KOMPAS.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang mempercepat transformasi transportasi publik melalui pengoperasian bus listrik Trans Semarang.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mengatakan, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menekan emisi gas buang dan menghadirkan udara yang lebih bersih di Kota Atlas.
Menurut Agustina, operasional bus listrik akan terus dimasifkan melalui Badan Layanan Umum (BLU) Trans Semarang.
Namun, penerapan transportasi ramah lingkungan itu juga harus mempertimbangkan kondisi geografis Semarang yang memiliki wilayah perbukitan serta kawasan rawan banjir di daerah bawah.
Saat ini, uji coba bus listrik masih difokuskan di jalur relatif datar, yakni Koridor 1 rute Mangkang–Penggaron.
“Kota Semarang ini wilayahnya ada yang lembah dan bukit, maka kami pilih jalur yang flat dulu untuk uji coba. Namun, kami niatkan untuk mengurangi emisi gas buang dengan memasifkan operasional bus listrik,” ujar Agustina.
Baca juga: Estimasi Biaya Mudik Rute Jakarta-Semarang pakai Rocky Hybrid
Agustina menjelaskan, penggunaan bus listrik tipe low deck atau lantai rendah menghadapi tantangan di wilayah Semarang bawah yang kerap terdampak banjir.
Di sisi lain, bus low deck dibutuhkan karena lebih ramah bagi penyandang disabilitas.
“Ada usulan agar menggunakan high deck karena banjir, sehingga air tidak masuk ke bus. Namun, ini tidak ramah disabilitas. Kita tetap butuh low deck sekitar 30 centimeter (cm) agar aksesibel,” jelasnya.
Untuk itu, Pemkot Semarang menargetkan revitalisasi saluran air sebagai solusi jangka panjang agar operasional bus listrik tidak terganggu genangan.
Agustina menyebut, kawasan yang kerap terdampak banjir antara lain Simpang Lima, Jalan Gajahmada, Jalan Ahmad Yani, hingga Jalan Ahmad Dahlan.
Wilayah Simpang Lima disebut sebagai titik paling rawan dan ditargetkan tuntas tahun ini.
Baca juga: BRT Semarang Keluarkan Percikan Api dan Asap, Penumpang Dievakuasi
“Tahun ini kami selesaikan banjir di Simpang Lima. Lalu sepanjang Ahmad Yani, Ahmad Dahlan, dan Gajahmada kami bereskan,” kata Agustina.
Revitalisasi saluran juga akan dilakukan di wilayah yang beririsan dengan koridor bus listrik dari Mangkang hingga Pedurungan.
Agustina meyakini, jika saluran air telah diperbaiki dan genangan dapat dikendalikan, operasional bus listrik akan berjalan lebih optimal.
“Saya mohon maaf kepada masyarakat. Ketika memperbaiki saluran, pasti ada yang terganggu karena kadang di atasnya ada bangunan permanen. Namun, ini untuk mengendalikan banjir. Jika Simpang Lima bisa dikendalikan, bus listrik akan lancar,” ujarnya.
Baca juga: Pemkot Semarang Tambah Jangkauan Sekolah Swasta Gratis, Jadi 133 di 2026