JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta menghadirkan inovasi baru sebagai salah satu cara dalam mengatasi masalah sampah. Penggunaan teknologi pengolahan sampah yang modern seperti Refused Derived Fuel (RDF) plant menjadi pilihan Pemprov DKI Jakarta untuk mengolah sampah Ibu Kota.
Saat ini, Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) telah mengoperasikan dua RDF plant, yaitu di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, dan RDF Plant di Rorotan, Jakarta Utara.
Keduanya telah dilengkapi dengan sistem pengolahan sampah yang canggih agar mampu menghasilkan RDF atau bahan bakar serpihan sampah yang memiliki nilai ekonomi.
RDF Plant Rorotan baru beroperasi pada Desember 2025. Dengan adanya fasilitas ini, secara bertahap hingga 2.500 ton dari 7.600 ton sampah dari Jakarta dapat langsung diolah menjadi RDF sesuai dengan standar.
Untuk meminimalisasi kebauan dan emisi, RDF Plant Rorotan menggunakan setidaknya enam unit penyaringan udara sebagai sistem pengendalian emisi sesuai standar dan memenuhi kaidah best practice.
Diberitakan oleh Kompas.com, Selasa (3/2/2026), dengan adanya RDF Plant Rorotan ketika beroperasi dengan kapasitas penuh, pengiriman sampah di 16 kecamatan tidak perlu diantar lagi ke TPST Bantargebang karena langsung bisa diolah di sini.
Hal ini dinilai lebih efisien karena mampu memangkas jarak dan waktu perjalanan pengiriman sampah ke TPA Bantargebang hingga 50 persen.
Baca juga: Sampah TPST Bantargebang Longsor, Pramono Singgung Pentingnya RDF PRorotan
Kehadiran RDF Plant Rorotan mendapatkan berbagai reaksi dari masyarakat yang tinggal di sekitaran fasilitas. Sejumlah warga pun melayangkan aksi protes karena munculnya masalah baru, yaitu bau, yang diduga berasal dari RDF Plant Rorotan.
Melihat reaksi warga, pengelola RDF Plant Rorotan pun langsung melakukan evaluasi, mulai dari penghentian sementara, mengurangi kapasitas, hingga mengoptimalkan teknologi penghilang bau. Upaya ini, bagi sebagian warga, dianggap berhasil dan menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengatasi keluhan masyarakat.
Salah satu warga yang menyadari upaya tersebut adalah Syahla (20) yang tinggal di Jalan Sungai Kendal, Rorotan, Jakarta Utara. Jarak rumahnya dengan RDF Plant Rorotan hanya sekitar empat menit berjalan kaki. Maka tak heran, ketika ada masalah bau, ia sangat merasakannya.
“Waktu awal beroperasi baunya lumayan menyengat. Lalu, kalau tidak salah, sampai sempat dihentikan dan beroperasi lagi. Yang kedua kali ini baunya mulai berkurang,” kata Syahla kepada Kompas.com, Senin (23/2/2026).
Ia menambahkan, baunya memang tidak tercium sepanjang hari dan hanya pada waktu-waktu tertentu saja. Menurutnya, bau dari RDF Plant Rorotan secara drastis telah berkurang sejak Desember 2025.
“Sekarang (masalah bau) sudah jauh berkurang dan saya harap bisa seperti itu terus. Sebenarnya, warga paham kalau RDF plant ini untuk membantu (mengolah sampah) agar tidak menumpuk di tempat penampungan sementara (TPS) yang sebenarnya juga mengganggu karena bau dan bikin berantakan,” jelas Syahla.
Untuk itu, ia berharap, pengoperasian RDF Plant Rorotan bisa lebih mempertimbangkan dampak lingkungan yang mungkin muncul.
“Masyarakat Rorotan juga membutuhkan tempat pengolahan sampah yang lebih baik. Tidak sekadar ditumpuk. Saya harap, RDF Plant bisa menjadi solusi yang sesuai. Semoga masalah bau bisa hilang sampai tuntas,” ucap Shayla.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Gerry (40). Ia juga mengaku sempat mencium bau yang tidak sedap dari rumahnya yang berada di Jalan Perjuangan Indah, Kota Bekasi, Jawa Barat.
Baca juga: Pramono Targetkan RDF Rorotan Olah 1.000 Ton Sampah, Kurangi Beban Bantargebang
“Sempat tercium bau, tapi memang samar. Biasanya malam hari. Warga di sini sempat membahas, katanya dari RDF Plant Rorotan,” kata Gerry.
Namun, masalah bau hanya terjadi beberapa hari saja dan langsung hilang. Menurutnya, sejumlah warga yang sempat mengeluhkan masalah yang sama pun semakin berkurang, bahkan tidak ada lagi.
“Setelah baunya hilang, warga seperti biasa lagi. Jadi, kalau di sini memang tidak mengganggu. Saya yakin pengelola juga pasti langsung bertindak ketika ada protes agar baunya bisa hilang,” jelas Gerry.
Dengan adanya RDF Plant Rorotan, Gerry berharap, wilayahnya juga dapat menerima dampak positif terkait penanganan sampah. Sementara, ia juga ingin agar pengelola rutin melakukan evaluasi agar masalah serupa tidak muncul kembali.
“RDF plant-nya memang tidak terlalu jauh, sekitar 2 kilometer (km) dari sini. Semoga sampah di sini juga bisa ikut diangkat dan dibawa ke sana agar tidak menumpuk dan menimbulkan bau. Warga Bekasi juga ingin sampahnya bisa teratasi dengan adanya RDF Plant di Rorotan,” papar Gerry.
Harapan dan optimisme untuk RDF Plant Rorotan juga datang dari Adi (35). Warga yang tinggal di perumahan Metland Menteng ini mendukung RDF plant sebagai salah satu upaya mengatasi masalah sampah.
Meski sempat ada keluhan dari warga di perumahannya, tapi tidak sampai memunculkan aksi protes yang besar. Dan, hanya segelintir warga yang merasa terganggu dengan bau yang sempat dikeluhkan.
“Baunya ‘tipis’ dan hanya malam hari. Sempat ada obrolan di lingkungan perumahan, tapi, ya, cuma sampai membahas saja, tidak sampai yang mau protes. Saya pribadi tidak merasa terganggu dan tidak masalah dengan adanya RDF Plant Rorotan,” kata Adi kepada Kompas.com.
Adi pun memahami bahwa RDF Plant Rorotan merupakan upaya Pemprov DKI Jakarta untuk mengatasi masalah sampah yang kian serius. Justru, ia menilai upaya ini merupakan langkah yang baik agar Jakarta bisa lebih mandiri.
“Harusnya RDF plant ada lebih cepat karena sampah di Jakarta telah memberikan dampak lingkungan yang lebih luas, termasuk banjir. Upaya pemerintah merupakan solusi tercepat dari sisi pengolahan ketimbang sampah hanya dibiarkan menumpuk setinggi gunung,” jelas Adi.
Baca juga: Warga JGC Siap Pilah Sampah dari Rumah untuk Bantu RDF Rorotan Bebas Bau
Ke depan, Adi berharap, pemerintah bisa lebih serius dalam melakukan evaluasi agar RDF Plant Rorotan bisa beroperasi lebih maksimal, seperti menggandeng pihak swasta atau organisasi lingkungan dan sosial, untuk meningkatkan efektivitas dan implementasi yang lebih baik.
“Pelaksanaan di lapangan harus lebih baik supaya warga semakin percaya kalau program yang dijalankan pemerintah ini memang untuk masyarakat. Jika masih ada yang dikeluhkan masyarakat, harus segera diatasi dengan solusi jangka panjang,” ujar Adi.
Sebagai informasi, pengelola RDF Plant Rorotan telah melakukan beberapa kali diskusi dengan masyarakat terkait keluhan yang dialami. Tujuannya, untuk mendapatkan solusi bersama agar fasilitas ini bisa tetap berjalan demi memenuhi kebutuhan akan tempat pengolahan sampah.
Beberapa waktu lalu, Lembaga Musyawarah Kecamatan (LMK) Se-Kecamatan Cakung juga telah memberikan deklarasi dukungan agar RDF Plant Rorotan tetap beroperasi. Dalam deklarasi itu, perwakilan LMK mengatakan bahwa RDF Plant Rorotan sebagai solusi pengelolaan sampah yang lebih baik. (Rindu Pradipta Hestya)