6 Budaya Semarang Raih Status WBTB Nasional, Walkot Agustina: Kado Jelang HUT Ke-479

Kompas.com - 22/04/2026, 20:47 WIB
Tsabita Naja,
DWN

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-479 Kota Semarang, enam karya budaya asli daerah tersebut berhasil meraih predikat Warisan Budaya Takbenda (WBTB) tingkat nasional.

Apresiasi tersebut diterima Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Indriyasari yang hadir mewakili Wali Kota (Walkot) Agustina Wilujeng dalam agenda Revitalisasi Ekosistem Kebudayaan Kabupaten dan Kota Jawa Tengah di The Wujil Resort, Kabupaten Semarang, Selasa (21/4/2026).

"Penetapan enam karya budaya sebagai WBTB nasional merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas masyarakat Kota Semarang. Ini sekaligus menjadi kado menjelang peringatan Hari Jadi ke-479 Kota Semarang yang jatuh pada 2 Mei," ujar Agustina.

Enam karya budaya yang meraih predikat WBTB tersebut mencakup ragam kuliner legendaris dan ekspresi seni budaya yang menjadi ciri khas kemajemukan Kota Semarang, yakni wingko babat, ganjel rel, bubur khoja, lam kowan, seni barongsai, dan kaligrafi China.

Baca juga: Wayang Wong Ngesti Pandowo dan 15 Budaya asal Jateng Resmi Diakui sebagai WBtb Nasional

Keberagaman karya budaya tersebut mencerminkan kuatnya akulturasi budaya yang telah berakar di Kota Semarang selama berabad-abad.

"Kami sangat bangga karena tahun ini Kota Semarang mendominasi dengan enam karya yang diakui sekaligus, mulai dari kudapan, seperti wingko babat dan ganjel rel, hingga seni barongsai dan kaligrafi China. Semuanya membuktikan bahwa ekosistem kebudayaan kami sangat inklusif," ungkap Agustina.

Penghargaan tersebut, lanjut dia, menjadi pemacu semangat Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang untuk terus menggali potensi budaya lain yang masih tersembunyi.

Agustina mengungkapkan bahwa proses kurasi dan pengajuan karya-karya tersebut telah melalui tahapan riset dan verifikasi yang panjang agar layak mendapatkan pengakuan di level nasional.

Baca juga: Wali Kota Solo Respati Bakal Kurasi Pelaku UMKM yang Masuk Kawasan Jalan Yos Sudarso Pascapenataan

Ia menekankan, pencapaian ini adalah buah dari konsistensi seluruh elemen masyarakat dalam merawat akar budaya di tengah modernitas.

Oleh karena itu, Agustina berharap penetapan WBTB dapat memberikan dampak langsung terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Warisan budaya diharapkan tidak hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai motor penggerak kesejahteraan masyarakat.

Dengan predikat tersebut, lanjut Agustina, kuliner seperti bubur khoja dan lam kowan kini memiliki posisi tawar yang lebih tinggi sebagai daya tarik wisata kuliner.

"Kami ingin masyarakat dunia melihat Semarang sebagai kota yang tidak hanya maju secara infrastruktur, tetapi juga sangat kaya akan keragaman etnis dan tradisi yang terpelihara dengan sangat baik," tuturnya.

Baca juga: Posyandu Kota Semarang Jadi Sorotan Dunia, Wujud Pemberdayaan Perempuan Berbasis Komunitas

Terkini Lainnya
6 Budaya Semarang Raih Status WBTB Nasional, Walkot Agustina: Kado Jelang HUT Ke-479

6 Budaya Semarang Raih Status WBTB Nasional, Walkot Agustina: Kado Jelang HUT Ke-479

Semarang
Tukar Botol Dapat Lumpia, Inisiatif Pemkot Semarang Gaungkan Pengelolaan Sampah

Tukar Botol Dapat Lumpia, Inisiatif Pemkot Semarang Gaungkan Pengelolaan Sampah

Semarang
Pemkot Semarang Pastikan Korban Pembakaran di Tambakmulyo Dapat Perlindungan dan Perawatan

Pemkot Semarang Pastikan Korban Pembakaran di Tambakmulyo Dapat Perlindungan dan Perawatan

Semarang
Peringati Hari Kartini, Walkot Agustina Dorong Perempuan Jadi Agen Perubahan

Peringati Hari Kartini, Walkot Agustina Dorong Perempuan Jadi Agen Perubahan

Semarang
Indeks Pemberdayaan Gender Semarang 78,71, Walkot Agustina: Perempuan Kini Jadi Subjek Utama Pembangunan

Indeks Pemberdayaan Gender Semarang 78,71, Walkot Agustina: Perempuan Kini Jadi Subjek Utama Pembangunan

Semarang
Posyandu Kota Semarang Jadi Sorotan Dunia, Wujud Pemberdayaan Perempuan Berbasis Komunitas

Posyandu Kota Semarang Jadi Sorotan Dunia, Wujud Pemberdayaan Perempuan Berbasis Komunitas

Semarang
Atasi Masalah Sampah, Pemkot Semarang Tanda Tangani Kerja Sama Penyelenggaraan PSEL

Atasi Masalah Sampah, Pemkot Semarang Tanda Tangani Kerja Sama Penyelenggaraan PSEL

Semarang
Kota Lama Semarang Makin Moncer, Kunjungan Wisatawan Naik 24,7 Persen Saat Lebaran 2026

Kota Lama Semarang Makin Moncer, Kunjungan Wisatawan Naik 24,7 Persen Saat Lebaran 2026

Semarang
Banjir Rendam Sejumlah Wilayah, Pemkot Semarang Perkuat Pengelolaan Pintu Air dan Tanggul

Banjir Rendam Sejumlah Wilayah, Pemkot Semarang Perkuat Pengelolaan Pintu Air dan Tanggul

Semarang
DLH Semarang Minta Maaf, Tumpahan Sampah di Jalan Sultan Agung Cepat Dibersihkan

DLH Semarang Minta Maaf, Tumpahan Sampah di Jalan Sultan Agung Cepat Dibersihkan

Semarang
Arus Mudik dan Balik Lebaran di Semarang Terpantau Lancar dan Kondusif

Arus Mudik dan Balik Lebaran di Semarang Terpantau Lancar dan Kondusif

Semarang
Perayaan Idul Fitri di Balai Kota Semarang Jadi Momentum Perkuat Toleransi dan Pererat Kebersamaan

Perayaan Idul Fitri di Balai Kota Semarang Jadi Momentum Perkuat Toleransi dan Pererat Kebersamaan

Semarang
Shalat Idul Fitri di Balai Kota Semarang, Ini Jadwal dan Rangkaian Acaranya

Shalat Idul Fitri di Balai Kota Semarang, Ini Jadwal dan Rangkaian Acaranya

Semarang
Mobil Pelat Merah Masih Beroperasi Saat Lebaran, Ini Penjelasan Wali Kota Semarang

Mobil Pelat Merah Masih Beroperasi Saat Lebaran, Ini Penjelasan Wali Kota Semarang

Semarang
Sinergi Pemuda Semarang Dirikan Posko Mudik Lebaran, Walkot Agustina: Semangat Gotong Royong Masih Kuat

Sinergi Pemuda Semarang Dirikan Posko Mudik Lebaran, Walkot Agustina: Semangat Gotong Royong Masih Kuat

Semarang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com