JAKARTA, KOMPAS.com – Ahli Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB) Haryo S Tomo menilai Refuse Derived Fuel (RDF) plant merupakan salah satu solusi yang sesuai untuk menangani persoalan sampah Jakarta yang mencapai 7.000 hingga 8.000 ton per hari.
Menurutnya, keberadaan RDF plant melengkapi sistem pengelolaan sampah yang sudah diterapkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, mulai dari tempat penampungan sementara (TPS) hingga tempat pemrosesan akhir (TPA).
“Posisi RDF plant sebagai komplemen atau pelengkap dari hierarki pengelolaan sampah yang sudah ada di Jakarta, yaitu TPS dan TPA. Posisinya ada di antara TPS dan TPA, intermediate, dengan menggunakan teknologi drying. Bila dibandingkan dengan metode pengolahan sampah lainnya, teknologi ini tepat untuk mengatasi sampah Jakarta,” kata Haryo kepada Kompas.com, Kamis (26/2/2026).
Sebagai kota besar, Jakarta menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jakarta 2022–2023, terdapat lebih dari 800 hingga 900 TPS yang tersebar di lima wilayah DKI Jakarta, termasuk TPS Reduce-Reuse-Recycle (3R) dan pool container.
Sampah dari titik-titik tersebut diangkut oleh sekitar 1.300 truk setiap hari menuju TPA Bantargebang, Jawa Barat.
Disitat dari Kompas.com, Senin (15/12/2025), TPA yang beroperasi sejak 1989 itu kini telah mencapai sekitar 80 persen kapasitas, dengan ketinggian gunungan sampah mencapai 40–50 meter. TPA Bantargebang diperkirakan akan mengalami krisis daya tampung pada 2030–2031.
Baca juga: Lubernya Tumpukan Sampah di TPS Waduk Cincin Imbas Longsor Bantargebang
Untuk mengurangi beban tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta membangun RDF Plant Bantargebang yang mulai beroperasi pada Juni 2023 setelah melalui uji coba pada tahun sebelumnya.
Fasilitas RDF Bantargebang mampu mengolah hingga 2.000 ton sampah per hari, terdiri dari 1.000 ton sampah baru dan 1.000 ton sampah lama. Hasil olahannya dikirim kepada offtaker sebagai bahan bakar alternatif pengganti batubara.
DLH kemudian membangun RDF plant kedua di Rorotan, Jakarta Utara, pada Mei 2024. Setelah melalui sejumlah uji coba, RDF Plant Rorotan resmi beroperasi pada Desember 2025. Fasilitas ini memiliki kapasitas 2.000 hingga 2.500 ton sampah per hari, yang saat ini baru mengolah 600-700 ton per hari menyusul evaluasi dan masukan warga sekitar.
Pada kesempatan tersebut, Haryo menjelaskan, karakter sampah Jakarta yang cenderung campuran dan mudah membusuk membuat proses pengolahan di tingkat awal tidak selalu optimal.
Sampah yang tidak dapat diolah di TPS kemudian diproses di RDF plant melalui pencacahan, pemilahan lanjutan, dan pengeringan.
“Di daerah lain, pengolahan sampah dilakukan di level TPS dengan proses pemusnahan. Pemprov DKI Jakarta mengambil langkah berbeda karena proses intermediate dilakukan di RDF plant dengan pengeringan. Hasilnya dapat dimanfaatkan industri,” ujar Haryo.
Baca juga: DLH Jakarta Gandeng Ahli Lingkungan untuk Evaluasi Sumber Kebauan RDF Plant Rorotan
Menurunya, teknologi RDF yang digunakan telah memenuhi standar internasional dan umum diterapkan di sejumlah negara untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA dengan mengubahnya menjadi material kering bernilai kalor.
Secara kapasitas, RDF Plant Bantargebang mampu mengolah sampah baru 1.000 ton per hari, sedangkan RDF Plant Rorotan dapat mencapai 2.500 ton per hari. Jika keduanya beroperasi maksimal, hingga 3.500 ton sampah per hari berpotensi tidak lagi ditimbun ke TPA Bantargebang.
“Kalau dihitung dari produksi sampah 7.000 sampai 8.000 ton per hari, pengurangan itu cukup signifikan. Ini langkah yang baik,” kata Haryo.
Ia menegaskan, tujuan utama RDF plant bukan untuk menghasilkan produk baru, melainkan mengurangi beban penumpukan sampah di TPA Bantargebang.
Oleh karena itu, perbaikan tata laksana operasional, mulai pemilahan yang optimal di sumber kemudian dilanjutkan dengan pengangkutan, pengolahan residu, hingga pengendalian bau, tetap diperlukan guna meminimalkan dampak terhadap masyarakat. (Rindu Pradipta Hestya)