Wali Kota Agustina Bawa Semarang Masuk 3 Besar Kota Toleran Nasional

Kompas.com - 24/04/2026, 08:15 WIB
DWN

Penulis

KOMPAS.com – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng berhasil membawa Kota Semarang masuk tiga besar kota paling toleran di Indonesia berdasarkan Indeks Kota Toleran (IKT) 2025.

Penghargaan dari Setara Institute tersebut diserahkan dalam acara peluncuran IKT 2025 di Jakarta, Rabu (22/4/2026). Dalam kesempatan itu, Agustina diwakili oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Semarang Bambang Pramusinto.

Capaian itu menempatkan Semarang di peringkat ketiga nasional dari 94 kota yang dinilai berdasarkan indikator kebebasan beragama dan inklusi sosial.

Agustina menyampaikan apresiasi atas penghargaan tersebut sekaligus menegaskan bahwa capaian ini bukanlah titik akhir.

“Terima kasih kepada Setara Institute atas kepercayaan ini. Bagi kami, ini bukan garis akhir, melainkan pengingat bahwa merawat keberagaman adalah kerja yang tidak pernah selesai,” ujarnya.

Baca juga: 80 Menu MBG Sudah Dibukukan, BGN Dorong Keberagaman Menu Lokal

Agustina menekankan bahwa toleransi di Semarang tidak sekadar hadir dalam bentuk seremoni, tetapi menjadi praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

“Di Kota Semarang, toleransi tidak menunggu panggung atau acara. Ia hidup di kampung-kampung, di rumah ibadah, dan di ruang publik sebagai bagian dari keseharian warga,” tegas Agustina.

Di bawah kepemimpinannya, Semarang menunjukkan tren peningkatan signifikan dalam indeks toleransi.

Berdasarkan data lima tahun terakhir, peringkat Semarang terus membaik, dari posisi ke-12 pada 2021, naik ke peringkat ke-7 pada 2022, kemudian ke posisi ke-5 pada 2023, hingga menembus peringkat ke-3 pada 2025.

Menurut Agustina, capaian tersebut merupakan hasil dari komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang dalam menghadirkan kebijakan yang inklusif serta mendorong ruang perjumpaan lintas agama dan budaya.

Baca juga: Semarang Night Carnival 2026, 15 Negara Ramaikan Panggung Budaya di Jantung Kota Atlas

"Keberagaman dan toleransi kami ibaratkan seperti bunga yang tumbuh di taman kota. Ia tidak perlu diminta untuk indah, tidak perlu dipuji untuk harum. Ia tetap mekar, memberi warna, dan menghidupkan ruang di sekitarnya. Dan tugas kami adalah memastikan taman itu tetap terawat," imbuhnya.

Ia menambahkan, penghargaan ini dipersembahkan untuk seluruh warga Kota Semarang yang telah menjaga harmoni dan memperkuat nilai toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.

Ke depan, Pemkot Semarang berkomitmen terus memperkuat kolaborasi dengan tokoh agama, komunitas lintas iman, serta generasi muda guna menjaga stabilitas sosial dan memperkuat Semarang sebagai kota yang inklusif.

Dengan capaian ini, Semarang diharapkan tidak hanya dikenal sebagai kota dengan pembangunan fisik yang maju, tetapi juga sebagai ruang hidup yang aman, damai, dan menghargai keberagaman.

Terkini Lainnya
Wali Kota Agustina Bawa Semarang Masuk 3 Besar Kota Toleran Nasional

Wali Kota Agustina Bawa Semarang Masuk 3 Besar Kota Toleran Nasional

Semarang
Semarang Night Carnival 2026, 15 Negara Ramaikan Panggung Budaya di Jantung Kota Atlas

Semarang Night Carnival 2026, 15 Negara Ramaikan Panggung Budaya di Jantung Kota Atlas

Semarang
Pawai Ogoh-ogoh Semarang 2026 Tampilkan Seni Budaya Lintas Etnis, Wujud Nyata Kota Toleran

Pawai Ogoh-ogoh Semarang 2026 Tampilkan Seni Budaya Lintas Etnis, Wujud Nyata Kota Toleran

Semarang
6 Budaya Semarang Raih Status WBTB Nasional, Walkot Agustina: Kado Jelang HUT Ke-479

6 Budaya Semarang Raih Status WBTB Nasional, Walkot Agustina: Kado Jelang HUT Ke-479

Semarang
Tukar Botol Dapat Lumpia, Inisiatif Wali Kota Semarang Agustina Gaungkan Pengelolaan Sampah

Tukar Botol Dapat Lumpia, Inisiatif Wali Kota Semarang Agustina Gaungkan Pengelolaan Sampah

Semarang
Pemkot Semarang Pastikan Korban Pembakaran di Tambakmulyo Dapat Perlindungan dan Perawatan

Pemkot Semarang Pastikan Korban Pembakaran di Tambakmulyo Dapat Perlindungan dan Perawatan

Semarang
Peringati Hari Kartini, Walkot Agustina Dorong Perempuan Jadi Agen Perubahan

Peringati Hari Kartini, Walkot Agustina Dorong Perempuan Jadi Agen Perubahan

Semarang
Indeks Pemberdayaan Gender Semarang 78,71, Walkot Agustina: Perempuan Kini Jadi Subjek Utama Pembangunan

Indeks Pemberdayaan Gender Semarang 78,71, Walkot Agustina: Perempuan Kini Jadi Subjek Utama Pembangunan

Semarang
Posyandu Kota Semarang Jadi Sorotan Dunia, Wujud Pemberdayaan Perempuan Berbasis Komunitas

Posyandu Kota Semarang Jadi Sorotan Dunia, Wujud Pemberdayaan Perempuan Berbasis Komunitas

Semarang
Atasi Masalah Sampah, Pemkot Semarang Tanda Tangani Kerja Sama Penyelenggaraan PSEL

Atasi Masalah Sampah, Pemkot Semarang Tanda Tangani Kerja Sama Penyelenggaraan PSEL

Semarang
Kota Lama Semarang Makin Moncer, Kunjungan Wisatawan Naik 24,7 Persen Saat Lebaran 2026

Kota Lama Semarang Makin Moncer, Kunjungan Wisatawan Naik 24,7 Persen Saat Lebaran 2026

Semarang
Banjir Rendam Sejumlah Wilayah, Pemkot Semarang Perkuat Pengelolaan Pintu Air dan Tanggul

Banjir Rendam Sejumlah Wilayah, Pemkot Semarang Perkuat Pengelolaan Pintu Air dan Tanggul

Semarang
DLH Semarang Minta Maaf, Tumpahan Sampah di Jalan Sultan Agung Cepat Dibersihkan

DLH Semarang Minta Maaf, Tumpahan Sampah di Jalan Sultan Agung Cepat Dibersihkan

Semarang
Arus Mudik dan Balik Lebaran di Semarang Terpantau Lancar dan Kondusif

Arus Mudik dan Balik Lebaran di Semarang Terpantau Lancar dan Kondusif

Semarang
Perayaan Idul Fitri di Balai Kota Semarang Jadi Momentum Perkuat Toleransi dan Pererat Kebersamaan

Perayaan Idul Fitri di Balai Kota Semarang Jadi Momentum Perkuat Toleransi dan Pererat Kebersamaan

Semarang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com