Bupati Dedi, Falsafah "Someah Hade Ka Semah", Raja Salman, dan Bali

Kompas.com - 02/03/2017, 11:12 WIB


PURWAKARTA, KOMPAS.com
– Kunjungan Kenegaraan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz ke Indonesia mengundang banyak perhatian, baik dari masyarakat, media, maupun pejabat publik. Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi pun ikut berkomentar.

“Kedatangan Raja Salman membuat heboh pemberitaan media, mulai dari jumlah rombongan, kelengkapan peralatan, hadiah bagi petugas keamanan, sampai urusan investasi dan kamar super mewah,” tulis Dedi dalam akun media sosial miliknya, Rabu (1/3/2017).

Lalu bagaimana seharusnya sikap tuan rumah? Menurut Dedi, menghormati tamu merupakan kewajiban yang harus ditunaikan.

Dalam prinsip Sunda, sebut dia, prinsip penghormatan kepada tamu ini memiliki istilah “someah hade kasemah” alias ramah atau bersikap baik kepada tamu. Hingga kini, kata dia, nilai-nilai someah hade ka semah selalu diajarkan secara turun temurun.

“Someah hade ka semah merupakan prinsip orang Sunda yang merendah, tersenyum, ketika menghadapi tamu. Pemilik rumah juga harus susuguh (menyajikan) makanan. Kalau dalam budaya Sunda, menu utamanya biasanya bakakak Sunda,” papar Dedi.

Meski begitu, lanjut Dedi, someah hade ka semah pada dasarnya bukan hanya prinsip yang dimiliki orang Sunda, melainkan melekat juga pada seluruh bangsa Indonesia. Itulah mengapa orang Sunda khususnya dan orang Indonesia pada umumnya terkenal dengan keramahannya.

Dedi pun mengapresiasi rencana Raja Salman dan rombongan berlibur di Bali. Karena Bali, sambung dia, menjadi salah satu wilayah yang konsisten menjaga peninggalan kebudayaan Nusantara yang masih tersisa.

“Sebagai warga Negara yang mencintai keragaman budaya, rasa hormat saya sampaikan kepada Yang Mulia Raja Salman, karena menghormati peninggalan budaya Nusantara yang masih tersisa,” tulisnya.

Bahkan, Dedi berpendapat kedatangan Raja Salman ke Bali bisa mengubah cara berpikir sebagian orang tentang Pulau Dewata sebagai destinasi wisata yang dapat mengganggu ketauhidan.

Postingan Dedi mendapat beragam respons dari netizen. Salah satunya dari akun Edi Kurniawan.

Hanya segelintir orang yang dangkal ilmunya kalau menafsirkan Bali adalah wisata maksiat. Raja Salman yang ilmu agamanya sudah mumpuni tidak mempersoalkan hal itu, (sebab) yang menentukan adalah apa yang kita lakukan di Bali, Kalau niatnya baik ya baik pula hasilnya,” tulis Edi di situ.

Komentar lain datang dari akun Jibril Doel. “Purwakarta akan menjadi kiblatnya kesundaan Jawa Barat, pengen lihat budaya Sunda? Marilah kemari hei hei hei kawan,” ujar dia.

(RENI SUSANTI)

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com