Petani yang Menoleh ke Laut

Kompas.com - Jumat, 1 November 2013
Petani yang Menoleh ke LautKOMPAS/HENDRA A SETYAWANSeorang juru masak membuat pesanan masakan di Restoran Apong, Makassar, Sulawesi Selatan.

MASA perdagangan di tanah Bugis-Makassar telah bersemi jauh sebelum kerajaan kembar Gowa-Tallo (Kerajaan Makassar) tampil sebagai kekuatan dominan dan hegemonik di dunia perniagaan maritim Nusantara abad ke-17. Meskipun Sulawesi Selatan hingga abad ke-14 dan ke-15 belum termasuk dalam lima jaringan perdagangan Asia Tenggara (jaringan Teluk Bengal, Selat Malaka, Laut China Selatan, Laut Sulu, dan Jawa), Pelabuhan Siang di Pangkajene telah menarik minat sejumlah pedagang Jawa dan Melayu.

Pelaut asing Antonio de Paiva yang berkunjung ke Siang tahun 1542 mencatat, pedagang Melayu telah menetap di Siang tahun 1490 untuk berniaga (Edward, 2002). Selain Siang, Tallo juga telah berkembang sebagai bandar niaga.

Kerajaan itu juga aktif mencari komoditas di luar pulau. Pada saat Raja Tunilabu ri Suriwa memerintah Tallo sekitar tahun 1490-an, ia memerintahkan pelayaran niaga ke Banda, Jawa, dan Malaka. Dia juga berusaha menduduki Flores, tetapi gagal (Edward, 2002).

Bandar-bandar niaga itu kian berkembang setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis. Peristiwa itu mendorong para pedagang dan pelaut mencari jalur pelayaran dan koloni baru yang strategis. Dan, mereka mendapatkannya di Siang serta Makassar.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN Kepiting Apong.
Dari sisi lokasi, Makassar letaknya amat strategis, yakni tepat di tengah dunia perdagangan. Di sebelah utara ada jaringan perdagangan Laut Sulu, di selatan dan timur ada jaringan perdagangan Laut Jawa, di barat ada jaringan perdagangan Laut China Selatan, Selat Malaka, dan Teluk Bengal. Pantai-pantainya secara alami juga terlindung dari angin kencang.

Sadar akan lokasi Makassar yang sedemikian strategis, Raja Gowa ke-9, Karaeng Tumparissi Kalonna (1510-1546), mulai menoleh ke laut. Ia mengubah kebijakan pendahulunya yang semula berorientasi pada kehidupan agraris menjadi berorientasi pada perniagaan maritim.

Untuk mewujudkan visinya, ia memindahkan istana dan pusat pemerintahan dari Tamalate ke Benteng Sombaopu di dekat muara Sungai Jeneberang. Selanjutnya Sombaopu dijadikan bandar niaga kerajaan. Dari sinilah awal keterlibatan Gowa dalam dunia perdagangan maritim.

Apa yang dilakukan Raja Gowa itu mudah dipahami. Alfred Thayer Mahan, ahli yang membahas pengaruh laut terhadap sejarah, mengatakan, apabila pantai suatu negeri memungkinkan orang turun ke laut, negeri itu akan bergairah mencari hubungan ke luar untuk berdagang. Terlebih, Makassar dan daerah-daerah taklukannya memiliki komoditas andalan, yakni beras.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN Ikan kudu-kudu goreng dan aneka sambal.
Perdagangan maritim benar-benar menjadi godaan besar buat orang Bugis-Makassar yang penduduknya mayoritas petani, pekebun, dan nelayan pantai untuk terjun ke laut sebagai pedagang antarpulau. Tidak perlu waktu lama, pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17, Makassar telah menjelma menjadi pelabuhan yang ramai dan sangat penting. Pelabuhan itu menghubungkan jaringan perdagangan di barat (Malaka), utara (Sulu), barat-selatan (Jawa), dan timur (Maluku). Pedagang dari seluruh Nusantara, China, India, dan Eropa tumplek blek di Makassar. Mereka bahkan mendirikan perwakilan dagang dan rumah ibadah di sana.

Pedagang Makassar sendiri memainkan peranan yang amat penting, yakni sebagai perantara perdagangan rempah dari Maluku dan kayu cendana dari Timor. Van der Chijs mencatat, setiap tahun pedagang Makassar memasok beras, pakaian, dan segala sesuatu yang disenangi di Banda demi mengumpulkan pala sebanyak-banyaknya (Edward, 2002). Rempah itu selanjutnya dijual kepada para pedagang yang berniaga di Makassar.

Komoditas lain yang sangat penting dan dikuasai pedagang Bugis-Makassar adalah beras. Kebutuhan beras di Maluku dan Malaka sebagian besar dipasok dari Makassar. Perdagangan beras demikian menguntungkan sehingga sejumlah penguasa Makassar membuat kebijakan surplus beras untuk ekspor. Anthony Reid menyebutkan, itulah kebijakan surplus beras pertama yang diorientasikan untuk ekspor.

Kebijakan itu antara lain diterapkan Raja Tallo Karaeng Matoaya di daerah taklukan yang kaya beras seperti Maros. Van Der Hagen seperti dikutip Anthony Reid (2011) menuliskan, pada 1606 di setiap kota dan pasar, raja mendirikan lumbung-lumbung beras yang isinya baru boleh dijual setelah ada hasil panen baru. Langkah itu untuk mencegah kekurangan pangan di saat paceklik.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN Steak Ikan Escolar.
Raja ketika itu juga bertindak sebagai pedagang beras. Ia menjual surplus beras untuk mendapatkan rempah-rempah dari Maluku yang mahal. Hal yang sama dilakukan Raja Gowa dan sejumlah bangsawan Makassar lainnya. Beras antara lain diekspor ke pedagang Inggris. Jumlahnya setahun bisa 450 ton. Pada masa-masa puncak kejayaan Makassar, keseluruhan beras yang diekspor lebih dari 1.000 ton per tahun (Reid, 2011).

Zaman berganti, Kerajaan Makassar takluk kepada VOC tahun 1667. Kejayaan Makassar dalam perdagangan maritim di Nusantara pun surut. VOC kemudian membuat kebijakan monopoli rempah dari Maluku dan memajaki perdagangan beras. Namun, bukan berarti tradisi perdagangan maritim yang dilakoni pedagang Bugis-Makassar mati.

Mereka bergeser ke Singapura yang telah menjadi bandar niaga baru nan ramai di bawah kekuasaan Inggris. Sebagian mencari lokasi berniaga baru seperti Jailolo, Banjarmasin, Johor, Pahang, Papua, Surabaya, Semarang, hingga Australia.

Jejak perniagaan maritim hingga sekarang masih berbekas. Tengoklah Pelabuhan Rakyat Paotere, Makassar, beberapa kapal kayu milik saudagar Bugis-Makassar hilir mudik membawa komoditas antarpulau. Hanya saja, komoditas yang mereka dagangkan tidak lagi didominasi beras, tetapi semen. (Budi Suwarna dan Aswin Rizal Harahap)

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN Sikaporo

EditorI Made Asdhiana
SumberKOMPAS CETAK
Komentar
Terkini Lainnya
Perjuangkan Nasib GTT Jateng, Ganjar Temui Jokowi
Perjuangkan Nasib GTT Jateng, Ganjar Temui Jokowi
jawa tengah
Gara-Gara Ganjar, Tempe Kaleng Magelang
Gara-Gara Ganjar, Tempe Kaleng Magelang "Go Internasional"
jawa tengah
Obligasi Daerah, Alternatif Pembiayaan Percepatan Pembangunan di Jateng
Obligasi Daerah, Alternatif Pembiayaan Percepatan Pembangunan di Jateng
jawa tengah
Hibur Pengungsi, Ganjar Ajak Nenek-Nenek Nyanyi Lagu Garuda Pancasila
Hibur Pengungsi, Ganjar Ajak Nenek-Nenek Nyanyi Lagu Garuda Pancasila
jawa tengah
Kondisi Jalan Sudah Mulus, Ganjar Kurangi Jatah Anggaran Infrastruktur
Kondisi Jalan Sudah Mulus, Ganjar Kurangi Jatah Anggaran Infrastruktur
jawa tengah
Ganjar dan Ratusan PKL Bersih-bersih Sungai di Demak
Ganjar dan Ratusan PKL Bersih-bersih Sungai di Demak
jawa tengah
Ganjar: Bangsa Kita Bangsa Tempe...
Ganjar: Bangsa Kita Bangsa Tempe...
jawa tengah
Di Grobogan, Gubernur Ganjar Tiba-tiba
Di Grobogan, Gubernur Ganjar Tiba-tiba "Ditodong" Jadi Saksi Nikah Warga Desa
jawa tengah
Ganjar Terpukau Pemanfaatan Gas Rawa Warga Rejek Grobogan
Ganjar Terpukau Pemanfaatan Gas Rawa Warga Rejek Grobogan
jawa tengah
Ini Harapan Ganjar agar Klaten Bangkit dari Keterpurukan
Ini Harapan Ganjar agar Klaten Bangkit dari Keterpurukan
jawa tengah
Ganjar Pastikan Cari Data di Pemprov Jateng Tak Lagi
Ganjar Pastikan Cari Data di Pemprov Jateng Tak Lagi "Nyebelin"
jawa tengah
Ganjar Pranowo Ingin Sedekah Turonggo Jadi “Event” Pariwisata Tahunan
Ganjar Pranowo Ingin Sedekah Turonggo Jadi “Event” Pariwisata Tahunan
jawa tengah
Minta Jalan Dilebarkan, Ganjar Justru Usulkan Warga Posong Mengojek
Minta Jalan Dilebarkan, Ganjar Justru Usulkan Warga Posong Mengojek
jawa tengah
Wisatawan Jepang Suka Jalan Batu, Ganjar Usulkan Warga Posong
Wisatawan Jepang Suka Jalan Batu, Ganjar Usulkan Warga Posong "Ngojek"
jawa tengah
Disebut Kandidat Terkuat, Ganjar Tetap Merendah
Disebut Kandidat Terkuat, Ganjar Tetap Merendah
jawa tengah