KOMPAS.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menyiapkan opsi relokasi bagi 15 rumah yang terdampak pergerakan tanah di wilayah RT 7 RW 1, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang.
Dua rumah di antaranya terpaksa dibongkar karena mengalami kerusakan parah dan berisiko roboh. Sebelumnya, satu rumah dilaporkan roboh lebih dulu akibat pergeseran tanah.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mengatakan relokasi menjadi salah satu alternatif solusi, meski masih perlu pendataan lebih lanjut terhadap warga yang bersedia maupun yang menolak dipindahkan.
“Terkait relokasi, tentu harus ditemukan tempat yang cukup. Ada yang setuju relokasi, ada yang menolak. Nanti akan didata dulu, mana yang mau dan mana yang tidak,” ujar Agustina.
Pernyataan tersebut disampaikan Agustina saat meninjau langsung lokasi pergerakan tanah di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Rabu (11/2/2026).
Ia mengungkapkan, Pemkot Semarang telah menyiapkan beberapa alternatif lokasi relokasi. Namun untuk jangka pendek, langkah darurat yang dilakukan adalah memastikan keselamatan warga terdampak.
“Yang paling penting anak-anak yang sekolah harus tetap bisa sekolah. Untuk sementara saya sarankan sebagian warga mengungsi dulu ke sanak saudara,” kata Agustina.
Baca juga: Dua Tahun, 47 Keluarga Menanti Kepastian Relokasi Pergerakan Tanah Rongga Bandung Barat
Ia juga meminta camat dan lurah setempat meningkatkan kewaspadaan, termasuk memasang pengeras suara sebagai sistem peringatan dini karena lokasi tidak bisa ditinggalkan begitu saja.
Terkait anggaran relokasi maupun penanganan di lokasi terdampak, Pemkot Semarang masih melakukan pembahasan lebih lanjut.
Sementara itu, Ketua RT 7 RW 1 Jangli Joko Sudaryono mengatakan, masih terdapat lahan yang memungkinkan untuk relokasi sekitar 15 rumah terdampak, meski luasnya terbatas.
"Warga berharap relokasi dapat dilakukan ke lokasi yang lebih aman, tetapi masih berada di sekitar kawasan yang sama," ucapnya.
Lebih lanjut, Joko mengatakan, warga bergotong royong membongkar rumah yang dinilai membahayakan guna mengamankan material bangunan.
“Total ada 15 rumah terdampak. Hari ini yang dibongkar dua rumah yang kondisinya paling parah, milik Bapak Slamet Riyadi dan Bapak Budi Darminto. Sebelumnya ada satu rumah yang roboh sendiri, milik Bapak Supriadi,” jelasnya.
Joko menambahkan, satu rumah lainnya milik warga bernama Supardi mengalami pergeseran cukup parah sehingga harus dikosongkan.
Baca juga: Buntut Efisiensi, Pemkot Magelang Andalkan CSR Perbaiki Rumah Tak Layak Huni
Untuk sementara, warga yang rumahnya masih layak huni tetap bertahan dengan meningkatkan kewaspadaan. Setiap malam, warga melakukan ronda dan pemantauan guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Kalau yang rumahnya berisiko tinggi, kami imbau untuk waspada. Saat ini BPBD juga telah mendirikan tenda pengungsian bagi warga terdampak,” kata Joko.
Pergerakan tanah di Jalan Jangli dilaporkan terus bertambah. Sejak malam hingga pagi hari, tanah bergerak sekitar dua meter sehingga lebar retakan kini mencapai kurang lebih lima meter dan tidak dapat dilalui kendaraan, termasuk sepeda motor.
“Radius terdampak kurang lebih 70 meter, tetapi masih di wilayah RT 7 RW 1,” tambah Joko.