KOMPAS.com - Bupati Batang M Faiz Kurniawan mengikuti aksi lari sejauh lima kilometer (km) sebagai bentuk dukungan terhadap kampanye lingkungan global bertajuk Run for Rivers.
Aksi tersebut digelar untuk menyambut kehadiran tim Sungai Watch yang melintasi Kabupaten Batang dalam perjalanan heroiknya sejauh 1.200 km dari Bali menuju Jakarta.
"Kami lari lima km dari Kandeman, Rumah Dinas Bupati Batang, sampai ke alun-alun," ujar Faiz dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Rabu (6/5/2026).
Menurut Faiz, kehadiran para pelari menjadi pengingat pentingnya menjaga keberlanjutan lingkungan. Kegiatan itu juga menunjukkan dukungan dan kepedulian Kabupaten Batang terhadap isu lingkungan.
Baca juga: Berjarak 10 Meter dari Laut, Wilayah Batang Bebas Intervensi Giant Sea Wall
Antusiasme warga dan komunitas pelari lokal Batang Runners terlihat saat tiga pelari asing bernama Jerry, Kelly, dan Sammy melintasi Kabupaten Batang.
Pelari asal Prancis, Jerry, mengaku terkesan dengan sambutan hangat masyarakat Batang. Menurut dia, sambutan di Batang menjadi yang paling meriah sepanjang perjalanannya.
“Ini luar biasa, mungkin yang paling ramai. Ada lebih dari 100 pelari, bahkan Pak Bupati dan Ibu ikut langsung. Biasanya kami lari sendiri dan cukup sepi, tetapi di sini penuh semangat,” ungkapnya.
Meski mengapresiasi sambutan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang dan warga setempat, Jerry juga memberi catatan mengenai kondisi lingkungan di sepanjang jalur Pantai Utara (Pantura).
Baca juga: Riset BRIN Ungkap 65,8 Persen Pantura Jawa Terkikis Erosi, Ini Faktor Pemicunya
Saat melintasi Batang, ia melihat tumpukan sampah setinggi sekitar lima meter di beberapa titik yang berisiko masuk ke aliran sungai. Namun, kondisi sungai di Batang dinilai relatif lebih baik dibandingkan daerah lain yang telah dilalui.
"Tentu kami tertarik dengan Batang, apalagi melihat semangat pemimpinnya. Akan tetapi, untuk saat ini, kami masih memetakan daerah yang paling membutuhkan," ujar Jerry.
Perjalanan Run for Rivers yang telah memasuki hari ke-40 itu membawa misi besar. Hingga saat ini, donasi yang terkumpul mencapai Rp 1,8 miliar dari target Rp 16 miliar.
Dana tersebut akan dialokasikan untuk membangun stasiun pemilahan sampah di Jawa Timur (Jatim), Jawa Tengah (Jateng), dan Jawa Barat (Jabar). Selain itu, dana juga digunakan untuk memasang 110 jaring penahan sampah di sejumlah sungai strategis.
Aksi lari pagi itu membuktikan bahwa persoalan lingkungan bukan hanya tanggung jawab satu pihak. Melalui kolaborasi lintas negara dan semangat masyarakat, harapan untuk melihat sungai bersih kembali terbuka.
Baca juga: Upaya DLH Solo Atasi Banjir Luapan Sungai Jenes, Pasang Jaring Sampah hingga CCTV
Pada kesempatan tersebut, Faiz menegaskan komitmen Pemkab Batang untuk mengatasi isu sampah dan tidak membiarkannya sekadar menjadi slogan di atas kertas.
"Kami berharap (aksi) ini tidak hanya menjadi kegiatan lari atau kampanye, tetapi juga menjadi komitmen bersama. (Pasalnya), kampanye tanpa aksi nyata di lapangan akan (berakhir) sia-sia," tuturnya.
Faiz menekankan bahwa kunci utama penanganan sampah terletak pada ketersediaan infrastruktur yang memadai. Saat ini, Pemkab Batang tengah memproses lelang Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di Sentul.
Baca juga: Sosialisasikan Proyek PJU, Pemkab Batang Siap Terangi 90 Persen Wilayah pada 2027
"Kalau di sana sudah terbangun, kami akan mulai di empat kecamatan untuk (menerapkan sistem) zero sampah. Kami mulai dari hulunya, dari pemilahan di masyarakat sampai manajemen di tingkat desa dan kecamatan," jelas Faiz.
Selain itu, tiga titik tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS 3R) baru di Pasekaran, Kauman, dan area Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Batang juga tengah disiapkan.
Fasilitas tersebut diharapkan dapat menghilangkan pemandangan sampah di pinggir jalan kota.