Dari Jalan Macet Jadi Ruang Rekreasi, Wajah Baru Rasuna Said Bikin Warga "Happy"

Kompas.com - 07/06/2026, 16:51 WIB
Nurpini Aulia Rapika,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemandangan berbeda terlihat di Jalan H.R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (7/6/2026) pagi. Ruas jalan yang selama ini identik dengan kemacetan, gedung perkantoran, dan lalu-lalang kendaraan bermotor berubah menjadi ruang publik yang dipenuhi warga yang berolahraga dan berekreasi.

Sejak pukul 06.00 WIB, berdasarkan pantauan Kompas.com, masyarakat mulai memadati kawasan yang untuk kali kedua digunakan sebagai lokasi Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau car free day (CFD). Ada yang joging, berjalan santai, bersepeda, bermain sepatu roda, hingga sekadar menikmati suasana pagi bersama keluarga.

Bagi sebagian warga, pengalaman menikmati Jalan Rasuna Said tanpa deru kendaraan menjadi hal yang tidak biasa.

"Sejauh ini enak juga ya bisa olahraga di kawasan yang biasanya padat sama orang ngantor. Ternyata bisa setenang ini jalan di Jakarta tanpa takut polusi udara," kata Davin (24), warga Tebet, Jakarta Selatan.

Kawasan yang berada di jantung pusat bisnis Jakarta itu memang memiliki karakter berbeda jika dibandingkan ruang publik lain. Pada hari kerja, koridor Rasuna Said menjadi salah satu ruas jalan tersibuk di Ibu Kota yang dipadati kendaraan pribadi, bus, hingga pekerja kantoran.

Namun, sudah dua Minggu pagi wajah kawasan tersebut berubah. Deretan gedung pencakar langit yang biasanya menjadi latar aktivitas bisnis kini mengapit ribuan warga yang berolahraga dan menikmati akhir pekan.

Tak hanya aktivitas olahraga, suasana CFD Rasuna Said juga diramaikan berbagai atraksi budaya dan permainan tradisional. Pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan ondel-ondel, mencoba permainan egrang, atau mengikuti berbagai kegiatan komunitas yang digelar di sepanjang kawasan.

Menurut Davin, keberadaan atraksi tersebut membuat suasana CFD di Rasuna Said terasa lebih hidup.

"Tadi, saya lihat ada kesenian dan permainan tradisional yang menambah hidup suasana CFD ini. Terus juga pada teratur orang-orangnya," ujarnya.

Keberadaan akses transportasi publik tersebut juga dirasakan langsung oleh warga. Davin menambahkan, kemudahan menjangkau lokasi menjadi salah satu faktor yang membuat kawasan ini menarik untuk dikunjungi.

"Yang paling penting dekat dengan transportasi umum. Kadang yang bikin malas itu kalau misalnya jauh dari transportasi umum sama enggak ada tempat parkirnya," katanya.

Antusiasme warga tersebut membuat Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta optimistis bahwa kawasan Rasuna Said dapat berkembang menjadi salah satu ruang publik favorit baru di Ibu Kota.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menilai, kawasan tersebut memiliki sejumlah keunggulan yang mendukung pengembangan ruang publik perkotaan, mulai dari akses transportasi yang mudah hingga lokasinya yang strategis di pusat kota.

"Kalau dilihat view-nya, dilihat udaranya, dilihat aksesnya, pasti ini akan menjadi landmark baru dan sport tourism untuk car free day yang ada di Jakarta," kata Pramono saat meninjau lokasi.

Ia menambahkan, fungsi CFD saat ini tidak lagi terbatas sebagai tempat berolahraga. Ruang publik semacam itu juga menjadi tempat warga berinteraksi, berekreasi, dan menikmati suasana kota yang berbeda dari keseharian mereka.

Kemudahan akses menjadi salah satu alasan utama pemerintah mendorong pengembangan CFD Rasuna Said. Kawasan ini terhubung dengan berbagai moda transportasi publik, mulai dari TransJakarta hingga LRT Jabodebek yang melayani penumpang dari Jakarta, Bekasi, dan Cibubur.

"Di tempat ini, saya meyakini karena aksesnya lebih gampang," ujar Pramono.

Tempat rekreasi keluarga

Selain menjadi ruang olahraga, CFD Rasuna Said juga mulai berkembang sebagai tempat rekreasi keluarga. Melda (32), warga Mampang Prapatan, mengaku sengaja datang karena lokasinya lebih dekat dari rumah ketimbang CFD Sudirman-Thamrin.

"Ini yang kedua kalinya saya mengikuti CFD di Rasuna Said. Kebetulan di sini yang lebih dekat dari rumah," kata Melda.

Bagi pekerja kantoran seperti dirinya, keberadaan ruang publik gratis menjadi alternatif hiburan yang menyenangkan setelah menjalani rutinitas selama sepekan.

"Buat karyawan seperti saya yang Senin sampai Jumat berkegiatan di kantor, kegiatan ini sangat menghibur saat ada waktu luang," ujarnya.

Hal serupa dirasakan Bustomi (42), warga Setiabudi. Ia datang bersama istri dan anak-anaknya. Ia menilai, CFD menawarkan pilihan rekreasi yang lebih terjangkau ketimbang pusat perbelanjaan.

"Kebetulan hari ini CFD sama istri dan anak-anak. Soalnya anak-anak cuma punya waktu panjang sama orang tuanya pas weekend aja," kata Bustomi.

Menurutnya, suasana terbuka dan bebas biaya menjadi daya tarik tersendiri bagi keluarga.
"Kalau ke mal kan harus mengeluarkan biaya lebih banyak, sedangkan di CFD, kami bisa olahraga, jalan-jalan, sambil menikmati suasana kota secara gratis," ujarnya.

Pengamat pariwisata Sapta Nirwandar menilai, keberadaan CFD di Rasuna Said dapat memberikan manfaat lebih luas, tidak hanya bagi warga, tetapi juga bagi aktivitas ekonomi di sekitar kawasan Kuningan.

Tren masyarakat yang semakin gemar berolahraga menjadi modal penting bagi pengembangan ruang publik seperti CFD.

"Sport tourism itu sangat luas dan fleksibel. Dibukanya CFD di Jalan H.R. Rasuna Said ini akan mengembangkan komunitas untuk bisa berolahraga serta menggerakkan ekonomi lokal," kata Sapta.

Ia menambahkan, peningkatan jumlah pengunjung berpotensi memberikan dampak positif bagi hotel, restoran, pusat perbelanjaan, hingga pelaku usaha kecil yang berada di sekitar kawasan.

Meski demikian, Sapta mengingatkan Pemprov untuk melakukan pengelolaan yang baik agar kegiatan tersebut tidak menimbulkan masalah baru.

"Yang penting itu pengaturannya. Jangan sampai malah menimbulkan kemacetan, walaupun pelaksanaannya hari Minggu," ujarnya.

Selain pengaturan lalu lintas, fasilitas pendukung seperti layanan kesehatan dan sarana umum juga perlu disiapkan untuk mengantisipasi kepadatan pengunjung.

Pantauan Kompas.com, hingga pukul 09.00 WIB, kawasan CFD Rasuna Said relatif tertata. Pedagang ditempatkan di area khusus yang telah disediakan pemerintah sehingga tidak mengganggu jalur pejalan kaki maupun aktivitas olahraga warga.

Petugas Dinas Perhubungan dan Satpol PP juga terlihat berjaga di sejumlah titik untuk mengantisipasi parkir liar dan menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung.

Dengan perpaduan aktivitas olahraga, hiburan budaya, permainan tradisional, serta ruang interaksi sosial, Rasuna Said perlahan menunjukkan wajah baru yang berbeda dari kesehariannya sebagai koridor bisnis dan salah satu titik kemacetan Jakarta.

Setidaknya setiap Minggu pagi, kawasan yang biasanya dipenuhi kendaraan bermotor itu berubah menjadi ruang terbuka tempat warga berolahraga, bercengkerama, dan menikmati kota dengan ritme yang jauh lebih santai.

Terkini Lainnya
Ringankan Biaya Hidup Warga, Pemprov DKI Perluas Manfaat Kartu Pekerja

Ringankan Biaya Hidup Warga, Pemprov DKI Perluas Manfaat Kartu Pekerja

Jakarta Maju Bersama
Layanan Kesehatan Kini Hadir Lebih Dekat ke Warga Jakarta 

Layanan Kesehatan Kini Hadir Lebih Dekat ke Warga Jakarta 

Jakarta Maju Bersama
Jawab Kebutuhan Industri, Pemprov DKI Perkuat Pelatihan Kerja Warga

Jawab Kebutuhan Industri, Pemprov DKI Perkuat Pelatihan Kerja Warga

Jakarta Maju Bersama
Sekolah Swasta Gratis Dobrak Sekat Pendidikan di Jakarta

Sekolah Swasta Gratis Dobrak Sekat Pendidikan di Jakarta

Jakarta Maju Bersama
DLH Jakarta Ajak Warga Bergerak Bersama Lewat #SatuLangkahDulu demi Udara Ibu Kota Lebih Bersih

DLH Jakarta Ajak Warga Bergerak Bersama Lewat #SatuLangkahDulu demi Udara Ibu Kota Lebih Bersih

Jakarta Maju Bersama
Antisipasi Curah Hujan Ekstrem, Pemprov DKI Perkuat Infrastruktur Pengendali Banjir

Antisipasi Curah Hujan Ekstrem, Pemprov DKI Perkuat Infrastruktur Pengendali Banjir

Jakarta Maju Bersama
Dari Hulu ke Hilir, Pemprov DKI Perkuat Sistem Pengelolaan Sampah Terintegrasi

Dari Hulu ke Hilir, Pemprov DKI Perkuat Sistem Pengelolaan Sampah Terintegrasi

Jakarta Maju Bersama
Jumlah RW Kumuh Turun 52 Persen, Pemprov DKI Gelontorkan Rp 1,9 Triliun untuk Penataan

Jumlah RW Kumuh Turun 52 Persen, Pemprov DKI Gelontorkan Rp 1,9 Triliun untuk Penataan

Jakarta Maju Bersama
KJP dan KJMU Diperkuat, Anak Jakarta Bisa Sekolah hingga Kuliah

KJP dan KJMU Diperkuat, Anak Jakarta Bisa Sekolah hingga Kuliah

Jakarta Maju Bersama
Dari Seni Jalanan, Ketahanan Pangan, hingga Pengelolaan Stadion, Ini Hasil Kunjungan Kerja Rano Karno di Milan

Dari Seni Jalanan, Ketahanan Pangan, hingga Pengelolaan Stadion, Ini Hasil Kunjungan Kerja Rano Karno di Milan

Jakarta Maju Bersama
Pilah dari Sumber, Cara Jakarta Keluar dari Darurat Sampah 

Pilah dari Sumber, Cara Jakarta Keluar dari Darurat Sampah 

Jakarta Maju Bersama
Ringankan Beban TPST Bantargebang, DLH Jakarta Optimalisasi RDF Plant Rorotan

Ringankan Beban TPST Bantargebang, DLH Jakarta Optimalisasi RDF Plant Rorotan

Jakarta Maju Bersama
RDF Plant Dinilai Tepat Atasi Sampah Jakarta, Residu Diolah Jadi Bahan Bakar Industri

RDF Plant Dinilai Tepat Atasi Sampah Jakarta, Residu Diolah Jadi Bahan Bakar Industri

Jakarta Maju Bersama
Ahli Lingkungan ITB: RDF Plant Solusi Paling Sesuai untuk Atasi Sampah Jakarta

Ahli Lingkungan ITB: RDF Plant Solusi Paling Sesuai untuk Atasi Sampah Jakarta

Jakarta Maju Bersama
DLH Jakarta Gandeng Ahli Lingkungan untuk Evaluasi Sumber Kebauan RDF Plant Rorotan

DLH Jakarta Gandeng Ahli Lingkungan untuk Evaluasi Sumber Kebauan RDF Plant Rorotan

Jakarta Maju Bersama
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com