KOMPAS.com - Persoalan sampah di ibu kota semakin kompleks. Karena itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus memperkuat sistem pengelolaannya dari hulu sampai hilir.
Strategi tersebut dijalankan melalui pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, pengembangan bank sampah, hingga optimalisasi teknologi Refuse Derived Fuel (RDF).
Langkah ini diharapkan mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang secara signifikan, sekaligus membangun sistem pengelolaan yang lebih berkelanjutan. Saat ini, volume sampah Jakarta mencapai sekitar 7.400-8.000 ton per hari.
Baca juga: Pemilahan Sampah, Pemprov DKI Diminta Siapkan Mesin Pengolah Sampah di Kelurahan
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta Dudi Gardesi mengatakan, pemilahan sampah dari rumah tangga menjadi fondasi penting. Menurutnya, pemisahan sejak awal memudahkan proses pengolahan sekaligus meningkatkan kualitas material yang masih dapat dimanfaatkan.
“Kita optimalkan pemilahan dari rumah tangga (sumber), lalu mengelola sampah anorganik di fasilitas RDF,” ujar Dudi saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Jumat (22/5/2026).
Ia menjelaskan, kualitas RDF sangat dipengaruhi oleh jenis material yang masuk ke fasilitas pengolahan.
“Semakin baik karakteristik sampah, dalam hal ini didominasi material anorganik, maka kualitas produk RDF semakin tinggi,” katanya.
Untuk itu, Pemprov DKI terus mendorong masyarakat membiasakan pemisahan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah.
Baca juga: Dari Organik hingga B3, Ini Sistem Baru Pengelolaan Sampah di Jakarta
Selain memperkuat pengelolaan dari sumber, Pemprov DKI mengembangkan fasilitas RDF sebagai bagian dari sistem pengolahan sampah di hilir.
Menurut Dudi, RDF menjadi fasilitas pengolahan sampah berskala besar untuk mengurangi volumenya sebelum dikirim ke TPST Bantargebang.
“Kondisi TPST Bantargebang telah mendekati daya tampung maksimumnya. Saat ini RDF menjadi satu-satunya fasilitas pengolahan sampah berskala besar di dalam kota yang dapat mereduksi beban TPST Bantargebang,” ujarnya.
Saat ini, RDF Rorotan memiliki kapasitas mengolah hingga 2.500 ton sampah per hari. Adapun kapasitas operasional yang berjalan saat ini masih sekitar 400-700 ton per hari. Angka ini ditargetkan meningkat secara bertahap menjadi 1.000 ton per hari hingga akhir 2026.
Baca juga: Soal Syarat Dana Hibah Rp 100 Juta, Ketua RW di Bekasi: Kami Sudah Punya Bank Sampah
Untuk memperkuat pengelolaan sampah dari sumber, Pemprov DKI juga terus mendorong pengembangan bank sampah di berbagai wilayah. Kehadiran bank sampah diharapkan dapat membangun kebiasaan masyarakat dalam memilah sampah sekaligus meningkatkan pemanfaatan material yang memiliki nilai ekonomi.
Salah satu contoh bank sampah ada di Kampung Edukasi Wisata Bhinneka, RT 014 RW 006, Kelurahan Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat.
Penggagas Kampung Edukasi Wisata Bhinneka Joko Sarjono (60) mengatakan, warga di wilayahnya terbiasa mengelola sampah secara terpisah sebelum disetorkan ke bank sampah.
“Nanti sampah organik mereka kumpulkan, kemudian dibawa ke sini (bank sampah Kampung Edukasi Wisata Bhinneka), lalu ditimbang dan dicatat berapa beratnya di buku tabungan,” ungkapnya.
Menurut Joko, bank sampah tidak hanya membantu mengurangi jumlah sampah yang dibuang, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat untuk mengenali jenis sampah yang masih dapat dimanfaatkan.
Baca juga: RDF Rorotan Jakarta Nantinya Hanya Terima Sampah Anorganik yang Sudah Dipilah
“Kalau RDF mau berjalan maksimal, pemilahan sampah dari rumah tangga memang harus diperkuat. Di sinilah peran bank sampah penting, karena masyarakat diajarkan memilah sampah sejak dari rumah. Sampah yang masih punya nilai ekonomi bisa didaur ulang, sementara sampah residu baru masuk ke pengolahan seperti RDF,” jelas Joko.
Ia menambahkan, perubahan perilaku masyarakat menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh.
Pengelolaan sampah berbasis masyarakat mulai dirasakan manfaatnya oleh warga. Siti (42), warga Kebon Kosong, mengaku mulai rutin membawa sampah anorganik ke bank sampah.
“Sekarang kalau yang masih bisa dijual biasanya saya bawa ke bank sampah. Jadi sampah di rumah juga enggak numpuk,” katanya.
Menurut Siti, kehadiran bank sampah membuat warga semakin memahami bahwa sebagian sampah masih dapat dimanfaatkan.
Baca juga: Tak Lagi Bertumpu pada Bantargebang, Ini Strategi Jakarta Kelola Sampah
“Awalnya, saya pikir sampah ya langsung dibuang saja. Tapi setelah ikut bank sampah jadi tahu ternyata banyak sampah yang masih bisa dimanfaatkan lagi,” urainya.
Siti berharap semakin banyak warga yang ikut melakukan pemilahan sejak dari rumah agar jumlah sampah yang dibuang dapat terus berkurang.
“Kalau semua warga mau mulai pilah sampah, pasti sampah yang dibuang juga berkurang. Lingkungan jadi lebih bersih,” katanya.
Pengamat Mahawan Kurniasa menilai, RDF memiliki potensi besar untuk membantu Jakarta mengurangi ketergantungan terhadap tempat pemrosesan akhir.
“RDF cukup potensial, tetapi posisinya harus tepat: bukan energi utama, melainkan energi alternatif transisional dari fraksi sampah yang tidak bisa lagi dicegah,” kata Mahawan.
Baca juga: RDF Rorotan Jakarta Nantinya Hanya Terima Sampah Anorganik yang Sudah Dipilah
Ia menjelaskan, banyak daerah mulai melirik RDF karena menghadapi tantangan yang serupa, mulai dari meningkatnya volume sampah, tingginya biaya pengangkutan, hingga kebutuhan industri terhadap bahan bakar alternatif.
“Pemerintah pusat juga menempatkan RDF sebagai salah satu solusi untuk mengurangi ketergantungan pada TPA,” papar Mahawan.
Meski demikian, ia menekankan pemilahan sampah tetap menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan pengelolaan sampah berkelanjutan.
“Dalam hal ini, peran warga sangat besar. Tanpa keterlibatan masyarakat, sulit untuk menyelesaikan persoalan sampah di ibu kota. Jadi, semua pihak harus terlibat,” tuturnya.