Finalis Putra-Putri Belu Jalani Karantina, Ketua Dekranasda Minta Mereka Kembangkan Diri

Kompas.com - 17/09/2024, 14:47 WIB
A P Sari

Penulis

KOMPAS.com - Sebanyak 13 finalis Putra-Putri Belu tengah menjalani masa karantina sejak Minggu (15/9/2024). Adapun total finalis Putra-Putri Belu berjumlah 53 orang.

Mereka akan berkompetisi memperebutkan mahkota persembahan dari Yayasan Marura Gemilang.

Sebelum masa karantina, mereka mengikuti rangkaian kegiatan, seperti opening speech, menyanyi dan public speakingcatwalk, wawancara, dan Mozie Challenge.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah ( Dekranasda) Kabupaten Belu Freny Sumantri Taolin mengaku bangga kepada para peserta yang telah melewati berbagai seleksi hingga bisa tiba pada tahap karantina.

Menurutnya, semua finalis adalah generasi yang tidak hanya memiliki kecantikan atau ketampanan fisik, tetapi juga mengetahui kekayaan budaya dan nilai-nilai luhur Kabupaten Belu.

Baca juga: Pemkab Belu Raih Penghargaan Peduli Stunting dan Kesehatan, Mendagri: Kuncinya Ada di Kepala Daerah

“Kalian dipilih karena bakat, kepribadian, dan komitmen yang kuat untuk membawa nama baik daerah kita ke tingkat yang lebih tinggi,” ujar wanita yang akrab disapa Bunda Freny tersebut melalui siaran persnya, Selasa (17/9/2024).

Kepada para peserta, Bunda Freny meminta meminta mereka untuk memanfaatkan masa karantina untuk belajar, menggali potensi, dan mengembangkan diri.

“Ingat, perjalanan ini bukan hanya tentang siapa yang terpilih sebagai Putra atau Putri Belu, melainkan tentang bagaimana kalian bisa menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bijak, dan lebih siap menghadapi tantangan masa depan,” ungkapnya.

Dia juga mendorong para finalis untuk menggunakan waktu mereka dengan sebaik-baiknya. Tidak lupa, dia berpesan agar finalis tetap rendah hati dan bersemangat untuk berkembang.

"Jadikan pengalaman ini sebagai pijakan untuk masa depan yang cerah, baik dalam karier, pendidikan, maupun dalam kontribusi nyata kepada Kabupaten Belu,” tambahnya.

Baca juga: Misa Akbar Paus Fransiskus di GBK, Bupati dan Ketua TP-PKK Belu Hadir Bersama 86.000 Umat Katolik

Sebagai Ketua Dekranasda Belu, Bunda Freny menjelaskan, dia berharap para finalis bisa menjadi duta yang mempromosikan budaya daerah, khususnya pakaian adat Susumeti dan Sana Ikun serta tenun ikat khas Belu.

Ia mengingatkan, para finalis adalah masa depan Belu yang akan melestarikan tradisi dan membawa inovasi bagi kemajuan daerah.

“Selalu ingat bahwa kalian berada di sini bukan hanya sebagai peserta, tetapi sebagai inspirasi bagi generasi muda lainnya. Tetaplah semangat, rendah hati, dan teruslah belajar. Semoga kalian semua bisa melalui proses ini dengan baik dan menjadi kebanggaan bagi keluarga, daerah, serta diri kalian sendiri,” imbuh Bunda Freny.

Sebagai penutup, Bunda Freny membacakan sebuah pantun untuk memotivasi finalis Putra-Putri Belu 2024.

"Dari laut terbangkan layang. Singgah sebentar di pulau kecil. Semangat juang takkan hilang. Pemuda-Pemudi Belu selalu tampil gemilang. Selamat mengikuti karantina, semoga sukses untuk kalian semua,” tutup Bunda Freny.

Baca juga: Kontribusi Nyata Bupati Belu, Program Pengobatan Gratis dan Pengelolaan Keuangan Desa yang Transparan

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com