KOMPAS.com – Semarang dinilai telah mencapai level kematangan sosial ketika keberagaman menjadi nadi kehidupan yang memastikan seluruh warga dapat tumbuh dan sejahtera bersama.
Hal tersebut ditegaskan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng saat menghadiri Gelar Tuk Panjang Pasar Imlek Semawis 2577 di Gang Gambiran, Jumat (13/2/2026).
Agustina menilai, harmoni yang terjalin di Ibu Kota Jawa Tengah ibarat bunga yang terus menebar keharuman tanpa perlu haus akan validasi atau pujian dari luar.
Ia melihat bersisiannya Pasar Semawis dengan persiapan Pasar Dugderan sebagai bukti nyata bahwa akulturasi sudah menjadi sistem operasi harian dalam kehidupan masyarakat.
Baca juga: Dampingi Menko Pangan Zulkifli Hasan, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Apresiasi KKMP Sampangan
“Saya berharap, keberagaman di Semarang sudah menjadi perilaku sehari-hari tanpa harus dipuji atau ditonton. Di sini, ada kaum Tionghoa, Jawa, Melayu, serta kelompok Arab Muslim di Kauman. Mereka bersatu padu tinggal bersama untuk satu urusan, yakni kesejahteraan. Keberagaman ini hadir dalam sapaan tetangga dan gotong royong warga di ruang publik,” ujar Agustina dalam siaran tertulis yang diterima Kompas.com, Sabtu (14/2/2026).
Wali Kota menarik benang merah antara stabilitas keamanan dengan produktivitas ekonomi melalui filosofi Warak Ngendok. Menurutnya, simbol telur (ngendok) adalah pesan kuat bahwa kesejahteraan hanya bisa lahir dari situasi kota yang damai dan tanpa konflik.
Baca juga: Dukung Pelestarian Budaya, Agustina Wilujeng Ikut Pentas Wayang Orang di Semarang
“Kalau congkrah (bertengkar) tidak bakal bisa kerja. Kalau gelutan (berkelahi), ora iso metu ndoke (tidak bisa keluar telurnya). Maka, Semarang damai itu tujuannya supaya setiap orang dapat beraktivitas dengan tenang, baik yang jualan maupun yang sekolah, sehingga ekonomi bisa tumbuh. Toleransi terjaga berarti Semarang sejahtera,” tegasnya.
Kematangan sosial yang organik tersebut, kata Agustina, mulai menarik perhatian dunia internasional. Menurutnya, penataan kawasan cagar budaya, seperti Pecinan, Kampung Melayu, serta Bustaman, telah mendapat respon positif dari Duta Besar Prancis.
Baca juga: Wacana Enam Hari Sekolah di Jateng, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng: Harus Ada Kajian
Mereka berencana mengarahkan wisatawan mancanegara untuk menjadikan kampung-kampung tematik di Semarang sebagai destinasi utama.
“Kawasan Pecinan udah siap menjadi destinasi wisata global. Kami ingin acara seperti ini terus hidup dan tumbuh makin berkualitas. Ketika budaya dirawat, ekonomi pun bergerak, kawasan cagar budaya makin hidup, dan generasi muda akan memiliki kebanggaan terhadap kotanya sendiri,” kata Agustina.
Wali Kota menilai, momentum bulan ini terasa kental dengan nuansa spiritualitas yang unik. Bertemunya perayaan Imlek 2577 dengan persiapan bulan Ramadan 1447 Hijriah serta masa pra Paskah umat Kristiani menciptakan simfoni religi yang langka.
Fenomena warga dari berbagai keyakinan menjalankan ibadah puasa dalam waktu yang bersamaan dipandang sebagai puncak keharmonisan sosial di Kota Semarang.
“Inilah Semarang. Kita mendapatkan momentumnya. Ada tiga agama yang menjalani persiapan hari besar bersama-sama dalam sebuah simfoni spiritual yang asri. Kami berdoa bersama, semoga Semarang selalu menjadi rumah yang teduh bagi siapa pun yang tinggal dan datang ke kota ini. Kuda datang, sukses menjelang,” jelasnya.