Normalisasi Tukad Mati, Bupati Badung Inginkan Kawasan yang Bisa Cegah Banjir dan Ruang Rekreasi

Kompas.com - 30/11/2025, 21:35 WIB
I Jalaludin S,
Yohanes Enggar Harususilo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menegaskan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung berkomitmen untuk terus melakukan normalisasi sekaligus penataan kawasan Tukad Mati

Selain mencegah banjir, kawasan Tukad Mati diharapkan bisa dikembangkan menjadi ruang rekreasi masyarakat. 

“Langkah ini akan kami lakukan secara berkala. Namun, aliran Tukad Mati juga melintasi wilayah lintas kabupaten/kota sehingga perlu kerja sama semua pihak,” ujarnya dalam siaran pers.

Dia mengatakan itu saat meninjau alat penyaring sampah (trash rack) di alur Tukad Mati, Kelurahan Legian, Kuta, pada Jumat (26/09/2025). 

Selain bebas banjir, Adi berharap, sungai di kawasan tersebut bisa ditata menjadi destinasi rekreasi, seperti kawasan untuk memancing. 

Baca juga: Tingkatkan Potensi Pantai Kuta, Bupati Badung Bahas Penataan dan Abrasi Bersama Komunitas

“Saya juga sudah instruksikan Kepala Dinas (Kadis) Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) agar selain pembersihan dan penghijauan sehingga sungai tidak lagi menjadi halaman belakang, tetapi menjadi wajah depan kita,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, Adi mengatakan, Pemkab Badung melakukan sejumlah persiapan, termasuk peninjauan kawasan Tukad Mati, untuk menghadapi musim penghujan.

Peninjauan itu juga dimaksudkan untuk mengantisipasi potensi banjir yang pernah terjadi sebelumnya. 

“Untuk mengantisipasi hal itu, kami memantau langsung ke lapangan memastikan kegiatan normalisasi berjalan dengan baik,” katanya. 

Adi menegaskan, Pemkab Badung melalui Dinas PUPR telah rutin melakukan pengerukan sedimentasi agar aliran sungai tetap lancar dan bebas sampah. 

Baca juga: Sempat Tertunda, Bupati Badung Targetkan Program Penghargaan Rp 5 Juta bagi Lansia Cair pada 2026

“Namun, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat. Oleh karena itu, saya mengimbau agar masyarakat tidak membuang sampah ke sungai,” ujarnya.

Adi menambahkan, Pemkab Badung juga melakukan penambahan pompa air untuk mempercepat debit air yang mengalir ke hilir saat curah hujan tinggi. 

Pemikiran itu berkaca hasil evaluasi banjir yang pernah melanda Bali, khususnya Badung dan Denpasar beberapa waktu lalu.

"Kami mengatasi banjir dan berangkat dari evaluasi kemarin. Di hilir itu, kayak di Tukad Pancing, di Jalan Dewi Sri, termasuk di Sentral Parkir sebenarnya sudah ada pompa,” katanya. 

Adi mengatakan, pompa yang akan ditambahkan memiliki kekuatan 30.000 liter per detik dengan total unit mencapai delapan hingga sembilan pompa. 

Proyek penambahan pompa dan pelebaran alur sungai ini diperkirakan menelan anggaran hingga Rp 220-260 miliar.

Baca juga: Dorong Pertumbuhan UMKM, Pemkab Badung Naikkan Plafon Sidi Kumbara hingga Rp 100 Juta

"Makanya, sekarang kami akan menambah pompa kalau enggak salah, itu dengan kekuatan 30.000 liter per detik. Kalau enggak salah itu ada delapan atau sembilan pompa," jelasnya.

Turut hadir dalam peninjauan trash rack itu Ketua Komisi II DPRD Badung I Made Sada, serta Plt. Kadis PUPR Kabupaten Badung I Nyoman Karyasa beserta jajaran.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com