Pawai Ogoh-ogoh Semarang Meriah, Agustina: Bukti Komitmen Merawat Harmoni

Kompas.com - 27/04/2026, 08:24 WIB
DWN

Penulis

KOMPAS.com - Pawai ogoh-ogoh di Kota Semarang berlangsung meriah dan menjadi simbol kuat komitmen merawat harmoni antarumat beragama. Ribuan warga memadati rute dari Balai Kota hingga Simpang Lima, Minggu (26/4/2026), untuk menyaksikan parade seni budaya lintas agama yang diikuti sekitar 1.500 peserta.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mengapresiasi keterlibatan berbagai elemen masyarakat dalam pawai tersebut. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya diikuti umat Hindu, tetapi juga melibatkan perwakilan lintas agama, organisasi keagamaan, hingga penghayat kepercayaan.

“Pawai ogoh-ogoh ini menjadi bukti komitmen bersama dalam merawat harmoni. Nilai yang diusung, seperti refleksi untuk membersihkan diri dari sifat negatif dan menjaga keseimbangan hidup, relevan bagi semua,” ujar Agustina.

Ia menambahkan, keberagaman yang ditampilkan dalam pawai mencerminkan kesetaraan sebagai kekuatan sosial masyarakat Kota Semarang.

Nilai tersebut, lanjut Agustina, menjadi fondasi penting dalam menjaga kehidupan kota yang inklusif dan rukun.

Baca juga: Pawai Ogoh-ogoh Siap Semarakkan Semarang, Catat Info Rekayasa dan Kantung Parkir Resmi

Kemeriahan pawai semakin terasa dengan hadirnya empat ogoh-ogoh utama yang didukung oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dari Semarang, Kendal, hingga Jepara. Beragam kesenian turut memeriahkan arak-arakan, mulai dari beleganjur, barongsai, rebana, hingga topeng ireng yang berpadu di sepanjang jalan protokol.

Momentum itu juga menegaskan capaian Kota Semarang sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia. Berdasarkan Indeks Kota Toleran (IKT) 2025 yang dirilis Setara Institute, Semarang menempati peringkat ketiga secara nasional.

Agustina menilai capaian tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat mampu menjaga kerukunan di tengah keberagaman.

“Di tengah kompleksitas kota besar, warga Semarang dapat menjadi teladan dalam menjaga toleransi,” katanya.

Setibanya di kawasan Simpang Lima, Agustina juga mengajak warga memahami filosofi Warak Ngendok sebagai simbol akulturasi budaya. Ikon tersebut merupakan perpaduan unsur naga, kambing, dan unta yang merepresentasikan harmoni berbagai budaya yang telah mengakar di Semarang.

Baca juga: Debt Collector Pelaku Prank Damkar Semarang Minta Maaf, Proses Hukum Tetap Berlanjut

Menurutnya, berbagai kegiatan budaya dan keagamaan yang rutin digelar, seperti Dugderan hingga karnaval Paskah, tidak hanya memperkuat kerukunan, tetapi juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan pariwisata kota.

Pada kesempatan itu, Agustina turut mengajak masyarakat menjaga semangat kebersamaan sekaligus menyambut agenda besar berikutnya, yakni Semarang Night Carnival (SNC) pada 2 Mei dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-479 Kota Semarang.

Kegiatan bertaraf internasional tersebut rencananya akan diikuti delegasi dari Jepang, Korea, Belanda, hingga Maroko.

“Semangat harmoni ini harus terus kita jaga. Mari kita sambut dunia dan menjadikan Semarang sebagai rumah bersama yang nyaman bagi semua,” ujar Agustina.

Terkini Lainnya
Jelang Dialog Nasional MBG di Semarang, Pengamat Tekankan Jaminan Keamanan Pangan

Jelang Dialog Nasional MBG di Semarang, Pengamat Tekankan Jaminan Keamanan Pangan

Semarang
Semarang Jadi Tuan Rumah Forum ASEAN-ID Nourish, Bahas Gizi Anak dan Ketahanan Pangan

Semarang Jadi Tuan Rumah Forum ASEAN-ID Nourish, Bahas Gizi Anak dan Ketahanan Pangan

Semarang
Pawai Ogoh-ogoh Semarang Meriah, Agustina: Bukti Komitmen Merawat Harmoni

Pawai Ogoh-ogoh Semarang Meriah, Agustina: Bukti Komitmen Merawat Harmoni

Semarang
Cegah Kecelakaan di Tanjakan Silayur, Aksi Dishub Semarang Hadang Truk Tuai Dukungan Warga

Cegah Kecelakaan di Tanjakan Silayur, Aksi Dishub Semarang Hadang Truk Tuai Dukungan Warga

Semarang
Wali Kota Agustina Dukung Piala U-13 Semarang, Dorong Talenta Muda Menuju Level Profesional

Wali Kota Agustina Dukung Piala U-13 Semarang, Dorong Talenta Muda Menuju Level Profesional

Semarang
800 Atlet Ikuti Sirnas Padel 2026 di Semarang, Terbesar Sepanjang Sejarah

800 Atlet Ikuti Sirnas Padel 2026 di Semarang, Terbesar Sepanjang Sejarah

Semarang
Peremajaan Transportasi Digeber, Agustina Wilujeng Tambah 10 Armada Baru Trans Semarang

Peremajaan Transportasi Digeber, Agustina Wilujeng Tambah 10 Armada Baru Trans Semarang

Semarang
Respons Cepat Aduan Warga, Agustina Wilujeng Perintahkan DPU Keruk Drainase Gajah Raya

Respons Cepat Aduan Warga, Agustina Wilujeng Perintahkan DPU Keruk Drainase Gajah Raya

Semarang
Pawai Ogoh-ogoh Siap Semarakkan Semarang, Catat Info Rekayasa dan Kantung Parkir Resmi

Pawai Ogoh-ogoh Siap Semarakkan Semarang, Catat Info Rekayasa dan Kantung Parkir Resmi

Semarang
Wali Kota Agustina Bawa Semarang Masuk 3 Besar Kota Toleran Nasional

Wali Kota Agustina Bawa Semarang Masuk 3 Besar Kota Toleran Nasional

Semarang
Semarang Night Carnival 2026, 15 Negara Ramaikan Panggung Budaya di Jantung Kota Atlas

Semarang Night Carnival 2026, 15 Negara Ramaikan Panggung Budaya di Jantung Kota Atlas

Semarang
Pawai Ogoh-ogoh Semarang 2026 Tampilkan Seni Budaya Lintas Etnis, Wujud Nyata Kota Toleran

Pawai Ogoh-ogoh Semarang 2026 Tampilkan Seni Budaya Lintas Etnis, Wujud Nyata Kota Toleran

Semarang
6 Budaya Semarang Raih Status WBTB Nasional, Walkot Agustina: Kado Jelang HUT Ke-479

6 Budaya Semarang Raih Status WBTB Nasional, Walkot Agustina: Kado Jelang HUT Ke-479

Semarang
Tukar Botol Dapat Lumpia, Inisiatif Wali Kota Semarang Agustina Gaungkan Pengelolaan Sampah

Tukar Botol Dapat Lumpia, Inisiatif Wali Kota Semarang Agustina Gaungkan Pengelolaan Sampah

Semarang
Pemkot Semarang Pastikan Korban Pembakaran di Tambakmulyo Dapat Perlindungan dan Perawatan

Pemkot Semarang Pastikan Korban Pembakaran di Tambakmulyo Dapat Perlindungan dan Perawatan

Semarang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com