Bupati Agus Taolin Bawa Kabupaten Belu Keluar dari Status Daerah Tertinggal

Kompas.com - 27/09/2024, 13:02 WIB
Dwinh,
A P Sari

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bupati Belu Agus Taolin berhasil membawa Kabupaten Belu keluar dari status daerah tertinggal dalam kurun waktu tiga tahun masa kepemimpinannya bersama Wakil Bupati (Wabup) Aloysius Haleserens.

Keberhasilan tersebut ditetapkan secara resmi melalui Surat Keputusan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Menteru Desa PDTT) Republik Indonesia (RI) Nomor 490 Tahun 2024.

Kabupaten Belu, yang sebelumnya selalu masuk dalam kategori daerah tertinggal selama lebih dari lima periode kepemimpinan sebelumnya, kini mengalami perubahan signifikan di bawah kepemimpinan Agus Taolin.

Baca juga: Tertipu Lowongan Kerja di Medsos, IRT Asal NTT Disekap di Medan

Selama periode 2020-2024, bersama dengan enam kabupaten lain di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk Kabupaten Kupang, Sumba Barat, Sumba Timur, Manggarai Timur, Rote Ndao, dan Alor, Kabupaten Belu berhasil keluar dari stigma ketertinggalan.

Agus Taolin, yang saat ini sedang cuti untuk berkampanye di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Belu 2024, mengungkapkan rasa syukur atas pencapaian tersebut.

"Puji Tuhan, Kabupaten Belu berhasil keluar dari status daerah tertinggal," kata Agus dalam pernyataan tertulis yang dikutip dari laman Prokopim.belukab.go.id, Jumat (27/9/2024).

Baca juga: Seleksi Capim KPK, Pj Gubernur Bali Ingin Perkuat Sinergi KPK dan Aparat Penegak Hukum

Agus menekankan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil dari sinergi yang kuat antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat.

Semua pihak terkait, kata dia, fokus pada pembangunan di berbagai sektor, seperti infrastruktur jalan, layanan kesehatan, pendidikan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Terima kasih atas kerja keras semua pihak yang telah berkontribusi, mulai dari pemerintah daerah hingga masyarakat,” imbuh Agus.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com