Hendi: Ini Penyebab Munculnya Permukiman Kumuh di Semarang

Kompas.com - 13/09/2019, 18:59 WIB
ADW,
Alek Kurniawan

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengungkapkan persoalan permukiman kumuh di Kota Semarang disebabkan oleh banyak faktor. Tidak hanya akibat penurunan kondisi lingkungan, seperti rob dan banjir.

Lebih lanjut, dia mencontohkan, di Kelurahan Peterongan, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang. Kumuhnya salah satu pusat perputaran ekonomi di Kota Semarang ini terjadi karena meningkatnya jumlah warga, yang membuat kondisi permukiman semakin padat.

Menurut data Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang, saat ini beberapa RT di kelurahan itu didiami hingga 150 kepala keluarga (KK). Padahal, rata-rata RT lainnya hanya terdiri dari 50 KK.

“Tingginya jumlah penduduk yang ada di dalamnya menyebabkan banyak rumah dengan kondisi seadanya, bahkan tanpa sanitasi memadai serta kurangnya kedisiplinan dalam hal kebersihan,” ujar pria yang akrab disapa Hendi itu.

Baca juga: Pertamina Operasikan 4 Tangki Modular Avtur di Semarang

Apalagi, kata Hendi, kawasan itu memiliki Pasar Peterongan sebagai salah satu pusat perputaran ekonomi.

Menurutnya, selain membawa banyak manfaat bagi masyarakat, pasar itu juga menimbulkan problematika lain, seperti para Pedagang Kaki Lima (PKL) kurang tertata dengan baik, kondisi lingkungan yang kotor, serta kemacetan.

Untuk itu, dirinya meminta para PKL untuk berjualan di dalam pasar. Tujuannya, agar lebih tertata dan terorganisir sehingga tidak lagi kumuh.

“Ini merupakan persoalan bersama yang harus segera diatasi. Penertiban pasar dan PKL ini menjadi salah satu solusi. Saya juga meminta jika ada PKL yang kemudian pindah di pasar jangan dipaido (dimarahi), melainkan dibantu agar tidak menyebabkan wilayah ini menjadi kumuh,” ajak Hendi.

Hal itu dia sampaikan saat melakukan blusukan ke wilayah kelurahan Peterongan, serta melakukan diskusi dengan warga setempat, Jumat (13/9/2019).

Penataan wilayah kumuh

Bertempat di balai Kelurahan Pedurungan, Hendi pun menegaskan komitmennya untuk menangani persoalan wilayah kumuh di Kota Semarang dengan melakukan sejumlah upaya.

Misalnya, menyelenggarakan program kampung tematik, peningkatan infrastruktur wilayah pemukiman, perbaikan saluran dan drainase, dan peningkatan taraf hidup warga setempat.

Dalam kesempatan tersebut, Hendi bersama sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) juga berupaya mengupas satu per satu persoalan di wilayah Peterongan.

Baca juga: Hijaukan Semarang, Wali Kota Hendi Gandeng Startup untuk Gerakan Masyarakat

Contohnya, drainase bermasalah di 3 titik yang menyebabkan peresapan air tidak maksimal saat hujan. Ada juga masalah penyelesaian crossing saluran air di pasar, pelebaran jembatan, pembangunan balai RW yang baru mencapai 40 persen, serta CCTV dan perbaikan taman.

Menyikapi persoalan tersebut, Plt. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Widhoyono mengatakan, pihaknya akan melakukan pengecekan kondisi agar bisa segera diperbaiki dalam waktu dekat.

Sementara itu, terkait pelebaran jembatan dan pembangunan balai RW, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Semarang Iswar Aminuddin memastikan akan dianggarkan pada tahun 2020 mendatang.

Terkini Lainnya
Mobil Pelat Merah Masih Beroperasi Saat Lebaran, Ini Penjelasan Wali Kota Semarang

Mobil Pelat Merah Masih Beroperasi Saat Lebaran, Ini Penjelasan Wali Kota Semarang

Semarang
Sinergi Pemuda Semarang Dirikan Posko Mudik Lebaran, Walkot Agustina: Semangat Gotong Royong Masih Kuat

Sinergi Pemuda Semarang Dirikan Posko Mudik Lebaran, Walkot Agustina: Semangat Gotong Royong Masih Kuat

Semarang
Dukung Kelancaran Arus Mudik, Pemkot Semarang Dirikan Posko Kemanusiaan Lebaran di 2 Titik

Dukung Kelancaran Arus Mudik, Pemkot Semarang Dirikan Posko Kemanusiaan Lebaran di 2 Titik

Semarang
Program Mudik Gratis 2026, Pemkot Semarang Pulangkan 350 Perantau dari Jakarta

Program Mudik Gratis 2026, Pemkot Semarang Pulangkan 350 Perantau dari Jakarta

Semarang
Respons Laporan Warga, Wali Kota Semarang Siapkan Betonisasi Masif dan Perbaikan Rutin di Jalan Citarum

Respons Laporan Warga, Wali Kota Semarang Siapkan Betonisasi Masif dan Perbaikan Rutin di Jalan Citarum

Semarang
Perkuat Tanggul Dinar Indah, Wali Kota Semarang Instruksikan Penanganan Banjir Serentak di Berbagai Titik

Perkuat Tanggul Dinar Indah, Wali Kota Semarang Instruksikan Penanganan Banjir Serentak di Berbagai Titik

Semarang
Wali Kota Semarang Pastikan 97 Persen Jalan Kota Siap Sambut Pemudik Lebaran

Wali Kota Semarang Pastikan 97 Persen Jalan Kota Siap Sambut Pemudik Lebaran

Semarang
Jelang Lebaran, Walkot Semarang Apresiasi Sinergi Polri-TNI Jaga Kondusivitas Kota

Jelang Lebaran, Walkot Semarang Apresiasi Sinergi Polri-TNI Jaga Kondusivitas Kota

Semarang
Siaga Jelang Lebaran, Walkot Semarang Pastikan Sinergi Lintas Sektor Amankan Mudik dan Harga Pangan

Siaga Jelang Lebaran, Walkot Semarang Pastikan Sinergi Lintas Sektor Amankan Mudik dan Harga Pangan

Semarang
Mudik Lewat Semarang? Cek Kondisi Jalan Real Time di Portal Info Mudik 2026

Mudik Lewat Semarang? Cek Kondisi Jalan Real Time di Portal Info Mudik 2026

Semarang
Mudik Gratis Semarang Dimulai, Walkot Agustina Lepas Bus Penjemput Pemudik di Jakarta

Mudik Gratis Semarang Dimulai, Walkot Agustina Lepas Bus Penjemput Pemudik di Jakarta

Semarang
Jelang Lebaran, Wali Kota Semarang Gencarkan Gerakan Pangan Murah di 177 Kelurahan

Jelang Lebaran, Wali Kota Semarang Gencarkan Gerakan Pangan Murah di 177 Kelurahan

Semarang
Kota Semarang Jadi Penutup The Ultimate 10K Series 2026, Targetkan Diikuti 3.500 Pelari

Kota Semarang Jadi Penutup The Ultimate 10K Series 2026, Targetkan Diikuti 3.500 Pelari

Semarang
Sentuhan Ibu di Balik Jeruji, Wali Kota Semarang Bagikan 300 Al Quran di Lapas Perempuan Bulu

Sentuhan Ibu di Balik Jeruji, Wali Kota Semarang Bagikan 300 Al Quran di Lapas Perempuan Bulu

Semarang
Tangani Belasan Pohon Tumbang, Pemkot Semarang Kerahkan 7 Tim

Tangani Belasan Pohon Tumbang, Pemkot Semarang Kerahkan 7 Tim

Semarang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com