateng Bangun Kampung Halaman

Jateng Gayeng
Peringati Hari Antikorupsi Sedunia, Gubernur Ahmad Luthfi Ajak Jajaran Perkuat Budaya Integritas

Peringati Hari Antikorupsi Sedunia, Gubernur Ahmad Luthfi Ajak Jajaran Perkuat Budaya Integritas

Jateng Gayeng
Survei Litbang Kompas: 95,8 Persen Warga Jateng Nilai Program Kesehatan Perlu Dilanjutkan, Bukti Kesadaran Kesehatan Meningkat

Survei Litbang Kompas: 95,8 Persen Warga Jateng Nilai Program Kesehatan Perlu Dilanjutkan, Bukti Kesadaran Kesehatan Meningkat

Jateng Gayeng
Pemprov Jateng Raih Penghargaan Layanan Kesehatan Terbaik, Hasil Kolaborasi Program Speling

Pemprov Jateng Raih Penghargaan Layanan Kesehatan Terbaik, Hasil Kolaborasi Program Speling

Jateng Gayeng
Litbang Kompas: 73,2 Persen Warga Jateng Optimistis dengan Kepemimpinan Ahmad Luthfi, Jadi Modal Akselerasi Pembangunan

Litbang Kompas: 73,2 Persen Warga Jateng Optimistis dengan Kepemimpinan Ahmad Luthfi, Jadi Modal Akselerasi Pembangunan

Jateng Gayeng
Operasi Kemanusiaan di Sumbar, Pemprov Jateng Kirim Bantuan Rp 1,3 Miliar dan 40 Relawan

Operasi Kemanusiaan di Sumbar, Pemprov Jateng Kirim Bantuan Rp 1,3 Miliar dan 40 Relawan

Jateng Gayeng
Jateng Surplus Padi, Gubernur Ahmad Luthfi Dinobatkan Sebagai Kepala Daerah Swasembada Pangan

Jateng Surplus Padi, Gubernur Ahmad Luthfi Dinobatkan Sebagai Kepala Daerah Swasembada Pangan

Jateng Gayeng
Gubernur Jateng: Malaysia dan China Bakal Investasi Rp 62,3 Triliun di Jawa Tengah

Gubernur Jateng: Malaysia dan China Bakal Investasi Rp 62,3 Triliun di Jawa Tengah

Jateng Gayeng
Pemprov Jateng Pertahankan Capaian TPID Terbaik Tingkat Provinsi

Pemprov Jateng Pertahankan Capaian TPID Terbaik Tingkat Provinsi

Jateng Gayeng
Kebijakan Sarung Batik ASN Jateng Dongkrak UMKM, Menuai Apresiasi Publik

Kebijakan Sarung Batik ASN Jateng Dongkrak UMKM, Menuai Apresiasi Publik

Jateng Gayeng
Kualitas Data Diakui Nasional, Pemprov Jateng Raih Penghargaan dari Kemendukbangga

Kualitas Data Diakui Nasional, Pemprov Jateng Raih Penghargaan dari Kemendukbangga

Jateng Gayeng
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com