KOMPAS.com – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mendorong warga untuk mulai memilah sampah dari sumbernya sebagai kunci pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Hal itu disampaikan saat meresmikan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Bugen di Kelurahan Tlogosari Wetan, Kecamatan Pedurungan, Kamis (5/2/2026).
TPS Bugen dirancang tidak hanya sebagai lokasi penampungan sampah sementara, tetapi juga sebagai sarana edukasi lingkungan dan penguatan pengelolaan sampah berbasis komunitas.
“TPS Tlogosari Wetan bukan sekadar fasilitas, tetapi simbol kebersamaan kita. Dengan TPS ini, warga dapat memilah sampah dari sumbernya sehingga volume sampah yang dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dapat dikurangi,” ujar Agustina.
Ia menegaskan, pengelolaan sampah tidak bisa dilepaskan dari peran aktif masyarakat. Menurut Agustina, setiap orang menghasilkan sampah sehingga keberadaan TPS harus dipahami sebagai kebutuhan bersama.
Ia juga menyinggung persoalan klasik penolakan warga terhadap lokasi TPS. Ia menyebut TPS Bugen menjadi salah satu fasilitas yang dibangun tanpa penolakan dan akan dijadikan proyek percontohan pengelolaan sampah di Kota Semarang.
Ke depan, TPS Bugen tidak hanya difungsikan sebagai titik kumpul sampah, tetapi juga akan dikembangkan sebagai pusat pengolahan sampah organik melalui budi daya maggot atau larva Black Soldier Fly. Program tersebut akan melibatkan tokoh masyarakat, jejaring lingkungan hidup, serta akademisi.
Baca juga: Bencana Sumatera, Evaluasi Kebijakan Lingkungan Hidup Seharusnya Dilakukan Berkala
Sebagai bagian dari ekosistem pengolahan sampah organik, Agustina mendorong koordinasi dengan dapur-dapur produksi makanan, seperti Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau program Makan Bergizi Gratis (MBG), agar sampah organik dapat dipilah dan dimanfaatkan sebagai pakan maggot.
“Kalau kita ingin perubahan dalam budaya bersih kota, prosesnya memang harus dimulai dari TPS. TPS ini harus hidup secara ekonomi, memberi manfaat bagi pengelola, dan berdampak bagi lingkungan,” kata Agustina.
Berdasarkan data pengelolaan limbah perkotaan, timbulan sampah di Kota Semarang mencapai lebih dari 1.200 ton per hari. Namun, baru sebagian yang dikelola dengan prinsip reduce, reuse, recycle (3R) atau melalui sistem pengelolaan formal.
Selain itu, sampah yang menyumbat saluran air dan sungai kerap menjadi penyebab genangan saat musim hujan, terutama di kawasan timur kota, termasuk Tlogosari.
Kelurahan Tlogosari Wetan yang memiliki permukiman padat juga menghadapi tantangan pengelolaan sampah rumah tangga. Kondisi dataran rendah di sejumlah titik membuat sampah organik dan plastik yang tidak terkelola mudah terbawa aliran air.
Dengan diresmikannya TPS Bugen, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang berharap partisipasi warga dalam pemilahan, pengurangan, dan pemanfaatan ulang sampah semakin meningkat. Wilayah ini juga telah menjalankan program bank sampah yang memberi nilai ekonomi bagi warga.
Agustina memastikan Pemkot Semarang akan terus melakukan pendampingan dan sosialisasi agar TPS Bugen dapat menjadi inspirasi bagi kelurahan lain.
Baca juga: TPST Pasuruhan Magelang Segera Beroperasi, tetapi Tak Bisa Tampung Sampah Seluruh Kecamatan
“Program ini harus menjadi inspirasi lintas kelurahan, karena kota bersih dimulai dari rumah kita sendiri,” tambahnya.
Peresmian TPS Tlogosari Wetan mendapat sambutan positif dari tokoh masyarakat dan kader lingkungan. Warga optimistis keberadaan fasilitas ini tidak hanya meningkatkan kebersihan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi melalui pengelolaan sampah terpilah.