Festival Jatiluwih V Sukses Digelar, Bupati Tabanan Apresiasi Seluruh Pihak yang Terlibat

Kompas.com - 17/07/2024, 14:21 WIB
DWN,
A P Sari

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya memberikan apresiasi kepada penyelenggara Festival Jatiluwih V di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel. Festival ini berlangsung selama dua hari, dari Sabtu (6/7/2024) hingga Minggu (7/7/2024).

Ia menekankan pentingnya acara tersebut dalam upaya meningkatkan pariwisata di Kabupaten Tabanan dan mengangkat potensi pertanian yang luar biasa di daerah tersebut.

“Festival ini tidak hanya memperkenalkan budaya lokal yang kaya di Jatiluwih, tetapi juga mempromosikan keindahan alam dan kekayaan seni budaya khas Tabanan,” ujar Sanjaya dalam pernyataan yang diterima Kompas.com pada Rabu (17/7/2024).

Sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO, lanjut dia, Jatiluwih memiliki nilai sejarah yang mendalam. Pengelola mengolah warisan budaya ini untuk memperkenalkan kembali Jatiluwih kepada masyarakat luas.

Baca juga: Anak SYL Minta Masyarakat Indonesia Maafkan Keluarganya

Pernyataan tersebut disampaikan Sanjaya saat membuka Festival Jatiluwih V di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Sabtu (6/7/2024).

Ia optimis bahwa Festival Jatiluwih bukan hanya menarik wisatawan domestik, tetapi juga internasional.

Festival Jatiluwih V merupakan wadah untuk mempromosikan keelokan alam Jatiluwih serta menampilkan berbagai pertunjukkan seni dan budaya khas Tabanan.

Dengan lanskap pegunungan yang mempesona, sawah terasering yang unik, dan sistem irigasi subak tradisional yang terkenal, Jatiluwih merupakan destinasi wisata yang sangat istimewa di mata dunia.

Baca juga: Tante Lien, Pelantun Lagu Geef Mij Maar Nasi Goreng Meninggal Dunia

Sebagai informasi, Subak Jatiluwih telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO sejak 6 juli 2012. Tempat ini mengaliri bentangan lahan sawah terasering yang mengalir dari perbukitan hingga lembah dan tersohor sebagai destinasi wisata global yang menyuguhkan keindahan, ketenangan dan pesona cantiknya alam Tabanan. 

Mengangkat tema Swasthi Bhuwana

Festival Jatiluwih V mengusung tema “Swasthi Bhuwana” yang mewakili kebahagiaan dunia melalui perayaan keindahan serta kelestarian sawah dan kearifan lokal pertaniannya. Tema ini erat berkaitan dengan semua keistimewaan yang dimiliki oleh daerah ini.

Bupati Sanjaya mengatakan bahwa tema tersebut mencerminkan visi Kabupaten Tabanan dalam menjaga kearifan lokal dan mempertahankan nilai-nilai luhur daerah.

Menurutnya, festival Festival Jatiluwih bukan hanya sekadar acara hiburan, tetapi juga merupakan langkah konkret dalam meningkatkan pariwisata Tabanan dengan menghadirkan ragam pertunjukkan budaya dan kesenian khas daerah.

Baca juga: Tradisi Jangan Suro, Warisan Budaya Kuliner di Purworejo yang Sarat Makna

“Festival ini mengajak pengunjung untuk merasakan langsung kekayaan budaya dan alam Tabanan yang memukau,” tutur Sanjaya.

Dalam acara tersebut, berbagai pertunjukkan budaya seperti tari Paksi/Jatayu, Tari Panyembrana, Atraksi Budaya Subak, Atraksi Tebuk Lesung, Tari Jayaning Singasana, dan Tari Janger Lansia Werda Kusamba Ulangun turut memeriahkan suasana.

Tak hanya itu, puluhan stan UMKM yang menawarkan olahan kuliner dan produk pertanian khas Jatiluwih juga ramai dikunjungi.

Sanjaya menekankan pentingnya menjaga warisan leluhur, terutama dalam hal budaya dan kearifan lokal termasuk kuliner.

Baca juga: Tradisi Jangan Suro, Warisan Budaya Kuliner di Purworejo yang Sarat Makna

Ia menegaskan bahwa karakter asli Jatiluwih harus terus dipertahankan dan dinikmati oleh semua pengunjung.

“Mari kita nikmati bersama ciri khas dan kearifan lokal yang menjadi identitas daerah ini. Semoga upaya ini terus berlanjut dan semakin berkembang,” ujarnya.

Sanjaya juga berharap agar inovasi-inovasi di masa depan terus dikembangkan, sehingga Jatiluwih dapat terus berkembang sebagai destinasi pariwisata tanpa menghilangkan identitasnya sebagai pusat pariwisata berbasis pertanian.

Baca juga: Pengamat Pertanian Apresiasi Langkah Pj. Gubernur Heru, Gencarkan Urban Farming di Jakarta

Cerminkan komitmen DTW Jatiluwih

Pada kesempatan yang sama, Manager Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih Ketut Purna mengungkapkan bahwa tema yang diangkat dalam Festival Jatiluwih sangat relevan karena mencerminkan komitmen pihaknya dalam melestarikan tradisi pertanian melalui sistem subak yang telah diwarisi secara turun-temurun.

Apalagi, kata dia, Jatiluwih merupakan salah satu daerah yang unik dengan sawah terluas di Provinsi Bali.

"Peningkatan jumlah kunjungan di Jatiluwih tidak terlepas dari dukungan pemerintah, masyarakat, dan rangkaian acara yang rutin diadakan di Jatiluwih. Dengan adanya festival ini sebagai alat promosi pariwisata, serta dukungan dari Bupati Tabanan, kami yakin dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara," tutur Purna.

Baca juga: 228 Wisatawan Tersengat Ubur-ubur di Pantai di Gunungkidul

Sebagai informasi, dalam kegiatan tersebut, juga hadir beberapa tokoh penting mendampingi Bupati Tabanan, di antaranya Wakil Bupati Tabanan, anggota DPRD Kabupaten Tabanan, jajaran Forkopimda Kabupaten Tabanan, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Tabanan beserta para Asisten Setda Kabupaten Tabanan.

Selain mereka, juga hadir kepala perangkat daerah di lingkungan Pemkab Tabanan, camat se-Kabupaten Tabanan, dan para kepala instansi vertikal.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com